THR DARI IPAR PELIT (2)
(2) "Dek, kamu nggak na rik u ang di tabu ngan kita? Kok Mas lihat sa l do nya masih utuh, tapi kamu tadi bisa be li susu formula yang mah al itu?"
Aku tersentak.
Jemariku yang sedang lincah menari di atas trackpad laptop langsung membe ku. Di layar, sebuah desain logo untuk perusahaan teknologi asal Jerman baru saja selesai kukerjakan—sebuah proyek senilai 1.500 U S D yang baru saja masuk ke akun PayPal-ku.
Aku menoleh, mendapati Mas Danu berdiri di ambang pintu ka mar dengan wajah cemas. Dia masih mengenakan seragam pabriknya yang sudah memudar warnanya di bagian bahu.
"Enggak, Mas. Itu u ang hasil aku ju al beberapa ba ju preloved kemarin.”
Kebo hongan kecil ini terasa pahit, tapi aku belum siap membagi rahasia. Belum saatnya suamiku tahu tentang freelance yang sering aku kerjakan.
Mas Danu menghela napas lega, lalu duduk di tepi ran jang di sampingku. Dia mero goh saku celananya, mengeluarkan dua lembar u ang lima puluh ri buan yang sudah lecek, lalu meletakkannya di atas meja kerja ke cilku.
"Ini ... u ang lembur Mas minggu ini. Maafin Mas ya, Dek. Mas tau kemarin di ru mah Ibu, Kak Sarah keterlaluan. Mas belum bisa kasih Daffa u ang jajan banyak kayak an ak nya Kak Sarah."
Aku menatap dua lembar u ang itu. Hatiku peri h. Mas Danu adalah laki-laki baik, sangat baik. Tapi kebaikannya sering kali dimanfaatkan oleh kakak kandungnya sendiri.
"Mas nggak capek terus-terusan disuruh sabar sama Kak Sarah?" tanyaku, mataku kembali menatap layar laptop yang sengaja kuredupkan cahayanya.
"Dia kakak kandung Mas satu-satunya, Mita. Ibu juga selalu bilang, keluarga itu harus rukun. Mengalah bukan berarti kalah, kan?" Mas Danu mengu sap rambutku lembut.
Aku hanya tersenyum tipis.
Mengalah bukan berarti kalah? Kata-kata itu sudah ba si. Bagiku, diamnya aku saat ini adalah ancang-ancang untuk melom pat lebih tinggi.
Ting!
Sebuah notifikasi masuk ke ponselku yang tergeletak di samping laptop. Nama "Kak Sarah (Ipar Sultan)" muncul di layar.
Kak Sarah: Mit, besok ari san keluarga di ru ma hku. Jangan lupa dateng, ya. Oiya, dandan yang rapihan dikit. Mal u-ma luin kalau difoto masuk story IG-ku, nanti dikira aku punya pemban tu baru.
Da rahku men di dih. Tanganku menge pal ku at di bawah meja.
"Ada apa, Dek? Dari siapa?" tanya Mas Danu sambil melirik ponselku.
"Bukan siapa-siapa, Mas. Cuma grup iklan," sahutku cepat sambil membalikkan ponsel.
"Oh, ya udah. Mas man di dulu ya. Kamu jangan begadang terus, nanti sa kit."
Setelah pintu kam ar man di tertutup, aku kembali menyalakan cahaya layar laptopku maksimal. Aku membuka situs web sebuah ho tel bintang lima yang paling prestisius di kota ini.
Jariku bergerak mantap mene kan tombol Book Now untuk Grand Ballroom tepat di hari ulang tahun Daffa bulan depan.
Har ga sewanya? Setara dengan ga ji Mas Danu selama satu tahun.
Aku mengetikkan pesan ba lasan ke Kak Sarah dengan senyum miring yang belum pernah kulihat di cermin sebelumnya.
Siap, Kak. Aku bakal dandan secantik mungkin. Oh iya, Kakak juga harus jaga kesehatan, ya. Takutnya nanti Kakak kaget kalau lihat kejutan ulang tahun Daffa bulan depan.
Baru saja aku hendak menutup laptop, sebuah email masuk. Bukan dari klien, melainkan dari ba nk. Mataku membelalak melihat isinya. Ada transaksi mencur i gakan dari kartu kre dit atas nama suamiku, Mas Danu, ke sebuah toko perhia san sore tadi.
Lho, Mas Danu be li perhia san? Buat siapa? Dua lembar lima puluh ri bu tadi dia bilang u ang terakhirnya. Lalu, dari mana dia bisa belan ja di toko perhia san me wah itu?
*
Judul: T H R dari Ipar Pe lit
Penulis: Rana Fayola R.
Baca di K B M App
































