Pria dan kesehatan mental
Fakta yang jarang disadari
1. Secara global, wanita dua kali lebih sering mengalami depresi dibanding pria.
2. Tapi angka b*n*h diri pada pria justru 2–3 kali lebih tinggi dibanding wanita (WHO, NIMH, 2023).
3. Gangguan ringan - sedang seperti kecemasan, depresi dan gangguan mood lainnya lebih didominasi oleh wanita.
4. Skizofrenia & gangguan psikotik berat cenderung lebih tinggi pada laki-laki, sekaligus masuk dalam kategori gangguan jiwa dengan angka rawat inap tertinggi dibanding gangguan jiwa lainnya.
Perbedaan ini bukan tentang “siapa lebih lemah”, "siapa yang lebih kuat", melainkan tentang bagaimana emosi ditampilkan, bagaimana orang mencari bantuan, dan bagaimana masyarakat merespons.
Mengapa hal itu terjadi?
1. Wanita lebih terbuka untuk mengekspresikan emosinya, bisa dengan menangis dan bercerita. Sementara pria lebih menahan atau memendam.
2. Wanita lebih berani mencari bantuan seperti ke tenaga profesional.
3. Stigma sosial. Curhatan dan tangisan wanita lebih diterima dan dianggap wajar, sedangkan pria dituntut untuk "kuat". Tidak boleh menangis.
Budaya sering mengajarkan bahwa
“Perempuan boleh menangis, laki-laki harus kuat. Pria tidak bercerita” Padahal, emosi bukan kelemahan itu bagian dari diri kita sebagai manusia.
Wanita lebih cepat terdeteksi dan tertolong ketika berada pada kondisi mental yang tidak stabil, sedangkan banyak pria tumbuh tanpa ruang aman untuk bercerita, sehingga rasa sakit berubah menjadi diam, lalu diam berubah menjadi putus asa, dan mereka datang ketika sudah terlambat. Bahkan tidak sedikit yang menyerah lalu "pergi dalam diam."
Apa yang bisa kita lakukan:
1. Ubah pemahaman kita tentang kekuatan. Kuat bukan berarti tak pernah sedih, tidak pernah menangis, tapi berani mengakui rasa sakit dan mencari pertolongan.
2. Normalisasi mencari bantuan dan memberi bantuan. Semua orang, termasuk pria, berhak mendapatkan pertolongan, berhak didengarkan, dan berhak divalidasi emosinya.
3. Kenali tanda bahaya:
- Menarik diri dari lingkungan
- Bicara soal kemati*n
- Kehilangan minat pada hal yang dulu disukai
4. Bangun empati & ruang aman. Terkadang, satu pertanyaan sederhana “Kamu nggak apa-apa?” bisa menyelamatkan hidup seseorang.
Untuk yang saat ini sedang berjuang, minta tolong bukan tanda kalah atau lemah. Itu tanda bahwa kamu masih ada harapan untuk hidup. Kamu tidak sendiri dan kamu masih bisa diselamatkan.
Apabila mengalami gejala kecemasan, putus asa, rendah diri, hampa, dan tidak berharga secara berlebih, silahkan menghubungi Layanan Hotline Healing119.id (Kemenkes):
- Call: Hubungi 119 ekstensi 8 atau akses melalui laman www.healing119.id dengan memilih opsi call healing119.id.
- Chat WhatsApp: Kunjungi www.healing119.id dan klik tombol WhatsApp atau langsung ke no. +62 813-8007-3120 (free)
Lebih banyak wanita depresi, tapi pria lebih banyak masuk RSJ/ mengakh*ri hidup. Mari ajak pria lebih terbuka!!!!





































































