... Baca selengkapnyaAku sering merasa seperti pria di foto: duduk diam, kepala tertunduk, mata terpejam, kelihatannya tenang… padahal di kepala bising banget. Dari luar suasananya hening dan kontemplatif, tapi di dalam kepala isinya debat, rasa takut, dan skenario yang bahkan belum tentu kejadian. Itulah rasanya “hening di mulut, berisik di kepala”.
Biasanya ini muncul ketika lagi sendirian, misalnya malam hari setelah seharian capek. Badan sudah di kasur, lampu dimatikan, tapi otak kayak baru mulai kerja. Kepikiran omongan orang tadi siang, keputusan yang belum diambil, atau masa lalu yang seharusnya sudah selesai. Kadang aku cuma bisa duduk di depan meja, menatap dinding atau dinding bata kamar, mencoba menenangkan diri tapi pikiran malah makin ke mana-mana.
Pengalaman pribadi, yang paling susah itu saat harus pura-pura baik-baik saja. Di depan orang lain, mulutku diam, senyum, bilang “nggak apa-apa kok”. Tapi begitu sendirian, semua suara di kepala muncul lagi. Suara yang bilang aku kurang, salah, nggak cukup. Rasanya melelahkan banget karena perang terbesar justru ada di dalam diri sendiri.
Pelan-pelan, aku mulai belajar cara menghadapi “keramaian” di kepala ini. Bukan berarti sekarang sudah sembuh, tapi setidaknya aku punya beberapa cara untuk bernapas sebentar:
1. Menulis isi kepala
Kadang aku tulis semua yang lagi aku pikirin di kertas atau catatan HP, tanpa sensor. Ternyata setelah ditulis, beberapa ketakutan kelihatan nggak seburuk itu. Dari yang awalnya cuma berisik, jadi lebih jelas masalahnya apa.
2. Mengizinkan diri diam tanpa merasa bersalah
Dulu kalau lagi bengong atau diam, aku merasa harus selalu produktif. Sekarang aku mencoba menerima bahwa duduk diam di depan meja, memejamkan mata, hanya untuk menarik napas pelan-pelan, itu juga sebuah kebutuhan. Hening bukan berarti malas, kadang itu cara tubuh dan pikiran minta istirahat.
3. Ngobrol sama orang yang bisa dipercaya
Ada kalanya “hening di mulut” justru bikin makin sesak. Waktu aku mulai berani cerita ke teman yang bisa dipercaya, ternyata rasanya plong. Ternyata kita nggak sendirian. Banyak orang yang kelihatannya kuat dan kalem, tapi di dalam juga sama-sama berisik.
4. Mengurangi konsumsi yang bikin makin penuh
Kalau kepala lagi berisik, aku sekarang lebih hati-hati sama apa yang aku konsumsi: berita, media sosial, drama, gosip. Kadang aku sengaja log out dulu, taruh HP, dan pilih lakukan hal sederhana seperti mandi air hangat, beresin meja kayu kerja, atau sekadar minum teh sambil diam.
5. Menerima bahwa overthinking itu bukan kelemahan, tapi sinyal
Dulu aku benci banget sama kebiasaan overthinking. Tapi sekarang aku mencoba melihatnya sebagai sinyal: mungkin ada hal yang belum selesai, ada luka yang belum diproses, atau ada keputusan yang sebenarnya sudah tahu jawabannya tapi belum berani diambil.
Kalau kamu juga merasa hening di mulut tapi berisik di kepala, kamu nggak aneh dan nggak sendiri. Pelan-pelan aja. Nggak perlu langsung tenang total, cukup kasih diri sendiri ruang untuk istirahat dan jujur sama perasaan. Kadang, langkah tersepi seperti duduk sendirian dan mengakui “iya, aku lelah” justru jadi awal dari kepala yang sedikit lebih sunyi.