SURGA YANG TERLUKA 3
Bab 3
"Masha Allah, Nyonya! Alhamdulillah Nyonya Sari sudah sadar." Senyumnya mengembang begitu melihat aku membuka mata.
"Saya teleponkan Non Nungki ya, Nyonya. Sebagai anak kandung Nyonya, dia harus tahu."
Bik Ninik hendak menelepon Nungki, tetapi segera kutahan tindakannya.
"Ja-ngan, Bik. Ha-peku ma-na?"
"Saya ndak sempat membawa hape Nyonya. Tapi ini, bisa pakai hape saya saja, Nyonya." Bik Ninik mengeluarkan ponselnya.
[Ambil atm yang kusimpan di rumah, Bik. Isinya cukup untuk membayar tagihan rumah sakit]
Mata Bik Ninik membeliak saat melihat aku mengetik kalimat dengan tangan kananku yang masih berfungsi baik.
"Alhamdulillah, akan segera saya bereskan pembayaran ini, Nyonya."
“Ja-ngan pe-gi, Bi. A-ku be-lum se-le-sai.”
“Adalagi kah, Nyonya?”
“Ja-ngan ka-sih ta-hu me-re-ka ka-lau sa-ya su-dah sa-dar dan bi-sa bi-ca-ra.”
“Kenapa saya harus melakukannya, Nyonya? Apakah Non Nungki juga ndak boleh tahu?”
Aku mengangguk, lalu kembali mengetik di layar ponselnya.
[Anak-anakku tidak boleh tahu, biarkan saja mereka mengira stroke ini membuatku lumpuh dan tak bisa bicara. Aku ingin lihat bagaimana ketulusan mereka merawatku]
“Baik, Nyonya. Bibik mengerti.”
*
“Aduh, Ibu ini ngerepotin banget sih? Disuapin susah banget! Bik Ninik, kamu urus deh! Aku udah telat mau ke kampus, nih!”
Suara Nungki melengking nyaring, penuh emosi. Tangannya menghentak hingga sendok itu terlepas dan jatuh berdenting di lantai. Bubur hangat yang hendak ia suapkan malah tumpah di bajuku.
“Lihat, ibu emang sengaja kan? Biar aku makin repot!”
Mulutku bergetar ingin mengucap, 'maaf' padanya. Namun suara tercekat di tenggorokan hingga tak mampu bersuara.
“Ribut amat pagi-pagi.”
“Ibu nih, Mas Bagas! Disuapin susah, disuruh minum obat nggak bisa. Aku udah capek!”
"Bik Ninik kemana? Kenapa harus kamu yang suapin?"
Bagas berkata sambil meraih sendok di tangan Nungki dan meletakkannya di mangkuk. Ia mencampur air ke mangkuk, tak lupa sekalian memasukkan obat yang harus kuminum juga.
"Nggak tahu. Sejak pagi udah pergi. Kamu ngapain sih, Mas?"
"Kalau memang nggak mau disuapin, rewel dan ngerepotin. Ya udah, nggak usah makan aja sekalian. Mentang-mentang lagi sakit, malah berulah!"
Rasanya seperti menelan racvn pahit yang naik ke kerongkongan. Tak menyangka Bagas begitu tega.
"Mas, tapi obatnya ...?" Nungki terlihat ragu.
"Tadi udah kamu kasih kan? Ibu yang menolak minum obat. Jadi ya udahlah! Sekalian aja nggak usah minum obat."
Bagas berkata sambil menatapku bengis.
"Tapi kata dokter kita harus pastikan Ibu minum obat dengan teratur sesuai dosis."
"Nungki udahlah, kalau emang Ibu nggak mau jangan dipaksa. Kamu juga nggak mau repot kan?"
"Kalau kondisi Ibu tambah parah gimana? Nanti kan kita juga yang repot?"
"Repot sebentar, Nungki. Tapi kalau nanti ibu ...." Bagas menatapku dengan kilatan mata jahat. Seperti ada siasat licik yang terbayang di kepalanya.
"Ibuk kenapa, Mas?"
Bagas tak menjawab. Ia malah bergerak ke dekat Nungki dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Mas, serius mau begitu? Ta-tapi itu ... bahaya loh, Mas." Nungki nampak ragu, sorot matanya menatapku penuh ketakutan.
"Tenang saja, Nungki. Bahkan kalau Ibu nanti meninggal, polisi dan dokter nggak akan bisa melacaknya." Seringai Bagas makin lebar.
Bagas lalu dengan cekatan meraih pegangan kursi rodaku. Ia mendorong benda yang menopang tubuhku tersebut dengan cepat.
"Nyonya mau dibawa ke mana?"
Aku melihat Bik Ninik berdiri menghalangi, seperti tembok terakhir yang siap melindungi.
Bagas melepaskan pegangannya dari kursi rodaku. Tangannya mendorong bahu Bik Ninik kasar.
“Minggir! Aku cuma mau bawa Ibu masuk kamar!” bentaknya kasar.
Tubuh tua Bik Ninik terhuyung. Ia nyaris jatuh didorong Bagas.
"Tapi belum jadwalnya Nyonya tidur. Setelah sarapan dan minum obat, kata dokter Nyonya harus berjemur, lalu latihan gerak."
"Jangan bawel! Kamu nggak lihat Ibu capek begini. Biar dia istirahat di dalam ....
Judul : Surga yang Terlvka
Penulis : Miss Rain











































