inner child itu memang ada.
Dulu aku sering bingung waktu orang-orang bahas tentang inner child. Inner child adalah bagian diri kita yang menyimpan pengalaman, emosi, dan kebutuhan saat kecil, yang kadang masih kebawa sampai sekarang. Aku baru benar-benar "ngeh" soal ini setelah punya anak. Ada momen ketika aku antar jemput anak ke sekolah, lihat dia lari kecil sambil senyum, tiba-tiba aku kepikiran, "Dulu waktu kecil, aku nggak pernah dianter jemput begini." Orang tuaku sibuk, aku sering pulang sendiri. Bukan berarti mereka jahat, cuma waktu itu mungkin kondisinya memang begitu. Tapi ternyata, rasa sepi dan pengen diperhatiin itu masih kebawa sampai dewasa. Sekarang, setiap aku datang ke kegiatan sekolahnya, duduk di bangku paling belakang sambil lihat dia tampil, rasanya kayak dua hal terjadi sekaligus: aku jadi orang tua yang support anak, tapi di saat yang sama aku juga lagi nemenin versi kecil diriku yang dulu pengen banget ditemenin. Lewat anakku, aku seperti pelan-pelan memenuhi inner child-ku sendiri. Memenuhi inner child lewat anak bukan berarti menjadikan anak sebagai alat pelampiasan, ya. Buat aku, artinya lebih ke: sadar apa yang dulu aku butuhkan, lalu berusaha nggak mengulang pola yang sama ke anak. Misalnya, dulu aku sering dimarahin kalau nangis. Sekarang, kalau anakku nangis, aku coba dengerin dulu, validasi perasaannya, bilang kalau nggak apa-apa sedih. Di situ aku belajar memberi ruang pada emosi anak, sekaligus mengajarkan diriku sendiri kalau merasa sedih itu wajar. Ada juga momen sederhana kayak nemenin dia main, baca buku sebelum tidur, atau cuma duduk bareng tanpa main HP. Hal-hal kecil itu ternyata bikin aku tersentuh, karena dulu aku jarang banget dapat quality time seperti itu. Saat anakku tertawa, aku ngerasa ada bagian dalam diriku yang ikut lega dan hangat. Tapi aku juga pelan-pelan belajar untuk tetap punya batas sehat. Aku nggak mau semua luka masa kecilku dibebankan ke anak. Kalau aku sadar ada trigger dari masa lalu, aku coba ngobrol sama diri sendiri: "Ini masalahku, bukan salah anak." Kadang aku cari cara sehat buat menyembuhkan inner child, seperti journaling, ngobrol sama teman, atau belajar dari konten-konten tentang pengasuhan dan kesehatan mental. Jadi buat kamu yang mungkin lagi di fase yang sama, nggak apa-apa kalau baru sadar bahwa lewat anak, kamu juga sedang membahagiakan dirimu sendiri. Inner child adalah bagian dari diri kita yang pantas dipeluk, bukan diabaikan. Pelan-pelan aja, nikmati prosesnya. Setiap kali kamu hadir buat anakmu dengan lebih lembut, sebenarnya kamu juga sedang belajar hadir untuk dirimu yang dulu pernah merasa sendirian.






















































