... Baca selengkapnyaDulu aku sering berpikir, “Hidup tanpa seorang ibu itu seperti apa ya?” Sampai akhirnya pelan-pelan aku merasakannya sendiri. Bukan selalu karena ibu sudah tiada, tapi kadang karena jarak, kesibukan, atau hati yang menjauh pelan-pelan tanpa sadar. Rasanya seperti ada bagian diri yang hilang, tapi kamu tetap harus kelihatan kuat di luar.
Sekarang, ketika hari-hari terasa berat, barulah aku paham kenapa dulu ibu bisa tiba-tiba marah, diam berhari-hari, atau menatap kosong ke luar jendela. Dulu kupikir ibu lebay. Sekarang aku sadar, mungkin itu satu-satunya cara ibu bertahan di dunia yang begitu keras, sambil tetap berusaha jadi rumah paling hangat untuk anak-anaknya.
Kadang aku hanya bisa berbisik dalam hati: “Untukmu Ibu, maaf aku tidak sesuai isi doamu.” Ibu mungkin dulu berdoa aku jadi anak yang sabar, lembut, sukses, dan selalu dekat dengan-Nya. Tapi kenyataannya, aku masih sering ngeluh, masih sering kalah sama keadaan, bahkan kadang lupa berterima kasih atas hal-hal kecil yang dulu ibu perjuangkan mati-matian.
Ada malam-malam ketika aku merasa sangat lelah, lalu tanpa sadar aku memutar lagu-lagu tentang orang tua, termasuk lagu tentang ayah yang isinya mengirimkan doa dari jauh. Di situ aku sadar, bukan cuma ayah yang patut dikirimi doa, tapi juga ibu yang sering kita anggap “pasti kuat” padahal hatinya paling rapuh. Aku kirimkan doa, bukan hanya untuk ayah yang mungkin lelah bekerja, tapi juga untuk ibu yang dulu diam-diam memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah ketika semua beban rumah tangga jatuh ke pundaknya.
Sekarang, setiap kali hidup menampar dan aku hampir menyerah, aku teringat sosok ibu: wanita yang kelihatan tegar di luar, tapi mungkin sering gemetar di dalam hati. Dari sana aku belajar, kalau aku bisa bertahan hari ini, sebenarnya itu karena contoh yang ibu tunjukkan: bagaimana tetap berdiri meski dunia rasanya tidak ramah.
Kalau kamu membaca ini dalam keadaan sudah tidak punya kesempatan memeluk ibu, kamu tidak sendirian. Kita masih bisa mengirimkan doa. Doa yang sederhana tapi tulus: semoga Allah lapangkan surga untuk ibu, semoga setiap lelah dan air matanya dulu dibayar dengan kebahagiaan yang tidak ada ujungnya.
Dan kalau ibumu masih ada, mungkin setelah ini kamu bisa sekadar kirim chat pendek, telpon sebentar, atau peluk saat pulang. Tidak perlu kata-kata puitis, cukup: “Bu, terima kasih ya. Maaf kalau belum bisa jadi anak seperti yang Ibu doakan, tapi aku sedang berusaha.” Kadang itu saja sudah cukup untuk membuat hati seorang ibu merasa dimengerti.
Hidup tanpa seorang ibu, atau hidup jauh dari ibu, mengajarkan satu hal: tidak ada cinta yang benar-benar sanggup menggantikan cara ibu mencintai. Kita mungkin tidak pernah bisa membalas, tapi setidaknya, kita bisa terus mengirimkan doa dan berusaha menjadi anak yang membuatnya bangga, di dunia ataupun di surga nanti.
ibu adalah wanita yang luar biasa ❤️