... Baca selengkapnyaJujur, awalnya aku cari tahu tentang platipus cuma karena penasaran: hewan apa sih yang bertelur tapi menyusui? Ternyata jawabannya memang platipus, mamalia super unik dengan paruh bebek, tubuh mirip trenggiling, berekor mirip berang-berang, bisa berenang, bertelur, tapi tetap menyusui anaknya. Semakin aku baca, semakin kerasa banget bahwa platipus itu mirip kita yang serba bisa.
Di gambar ada tulisan "KUTUKAN PLATIPUS JAGO BANYAK HAL Tapi Gak Punya Spesialisasi" dan aku langsung keinget momen ketika aku sendiri merasa punya banyak minat: suka nulis, suka ngomong di depan orang, tertarik psikologi, senang desain, tapi kalau ditanya "kamu sebenarnya maunya jadi apa?" aku langsung blank. Bukan karena nggak punya kemampuan, justru karena kebanyakan hal yang aku suka.
Banyak orang nyebut ini multitasking, padahal beda. Multitasking itu ngerjain banyak hal sekaligus dalam satu waktu, yang ujung-ujungnya bisa bikin burnout. Sementara "platipus" lebih ke arah bingung soal tujuan: aku bisa banyak hal, tapi mau diarahkan ke mana? Di salah satu ilustrasi ada pertanyaan: "Harus pilih satu bakat dan meninggalkan yang lain?" dan jawabannya bikin lega – kita nggak perlu "membunuh" bakat sendiri.
Salah satu tips yang aku coba adalah cara simpel: pilih satu bidang dulu, fokus selama 6 bulan. Bukan berarti meninggalkan yang lain selamanya, tapi kasih diri sendiri kesempatan buat benar-benar nyemplung dan ngerasain prosesnya. Setelah 6 bulan, evaluasi: apa aku bahagia, berkembang, dan merasa hidup punya arah? Kalau ternyata nggak cocok, bukan berarti gagal, tapi belajar bahwa aku bisa mengubah arah dengan bekal pengalaman.
Yang bikin tricky adalah ketakutan-ketakutan yang ternyata banyak tersimpan di bawah sadar: takut salah pilih, takut gagal, takut dibilang "sayang potensi" kalau hanya fokus ke satu hal. Di sinilah aku mulai tertarik ke hipnoterapi. Bukan hipnotis ala acara TV, tapi hipnoterapi yang pelan-pelan bantu aku ngobrol sama diri sendiri di level bawah sadar.
Dari sesi hipnoterapi, aku diajak menemukan nilai inti: hal-hal yang sebenarnya paling penting buat aku, di luar ekspektasi orang lain. Ternyata aku butuh rasa makna dan koneksi dengan orang, bukan sekadar gelar atau jabatan. Hipnoterapi juga bantu melepaskan sabotase diri, seperti suara kecil yang selalu bilang "kamu nggak cukup bagus" setiap mau mulai hal baru.
Yang aku suka, pendekatan ini nggak mengurangi bakat, tapi menyusun rapi semua minat di pikiran bawah sadar. Bayangin semua kemampuan kamu kayak puzzle: hipnoterapi bantu nyusun potongan-potongan itu supaya kebentuk gambar besar yang jelas. Potensi platipus yang tadinya kerasa kayak "kutukan" jadi terasa lebih kayak anugerah – karena akhirnya punya arah.
Kalau kamu lagi merasa kayak platipus: jago banyak hal, tapi nggak punya spesialisasi, bingung identitas diri, mungkin ini saatnya berhenti nyalahin diri. Coba kenali dulu hewan platipus itu sendiri, lalu lihat bagaimana metafora ini bisa bantu kamu memahami cara kerja dirimu. Dan kalau butuh bantuan, cari info hipnoterapi yang aman dan profesional, karena punya banyak minat bukan masalah – yang penting adalah bagaimana kamu mengelolanya jadi hidup yang lebih fokus dan bermakna.