JODOH MAYOR LINGGA (1)
Part 1
“Nikah sama perempuan yang h4mil duluan? Kenapa harus aku yang menjadi pengantin pengganti?”
Sumpah, sampai sekarang aku masih tidak mengerti bagaimana hidupku bisa berubah secepat ini.
Beberapa jam yang lalu aku masih berada di daerah satgas. Berseragam loreng. Dan berdiri gagah sebagai seorang tentara berpangkat Mayor.
Lalu telepon dari Ibu datang. Satu telepon yang mengubah semuanya.
“Di keluarga besar kita cuma kamu laki-laki yang belum beristri, Kalingga. Kalau kita gak mencarikan pengantin pengganti... keluarga besan akan marah karena anaknya sudah dih4mili.”
Begitu kata Ibu di sambungan telepon. Dan karena itulah aku dipaksa pulang.
Bukan untuk menghadiri pernikahan Rendra (sepupuku). Tapi untuk menggantikan dia yang meningg4l karena kecel4kaan beberapa jam sebelum akad nikah.
Dan sekarang… aku yang duduk di kursi pengantin.
“Saya terima nikah dan k4winnya Hayna Jahida dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Setelah pernikahan itu dianggap "SAH" maka sekarang aku sudah resmi menjadi seorang suami.
Aissshhh…
Aku memang ingin menikah suatu hari nanti. Usia 32 tahun bukan usia muda lagi. Tapi bukan begini caranya. Bukan dengan menikahi perempuan n4kal yang h4mil duluan.
Usai akad nikah, kami dipersilakan masuk ke kamar pengantin.
Pintu ditutup.
Dia duduk di tepi k4sur. Menunduk dalam-dalam. Tangannya bertumpu di pangkuan, jemarinya saling memainkan satu sama lain. Raut wajahnya kelihatan gelisah.
Aku berdiri bersandar di daun pintu. Kedua tanganku menyilang di depan d4da. Mataku menatapnya dari atas sampai bawah.
Aku menyeringai sinis. Aku tidak menyangka perempuan sekalem dia ternyata perempuan nakal. Tidak ada perempuan baik-baik yang h4mil duluan, bukan?
Aku dengar dari keluarga… hubungan dia dengan Rendra sudah dua tahun. Itu artinya keh4milan ini bukan karena dipaksa. Mereka jelas sama-sama mau.
Aku mendecak pelan. “Aku dengar kamu santri ya?”
Perempuan itu mengangguk pelan. Masih tanpa berani menatapku.
“Penghafal Al-Qur'an?” lanjutku.
Dia mengangguk lagi.
Senyumku makin miring. “Santri dan penghafal Al-Qur'an tapi hamil duluan?” nadaku berubah ejekan.
Kali ini dia tidak mengangguk. Dia hanya diam. Jemarinya malah bergerak semakin gugup di atas pangkuan.
Aku menghela napas panjang. Lalu berjalan menuju cantelan baju di dinding. Kulepas jas hitam yang kupakai saat ijab kabul tadi dan kucantelkan di sana.
“Dasar cewek nakal,” gumamku pelan.
Aku mulai membuk4 k4ncing kemeja putihku. “Pernikahan ini hanya musib4h. Aku mau jadi suamimu hanya sampai b4yimu l4hir.”
Tanganku berhenti di k4ncing berikutnya. Aku menoleh menatapnya. “Kamu cuma butuh nama bapak di akta kel4hiran an4kmu nanti, kan?”
Diam masih diam.
Aku menghela napas lagi.
“Jadi aku harap kamu sadar bahwa pernikahan ini hanya di atas kertas.” Nada suaraku berubah dingin. “Jangan pernah berani ikut campur urusanku. Paham?”
Lagi-lagi dia masih diam. Tapi kali ini jemarinya tidak lagi bergerak. Perempuan itu perlahan mengangkat wajah. Tatapannya akhirnya bertemu denganku.
“Tidak perlu menunggu sampai b4yi ini l4hir untuk mencer4ikan saya,” ucapnya pelan. “Anda bisa mencer4ikan saya setelah kita tinggal di rumah dinasmu.”
Keningku mengerut. “Apa maksudmu?”
Dia menelan ludah pelan. “Banyak alasan kenapa saya mengambil keputusan ini. Anda tidak perlu tahu.”
Aku langsung mengurungkan niatku membuka kemeja. Ada sesuatu yang aneh di sini. Aku melangkah mendekatinya.
“Kenapa aku tidak boleh tahu?” tanyaku t4jam. “Sebenarnya apa yang kamu rahasiakan?”
Dia menatapku sungguh-sungguh. “Jadi Anda benar-benar ingin tahu?”
Aku mengangguk tegas. "Ya."
“Tapi berjanjilah dulu untuk benar-benar mencer4ikan saya setelah kita tinggal di rumah dinasmu. Anda mau janji?”
Aku diam beberapa detik. Lalu akhirnya aku mengangguk.
"Baiklah, aku janji," kataku. "Sekarang... katakan semua alasanmu!"
Bersambung
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App ya...
Judul: Jodoh Mayor Kalingga
Penulis: Dewi Diyu
Pernikahan yang terjadi karena tekanan keluarga dan kondisi darurat seperti yang dialami Mayor Lingga bukan hal yang mudah untuk dijalani. Dari pengalaman banyak yang menghadapi pernikahan terpaksa, khususnya saat pengganti pihak yang awalnya menikah meninggal secara mendadak, terdapat berbagai tantangan emosional dan psikologis yang harus dihadapi kedua belah pihak. Sebagai seorang yang berprofesi sebagai tentara berpangkat mayor, Lingga dihadapkan pada dilema antara tugas dan keluarga, terutama karena statusnya sebagai satu-satunya pria dewasa yang belum menikah di keluarganya. Menikahi perempuan yang ternyata sudah hamil sebelum menikah tentu menambah kerumitan hubungan mereka. Kerap kali, stigma sosial dan tekanan dari keluarga besar memicu konflik internal yang mendalam. Dalam kisah ini, sosok perempuan yang merupakan penghafal Al-Qur'an dan santri menunjukkan bahwa latar belakang keagamaan tidak menjamin kesempurnaan dalam menjalani kehidupan. Ini menambah lapisan kompleksitas cerita—antara mempertahankan kehormatan, menghadapi kenyataan pahit, dan berusaha mencari solusi terbaik untuk masa depan anak yang akan lahir. Pengalaman pribadi yang serupa pernah saya temui di lingkungan sekitar, di mana pernikahan terpaksa menghadirkan rasa tertekan dan ketidakpastian sekaligus. Salah satu hal yang paling penting adalah komunikasi terbuka antar pasangan dan niat baik untuk menjaga hak serta masa depan anak. Juga, dukungan keluarga dan lingkungan sekitar amat berpengaruh untuk melunakkan ketegangan dalam situasi mendesak seperti ini. Cerita ini mengingatkan kita bahwa menikah bukan hanya urusan romantisme semata, tapi juga tentang tanggung jawab, penerimaan kondisi yang tak terduga, dan menjaga kehormatan satu sama lain. Semoga kisah Mayor Lingga dan Hayna Jahida memberikan gambaran lebih nyata tentang tantangan kehidupan yang kompleks dan bagaimana manusia harus bisa bertahan dan beradaptasi dengan keadaan yang tidak mudah. Jika Anda pernah melewati pengalaman pernikahan yang penuh lika-liku atau pernikahan pengganti, bagaimana cara Anda menghadapinya? Bagikan pengalaman dan pelajaran Anda agar kita semua bisa saling belajar dan memberi dukungan.

