Aliansi Darurat dan Protokol Pembobolan Ardhaka
Bab 13
Bunyi derit ban yang bergesekan kasar dengan tanah waduk memecah keheningan. Sebuah van hitam antipeluru berlogo samaran perusahaan ekspedisi berhenti tepat di depan Mufan yang sedang menekan luka di pelipisnya dengan kaos oblongnya yang sudah koyak.
Pintu geser van terbuka otomatis. Di dalamnya, suasana mirip kabin pesawat tempur. QiaoMu duduk di depan tiga monitor portabel, Feng sedang memasang body armor (rompi antipeluru) dengan wajah yang tidak lagi jenaka, sementara Yifan duduk di tengah dengan aura sedingin algojo.
"Naik," perintah Yifan pendek. Suaranya tidak membentak, tapi getarannya membuat Gembul refleks ikut melompat masuk ke dalam van sambil memeluk joran pancingnya yang patah.
Mufan duduk di hadapan Yifan. Dua penerus takhta dari dunia yang berbeda itu saling tatap. Atmosfer di dalam van langsung drop ke titik beku.
"Jadi, 'Kambing Gunung Berkumis' kita ternyata seorang Ardhaka," desis Feng sambil mengokang sebuah stun gun taktis level militer. "Pantas saja adikku bilang bantal gulingnya semalam rasanya kayak tembok beton. Kau menyusup ke kamarnya, hah?!"
"Kalau aku mau mencelakainya, aku tidak akan repot-repot menelepon kalian," balas Mufan dengan suara berat yang tak kalah tajam. Ia menatap QiaoMu. "Buka peta satelit koordinat 6.12^\circ\text{ S, } 106.85^\circ\text{ E}. Kediaman Utama Ardhaka dilindungi oleh tiga lapis pagar listrik dengan enkripsi frekuensi yang berubah setiap 60 detik. Itu adalah Protokol Aegis."
QiaoMu mendengus, jemarinya mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan tidak manusiawi. "Protokol Aegis? Enkripsi dinamis berbasis algoritma prime? Di hadapan sistemku, itu cuma seperti teka-teki silang anak SD. Aku butuh waktu tiga menit untuk mematikan arusnya."
"Kau punya waktu dua menit, Profesor IT," potong Mufan. "Kakekku tidak akan membuang waktu. Dia punya alat pemindai resonansi elektromagnetik. Jika dia berhasil memaksa kalung Yueyue melepaskan kunci data Azure, naga tua itu akan menyingkirkan Yueyue karena dianggap sudah tidak berguna."
Mendengar kata 'menyingkirkan', rahang Yifan mengeras. Ia mengeluarkan sebuah belati taktis dari balik jasnya. "Linxi dan Kaikai sedang menggerakkan unit hukum untuk memblokir jalur udara perimeter Ardhaka. Aktor Belek itu bahkan mengerahkan ratusan fans militannya untuk pura-pura demonstrasi di gerbang depan sebagai pengalihan isu. Kita masuk lewat jalur bawah."
Mufan menggeleng. "Jalur bawah tanah sudah dipasangi sensor seismik. Kalau tanah bergetar sedikit saja karena langkah kaki boot militer kalian, senapan mesin otomatis di halaman akan langsung menembak buta. Kita lewat atas."
"Atas?" Feng melongo. "Mau terjun payung? Yang benar saja!"
"Jalur ducting AC sentral," jawab Mufan, matanya menyala. "Waktu aku nyamar jadi tukang AC di rumah kalian, aku tidak cuma memasang sadapan. Aku juga merancang cetak biru replika sistem ventilasi Ardhaka di laptop Gembul. Diameter pipa ventilasi mereka cukup luas untuk dilewati manusia. Tapi..." Mufan melirik Feng, lalu beralih ke Gembul. "...hanya untuk ukuran tubuh normal. Tubuh Gembul jelas akan tersangkut di belokan pertama."
"Waduh Bos, saya di sini jadi tim hore sama bagian doa saja kalau begitu!" sahut Gembul panik.
"Feng, kau ikut aku lewat ducting," perintah Yifan tegas. "QiaoMu, kau tetap di van sebagai mata dan telinga kami. Mufan... kau yang tahu seluk-beluk rumah itu. Pimpin di depan. Jika ini jebakan untuk menjebak keluarga Xiao..." Yifan mengarahkan ujung belatinya beberapa senti di depan tenggorokan Mufan, "...kau yang akan mati pertama kali."
Mufan bahkan tidak berkedip. "Sepakat."
***
Sementara itu, di dalam aula bawah tanah Kediaman Utama Ardhaka yang megah namun dingin, Yueyue perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa sangat berat, dan aroma obat bius masih tertinggal di indra penciumannya.
Ia mendapati dirinya terikat di sebuah kursi besi elektronis. Di sekelilingnya, lampu-lampu indikator laboratorium mini menyala merah. Di depannya, berdiri seorang pria tua berambut putih keperakan dengan tongkat berkepala naga emas. Wira Ardhaka.
"Kau sudah bangun, Nona Muda Xiao," suara Wira menggema, dingin dan berwibawa.
Yueyue mengerjap-ngerjap. Ia melihat sekeliling, lalu menatap kalung peraknya yang kini dipasangi sebuah klip kabel optik yang terhubung ke komputer besar. Bukannya menangis atau menjerit ketakutan, Yueyue malah mengendus udara, lalu mengerucutkan bibir.
"Aduh, Kakek..." keluh Yueyue dengan suara serak khas bangun tidur. "Kalian kalau mau culik orang minimal modal ventilasi yang bener dong. Ini ruangannya bau pengap, bau minyak kayu putih, sama... bau kakek-kakek banget. Aku pusing tahu!"
Para pengawal berjas hitam yang berdiri di sudut ruangan langsung saling pandang, menahan napas. Belum pernah ada sandera yang berani mengomentari bau badan sang naga tua Black Dragon.
Wira Ardhaka sedikit tertegun, namun ia segera menguasai emosinya. Ia mengetukkan tongkatnya ke lantai dengan keras. Duk! "Kau tidak tahu sedang berada di mana, anak kecil? Di dalam kalungmu itu ada Protokol Azure—kunci yang bisa mengendalikan setengah dari aset teknologi dunia. Dan hari ini, aku akan mengambilnya."
"Ambil aja kalau bisa!" tantang Yueyue kesal, pipinya menggembung. "Tapi lepasin dulu ikatan talinya! Tangan aku gatal tahu! Lagian, gara-gara anak buah Kakek yang judes-judes itu, paha ayam bakar madu aku jatuh ke tanah sembarangan. Pamali tahu buang-buang makanan! Kakek nggak pernah diajarin sopan santun ya sama orang tuanya?"
Wira Ardhaka menyipitkan matanya, menatap Yueyue dengan pandangan menyelidik. "Kau... benar-benar persis seperti nenekmu. Keras kepala dan tidak tahu takut." Pria tua itu berbalik menghadap layar komputer. "Aktifkan pemindai resonansi tingkat tinggi. Paksa enkripsi kalungnya terbuka!"
Bzzzzzt!
Lampu di ruangan itu mendadak meredup saat mesin pemindai mulai mengirimkan gelombang kejut magnetik ke arah kalung perak Yueyue. Kalung itu mulai memancarkan cahaya biru neon yang terang, membuat Yueyue mulai merasa dadanya sedikit sesak.
Tepat pada detik itu, dari langit-langit aula, terdengar bunyi KREK yang sangat keras.
BRAAAKKK!
Tutup ventilasi AC raksasa hancur berantakan, jatuh menghantam meja laboratorium. Di tengah kepulan debu, tiga sosok melompat turun dengan sangat dramatis.
Mufan Ardhaka mendarat paling depan dengan jaket robeknya, disusul Yifan yang langsung menghunus belati, dan Feng yang mendarat dengan posisi agak goyah karena pantatnya sempat membentur pinggiran pipa AC.
"Waduh, jalurnya sempit banget! Kulit mulusku lecet semua!" gerutu Feng sambil buru-buru berdiri dan mengacungkan stun gun-nya ke arah pengawal.
Yueyue yang melihat itu langsung berteriak gembira dari kursinya, "MAS TUKANG AC! KAK YIFAN! KAK FENG! HOREEE! BAWA AYAM GORENG LAGI NGGAK?!"
Mufan berdiri tegap di depan kursi Yueyue, membelakangi gadis itu untuk menjadikannya perisai hidup. Matanya menatap langsung ke arah kakeknya sendiri dengan tatapan memberontak.
"Kek, permainan selesai," desis Mufan, suaranya menggema penuh otoritas. "Lepaskan dia."
Wira Ardhaka berbalik perlahan, senyum licik tersungging di wajah keriputnya. "Mufan... kau membawa musuh ke dalam rumahmu sendiri hanya demi seorang gadis? Sungguh mengecewakan."
Di luar, melalui earpiece Mufan, suara QiaoMu terdengar berteriak panik dari van, "Mufan! Yifan! Sialan, sistem Aegis mereka mengunci otomatis dari dalam! Pintu aula bawah tanah menutup! Kalian terjebak di dalam bersama seluruh pasukan elit Black Dragon!"
Pintu baja setebal 30 senti di belakang mereka mendesing, menutup rapat dengan bunyi KLIK yang mematikan. Mereka resmi terkurung di sarang naga.
“Tangkap mereka. Jangan biarkan ada yang keluar hidup-hidup,” perintah Wira Ardhaka dingin kepada belasan pengawal elitnya.
Sebelum Yifan atau Mufan sempat menerjang maju, Wira Ardhaka dengan cepat mengeluarkan sebuah gunting laser taktis berukuran kecil dari sakunya. Hanya dengan satu gerakan cepat, Ckiitt! Tali kalung perak di leher Yueyue terpotong.
“Eh! Kalungku!” jerit Yueyue.
Wira Ardhaka menyambar kalung itu, lalu melangkah mundur ke balik dinding marmer yang tiba-tiba bergeser terbuka—sebuah lift evakuasi hidrolik raksasa yang langsung menuju ke helipad pribadi di atap gedung. Dua anak buah kepercayaannya yang bertubuh raksasa langsung masuk mengawal sang naga tua, sementara sisa pasukan Black Dragon maju menyerbu untuk menahan pergerakan Mufan dan para Kakak Xiao.
“Kek! Jangan lari!” raung Mufan. Ia mencoba mengejar, namun dua pengawal berjas hitam langsung menerjangnya dengan pukulan kombinasi tingkat tinggi.
Bugh! Bugh!
Mufan menangkis dengan lengan kirinya, lalu membalas dengan pukulan keras tepat ke arah ulu hati lawan hingga pria itu tersungkur. Di sebelahnya, Yifan bergerak seperti bayangan sedingin es. Belati taktisnya berkelebat cepat, melumpuhkan sendi-sendi gerakan musuh dengan efisiensi yang mematikan.
“Feng! Amankan Yueyue!” teriak Yifan di sela-sela pertarungan.
“Siap, Kak!” Feng melompat melewati meja laboratorium yang hancur. Ia mengarahkan stun gun militer miliknya ke arah dua pengawal yang mencoba mendekati kursi Yueyue. Tzzt-tzzt-tzzzt! Kilatan listrik biru menghantam dada para pengawal, membuat mereka kejang-kejang dan ambruk ke lantai.
“Kak Feng! Tangan aku masih diikat! Gatal tahu!” omel Yueyue di tengah hujan pukulan dan desingan alat elektronik yang pecah.
“Sabar, Yue! Kakak lagi pamer aksi keren dulu nih!” balas Feng sambil dengan cepat memotong tali pengikat Yueyue menggunakan pisau saku serbagunanya. Begitu bebas, Yueyue refleks langsung merangkak di bawah meja untuk menyelamatkan tas kucing lusuh yang dlihatnya tergeletak dari injakan sepatu bot para pengawal.
Sementara itu, dari earpiece yang terpasang di telinga Yifan, suara QiaoMu dari dalam van kembali berteriak panik, “Yifan! Sinyal GPS kalung Yueyue bergerak naik dengan kecepatan tinggi ke arah atap! Kakek Wira mau kabur pakai helikopter! Dan sialan, pasokan listrik ke ruang bawah tanah sengaja mereka putus! Tiga puluh detik lagi ruangan kalian bakal gelap total!”
“Mufan! Jalur ke atap?!” tanya Yifan tegas setelah menendang jatuh pengawal terakhir yang mencoba bangkit.
Mufan, yang pelipisnya kembali mengeluarkan darah segar akibat pertempuran barusan, menunjuk ke arah langit-langit dekat pipa AC yang hancur. “Ada tangga darurat manual di balik panel pemeliharaan udara. Itu satu-satunya jalur yang tidak terpengaruh oleh sistem penguncian Aegis! Tapi kita harus cepat sebelum baling-baling helikopternya berputar!”
Yueyue keluar dari bawah meja sambil memeluk tas kucing yang berdebu. “Mas Tukang AC, kakek kamu beneran jahat ya! Selain bau minyak kayu putih, dia juga pencuri perhiasan! Pokoknya kalung aku harus balik!”
Mufan menatap Yueyue sejenak, ada kilat rasa bersalah sekaligus tekad yang kuat di matanya. “Aku janji bakal balikin kalungmu, Yue. Yifan, bawa Yueyue lewat jalur tangga darurat. Aku dan Feng akan menahan sisa pasukan di koridor atas.”
“Nggak ada waktu buat bagi-bagi tugas, Ardhaka,” potong Yifan dingin sambil mengokang kembali senjatanya. “Kita naik bersama, atau kita habis bersama di sini.”
Di atas van ekspedisi yang terparkir jauh di luar pagar, Gembul sudah keringat dingin memegangi joran pancingnya. “Aduh Bos... ini kalau beneran helikopternya terbang, masa saya harus tembak pakai ketapel?!”
Pertempuran di dalam sarang naga baru saja dimulai, dan kali ini, taruhannya bukan lagi sekadar rahasia teknologi Azure, melainkan harga diri dua keluarga yang kini terpaksa bersatu di bawah kepulan asap dan kegelapan ruang bawah tanah Ardhaka.
To be continued




































































