Tulang Punggung
*Tulang Punggung*
Malam makin larut, tapi aspal remang-remang itu masih sepi. Rini merapatkan jaket tipisnya, menahan angin malam yang menusuk tulang.
Di dompetnya, uang tinggal dua puluh ribu—cukup buat beli beras setengah liter dan 2 bungkus Mie instan besok pagi. Dua adiknya masih harus bayar SPP, ibunya hanya buruh cuci yg hasilnya tak cukup buat hidup mereka ber-4. Bapaknya? Entah kemana sejak 5 tahun lalu.
Rini terpaksa jadi tulang punggung keluarga lewat jalanan sunyi ini.
Beberapa minggu terakhir, suasana makin mencekam. Desas-desus berhembus kencang di antara para pekerja malam: *teman-teman seprofesi banyak yang hilang misterius.* Nggak ada yang tahu kabarnya, tahu-tahu lenyap begitu saja setelah naik ke mobil tamu.
Rini sebenarnya ngeri, tapi perut lapar keluarganya, lebih menakutkan daripada pembunuh berantai.
Tiba-tiba, sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan wajah seorang pria berjas rapi dengan senyum yang terlalu lebar dan kaku.
"Malam, Mbak. Cari angin atau cari duit?, ayo masuk" sapa si pria dengan suara berat nan dingin.
Rini sempat ragu. Instingnya menjerit menyuruhnya lari. Tapi bayangan wajah ibunya dan adek2 nya, mengalahkan segalanya.
Rini membuka pintu dan masuk ke kursi penumpang.
Mobil melaju pelan, masuk ke area gelap dekat pabrik terbengkalai. Di tengah sunyi, Rini melirik ke dashboard dan jantungnya langsung copot. Di sana tergantung beberapa gelang dan karet rambut—milik teman malam nya, milik Siska, milik Lastri, yang dikabarkan hilang!
Rini gemetar hebat. Ia menoleh kaku ke arah pengemudi. Pria itu sudah tidak tersenyum. Kepalanya berputar pelan seratus delapan puluh derajat ke belakang, menatap Rini dengan mata kosong tanpa pupil.
"Giliran kamu, Rini..." bisik makhluk itu sambil mencengkeram leher Rini dengan cakar dingin yang mematikan...
#kontenhoror #ceritahoror #cerpenhoror #tulangpunggung #bismillahfyp















