Malam itu, delapan tahun lalu, Siti (hamil tujuh bulan) pamit ke Puskesmas. Tapi bmtak pernah pulang. Suaminya, Budi, nangis bombay tiap ada yg tanya kabar Siti.
Warga sekitar sih curiga, tapi tak pernah punya bukti.
Polisi angkat tangan karena Siti seperti ditelan bumi.
Usut punya usut, dalangnya si ibu mertua galak. Mertua benci punya menantu dari kampung yg yatim piatu, maunya Budi nikah sama Dewi—janda kaya pemilik usaha bengkel motor di jalan besar.
Singkat cerita, hari ini alat berat proyek apartemen di belakang halaman rumah Siti lagi garuk-garuk tanah. Tiba-tiba brugh! Ekskavator nyangkut.
Mandor kaget bukan kepalang waktu kerukan itu ngangkat tanah ada dua kerangka manusia: satu dewasa, dan satu lagi kerangka bayi mungil di dalam pelukannya.
Si mertua sebenarnya sering ketakutan apalagi setelah diguyur hujan deras. Pagi nya dia langsung merapikan gundukan tanah di situ.
Tapi tetap saja, si ekskavator menemukan Siti untuk dikebumikan dengan layak...
... Baca selengkapnyaCerita mengenai kehilangan dan penemuan seperti yang dialami Siti kerap menjadi cerita yang menyentuh sekaligus menegangkan dalam budaya kita. Pengalaman saya pernah mendengar kisah-kisah serupa dari tetangga yang juga melibatkan masalah keluarga dan perselisihan yang berujung tragedi memilukan. Dalam banyak kasus, keluarga memainkan peran penting dalam menentukan nasib seseorang, baik sebagai pelindung ataupun, sayangnya, sebagai penyebab malapetaka.
Kasus Siti ini mengingatkan saya untuk selalu waspada terhadap tanda-tanda kekerasan atau tekanan psikologis dalam rumah tangga dan lingkungan sekitar kita. Terkadang, masalah keluarga yang tersembunyi sangat sulit terungkap tanpa adanya perhatian lebih dari orang sekitar. Selain itu, penemuan kerangka manusia yang terkubur secara rahasia sering kali membuka kembali luka lama dan memberikan kesempatan bagi keadilan untuk ditegakkan.
Saya juga teringat bagaimana masyarakat lokal biasanya memiliki naluri sosial yang kuat, mereka sering curiga apabila sesuatu yang tidak beres terjadi di lingkungan mereka, meskipun tanpa bukti langsung. Hal ini penting untuk direspons dengan bijak agar tidak menimbulkan fitnah, tetapi juga tidak mengabaikan potensi adanya masalah serius yang membutuhkan perhatian pihak berwajib.
Bagi yang membaca kisah ini, semoga menjadi pengingat bahwa kita perlu peka terhadap tanda-tanda penderitaan orang lain dan berperan aktif dalam melindungi hak serta keselamatan mereka. Jangan sampai tragedi seperti Siti terulang kembali, dan setiap jiwa yang hilang mendapatkan keadilan serta penghormatan yang layak di dunia dan akhirat.
oh hanya sebuah cerpen.