Dewan Pertahanan Xiao dan Operasi Kumis Misterius
Bab 9:
Pagi berikutnya, SMA Masa Depan kembali menyambut kedatangan badai bernama Yueyue. Di atas Kawasaki Ninja hitamnya, Yangya berusaha tetap fokus berkendara meskipun penumpangnya di belakang sedang sibuk melakukan eksperimen sosial.
"Yangya! Coba cium deh, rambutku masih bau donat nggak?" teriak Yueyue sambil menyodorkan kepalanya ke arah helm Yangya.
"Yue! Aku lagi bawa motor, bukan lagi jadi juri lomba parfum!" balas Yangya panik saat motornya sedikit oleng. "Lagipula, bau tepung terigu itu lebih baik daripada bau keringat Mr. Ogawa kalau lagi marah, kan?"
"Iya sih. Tapi gara-gara kejadian kemarin, aku jadi trauma sama paha ayam. Setiap lihat ayam, aku ngerasa mereka mau taburin terigu ke muka aku," gumam Yueyue dramatis.
***
Sementara itu di kediaman Xiao, "Dewan Pertahanan Xiao" langsung berkumpul di ruang kerja Yifan. Kaikai dan QiaoMu sudah duduk manis di sofa, menyesap kopi mahal sambil menatap Yifan dan Feng yang wajahnya lebih kusut daripada benang layangan.
"Jadi," Yifan membuka pembicaraan dengan nada dingin yang bisa membekukan air, "Kejadian kemarin di festival benar-benar di luar nalar. Linxi melaporkan ada 'Kambing Gunung Berkumis' yang menyerang mereka dengan drone terigu."
Kaikai membetulkan posisi duduknya. Sebagai sahabat karib Linxi, dia merasa perlu memberikan kesaksian. "Linxi cerita padaku semalam. Dia masih syok, Kak. Katanya jas sage green kesayangannya sekarang lebih mirip adonan pisang goreng. Aku kenal Linxi luar dalam—kami kan sudah bersahabat sejak lama—dia itu orangnya sangat lurus. Kalau dia bilang ada pria kumis yang terbang dari balik papan iklan, berarti itu benar-benar terjadi."
"Itu dia!" Feng menyambar dengan semangat. "Kaikai, QiaoMu, kalian kan satu circle sama Linxi. Kalian pasti tahu kan kalau dia nggak punya musuh bebuyutan yang hobi mainan tepung? Jangan-jangan ini musuh bisnis keluarga mereka?"
QiaoMu, yang biasanya puitis, kali ini terlihat sangat waspada. "Linxi itu sahabat kami, dan sejauh yang kami tahu, musuhnya paling cuma kompetitor tender. Tapi pria berkumis ini... auranya beda. Dia seperti pengganggu profesional yang punya dendam pribadi pada 'romantisme'."
Yifan mengetukkan jarinya ke meja. "Linxi memang orang baik, kalian sudah menjaminnya sejak awal kalian membawanya ke rumah ini. Kami merasa lega karena silsilahnya jelas dan dia teman kalian. Tapi tetap saja, Yueyue itu masih kecil! Dia belum boleh terlalu dekat dengan pria mana pun, termasuk sahabat kalian itu."
"Setuju!" sahut Feng. "Lampu kuning untuk Linxi. Dia boleh mendekat, tapi kalau sampai Yueyue pulang bawa tepung lagi, Linxi juga bakal kita tepungin!"
Kaikai mengangguk paham. "Tenang, Kak Yifan. Aku dan QiaoMu akan jadi garda terdepan. Karena Linxi sahabat kami, kami yang akan paling sering menginterogasi dia soal niatnya pada Meimei. Tapi untuk si Kambing Gunung itu... aku akan minta kenalanku di jaringan agen rahasia untuk melacak siapa sebenarnya pria berkumis palsu itu."
"Gunakan semua koneksi kalian," perintah Yifan tegas. "Aku tidak suka ada variabel tak dikenal yang berkeliaran di sekitar adikku. Kalau Linxi adalah variabel yang bisa kita pantau, maka si pria kumis ini adalah 'bom waktu' yang harus kita jinakkan."
QiaoMu tersenyum tipis, matanya menatap ke arah luar jendela. "Tenang saja, Kak. Siapa pun yang berani mengusik ketenangan Meimei, mereka harus melewati barisan para kakak yang protektif ini dulu. Dan percayalah, kami jauh lebih berbahaya daripada ujian matematika Mr. Ogawa."
“Nah, sekarang soal si ‘Mas-mas Belek’ itu,” Feng memotong pembicaraan, matanya menatap QiaoMu. “Linxi bilang ada pria lain yang ikut campur juga. Siapa dia sebenarnya? Kok bisa-bisanya yang katanya artis papan atas nongkrong di Festival Kuliner Cuma buat rebutan paha ayam sama adik kita?”
QiaoMu mengeluarkan tabletnya, menggeser beberapa slide data yang sudah ia kumpulkan sejak pagi buta. “Itu dia yang menarik. Namanya Huahai, pewaris tunggal Keluarga Huai. Kalian tahu kan, Keluarga Huai? Salah satu dari tiga pilar terkaya di kota ini. Secara finansial, dia bisa membeli satu festival kuliner beserta seluruh stok ayamnya sekaligus.”
Kaikai bersiul pelan. “Oh, si Huahai itu? Aku pernah dengar. Katanya dia jadi artis drama karena bosan jadi orang kaya. Dia itu bintang utama drama ‘Cinta di Balik Pagar’ yang episode-nya sampai ratusan itu, kan?”
“Tepat,” jawab QiaoMu dengan nada serius. “Dia idola nasional. Fans perempuannya militan, fanatik, dan ada di mana-mana. Masalahnya, Huahai ini tipe orang yang kalau sudah mau sesuatu, dia harus dapat. Dan sekarang, ‘sesuatu’ itu sepertinya adalah Meimei kita. Dia sedang dalam masa ‘gabut’ sebelum resmi mewarisi takhta perusahaan Huai, jadi dia punya banyak waktu luang untuk melakukan hal-hal konyol.”
Yifan memijat pangkal hidungnya, merasa kepalanya semakin berdenyut. “Satu sahabat kalian yang bertingkah seperti termos, satu pria berkumis yang nyamar jadi kambing gunung, dan sekarang satu pewaris takhta yang menyamar jadi artis drama? Apa adikku ini sedang magnet untuk orang-orang bermasalah?”
“Tenang, Kak Yifan,” Kaikai mencoba menenangkan. “Meskipun Huahai itu kaya raya dan terkenal, dia tetap punya kelemahan: dia sangat peduli pada citra. Dia tidak akan berani macam-macam secara terang-terangan karena takut pada skandal. Tapi kita tetap harus waspada, karena fansnya yang fanatik itu bisa jadi ancaman buat privasi Yueyue.”
“Benar,” tambah Feng sambil menyeringai licik. “Kalau si Huahai ini berani macam-macam, kita tinggal bocorkan saja foto dia pas mukanya penuh tepung kemarin ke media. Pasti rating dramanya langsung anjlok!”
Yifan mengangguk setuju. “Kaikai, pastikan pergerakan Huahai dipantau. QiaoMu, tetap cari tahu siapa pria berkumis itu. Linxi boleh kita beri sedikit ruang karena dia sahabat kalian, tapi dua orang lainnya ini adalah target utama radar kita. Jangan sampai ada yang menyentuh Yueyue tanpa melewati pemeriksaan sepuluh lapis dari kita.”
QiaoMu menutup tabletnya dengan suara klik yang mantap. “Dewan Pertahanan Xiao resmi beroperasi penuh. Kita akan pastikan SMA Masa Depan tetap steril dari gangguan para pria ‘berbahaya’ ini. Meimei Xiao hanya boleh fokus pada belajar, makan ayam, dan mengganggu kita. Itu saja.”
Rapat pagi itu pun berakhir dengan kesepakatan bulat: Linxi dipantau, Huahai diawasi, dan Pria Berkumis diburu. Sementara itu, di sekolah, Yueyue baru saja bersin tiga kali berturut-turut.
“Aduh, Yangya... kayaknya ada yang lagi ngomongin aku deh. Pasti Kak Yifan lagi ngerencanain buat motong uang jajanku lagi!” keluh Yueyue sambil merapikan kotak bekal pink-nya.
***
Di sudut kota yang remang, tepatnya di dalam markas rahasia yang lebih mirip toko barang antik gagal, Mufan sedang duduk di kursi kebesarannya sambil menyesap kopi hitam—berusaha mengembalikan harga dirinya yang runtuh bersama kumis palsunya kemarin.
“Bos, gawat Bos! Radar telinga kita di Kediaman Xiao lagi panas-panasnya. Sepertinya para Singa Penjaga itu lagi bikin konferensi meja bundar buat ngebahas Bos,” lapor Gembul sambil memakai headphone kebesaran yang menutupi separuh wajahnya.
Gembul menunjuk ke arah layar monitor yang menampilkan grafik gelombang suara. Rupanya, beberapa hari lalu saat menyamar menjadi tukang reparasi AC gadungan, Gembul dengan sangat cekatan menempelkan alat penyadap super tipis di balik dekorasi plafon ruang kerja Yifan.
“Dengerin deh Bos, si Kakak Serius Yifan itu nyebut Bos sebagai ‘Kambing Gunung Berkumis’. Terus si Kakak Gamer Feng malah bilang Bos itu ‘Ancaman Level Merah’. Wah, Bos... kayaknya reputasi Bos naik kelas dari penjahat kelas teri jadi penjahat kelas kakap di mata mereka!” Gembul terkekeh sampai perutnya berguncang.
Mufan meremas cangkir kopinya. “Kambing gunung? Mereka pikir aku ini hewan ternak apa? Dan apa-apaan si QiaoMu itu, berani-beraninya mau melacak struktur rahangku lewat algoritma IT!”
“Nah itu dia Bos masalahnya,” Gembul menyela sambil mengunyah keripik kentang yang bunyinya ikut terdengar di alat penyadap. “Mereka sekarang lagi ngerahin Kaikai sama QiaoMu buat nyari tahu siapa Bos sebenernya. Kalau mereka tahu Bos ini pewaris takhta organisasi bawah tanah, bisa-bisa Nona Gemoy langsung dikunci di dalam brankas baja!”
Mufan terdiam sejenak. Otaknya yang cerdik mulai berputar. Dia tidak boleh membiarkan identitas aslinya terungkap, tapi dia juga tidak bisa berhenti memantau Yueyue dari dekat.
“Gembul, kita ganti strategi,” ucap Mufan dengan senyum licik yang perlahan muncul. “Biarkan mereka mencari. Kita akan kasih mereka makan informasi palsu. Kalau mereka nyari Bos Mafia, mereka nggak akan nemu apa-apa.”
“Maksudnya Bos?”
“Mulai hari ini, hapus semua jejak mewah kita. Kalau aku muncul di depan mereka atau di radar mereka, aku bukan Mufan si penguasa bayangan. Aku Cuma... Mufan, pengangguran abadi yang gabut.”
Gembul melongo. “Hah? Jadi preman jalanan yang kerjanya Cuma nongkrong di lampu merah sambil main gitar patah, Bos?”
“Lebih dari itu,” sahut Mufan sambil melepas jas hitam mahalnya. “Aku akan jadi preman jalanan yang nggak punya masa depan, yang hobinya Cuma keliling nyari diskonan paha ayam dan kebetulan selalu lewat di depan rumah mereka karena nggak punya kerjaan. Biar mereka pikir aku Cuma orang aneh yang nggak punya daya rusak. Orang nggak akan waspada sama ‘sampah masyarakat’, kan?”
Gembul langsung memberi hormat dengan sisa bumbu keripik di jarinya. “Siap, Bos! Jadi rencana ‘Bos Mafia’ resmi pensiun sementara, diganti sama rencana ‘Operasi Preman Gabut’. Nanti saya beliin kaos dalam yang bolong-bolong sama sarung buat Bos biar lebih meyakinkan!”
“Nggak usah sampai segitunya, Gembul!” bentak Mufan. “Cukup terlihat berantakan saja!”
Mufan kembali menatap layar monitor. Di sana, terdengar suara Yueyue dari kejauhan yang sedang merengek minta dibelikan es krim lewat telepon ke Feng. Mufan mengelus dagunya yang sekarang sudah bersih dari kumis palsu.
“Silakan selidiki aku, para Kakak Xiao. Tapi kalian hanya akan menemukan seorang pria yang terlalu malas untuk jadi jahat,” gumam Mufan pelan.
“Tapi Bos,” celetuk Gembul lagi, “nanti kalau Nona Gemoy tanya kenapa Bos jadi gembel, mau jawab apa?”
Mufan terdiam. “Jawab saja... ini fashion terbaru dari Paris.”
To be Continued






























































