Rekomendasi Novel Kbm
"Ketika kebenaran diputar di layar, tidak ada jas mahal yang bisa menyelamatkan harga diri.”
Judul: Tersangka
Platform Kbm
Bab 1
Suara riuh tawa dan gemerincing gelas kristal melambung tinggi di Ballroom Emerald Hotel Grandia, memantul pada panel-panel marmer yang dipoles sempurna.
Ratusan pasang mata berpendar di bawah cahaya lampu gantung raksasa, menyambut malam gala tahunan Asosiasi Pengusaha Muda.
Sebuah orkestra mengalunkan melodi yang lembut; biola dan saksofon berpadu harmonis, menciptakan alunan yang membuai para tamu dalam balutan gaun sutra dan jas mewah. Suasana itu seolah menjadi simbol kesempurnaan—perpaduan antara kemewahan dan kesuksesan.
Di tengah keramaian para elite kota, Bima Prakoso berdiri tegak, dadanya membusung dalam tuksedo hitam yang pas di badan.Ia menenggak sampanye dengan gerakan berkuasa, matanya menyapu sekeliling, menikmati puja-puji yang tak terucap dari setiap tatapan.
Mantan atlet sekolah dengan otot-otot yang masih perkasa, Bima kini adalah pemilik prakoso Security, perusahaan keamanan swasta yang tumbuh pesat berkat koneksi bawah tanahnya dan keberaniannya dalam mengambil "pekerjaan kotor".
Lima tahun lalu, bisnisnya hanya sebuah rintisan kecil; kini, ia bernilai miliaran, menjaga aset-aset para taipan dan bahkan beberapa pejabat.
"Tuan Bima, selamat atas ekspansi terakhir perusahaan Anda," sapa seorang pengusaha properti, tangannya terjulur. "Anda benar-benar visioner."
Bima menyeringai. "Hanya mengikuti arus, Pak. Di dunia sekarang, keamanan bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mutlak. Apalagi dengan kerentanan digital yang kian meningkat." Ia mengedipkan mata, seolah berbagi rahasia gelap yang hanya mereka berdua pahami.
Bisnisnya, sebagian besar, memang beroperasi di area abu-abu, mengumpulkan data sensitif pesaing, atau memastikan “kesepakatan” tetap berjalan mulus, bahkan jika itu berarti menginjak-injak keadilan.
Baginya, keadilan adalah mitos, kekuasaan adalah segalanya. Dan ia memiliki keduanya.
Jauh di sudut ruangan, nyaris menyatu dengan bayang-bayang di balik pilar besar, Liam Devano berdiri.
Setelan gelapnya memberinya siluet yang tak mencolok, wajahnya tenang, matanya setajam elang yang mengintai mangsa.
Tidak ada jejak dari remaja idealis yang naif sepuluh tahun silam, yang percaya pada kebaikan manusia dan kebenaran hukum.
Neraka penjara telah mengikis habis semua sisa-sisa itu, menempa dirinya menjadi sesuatu yang jauh lebih dingin, lebih tajam. Dia tidak lagi berharap pada sistem; dia akan menjadi sistem itu sendiri.
Liam menatap Bima. Sebuah rasa pahit yang familier mencicipi lidahnya, namun tak memicu kerutan sedikit pun di wajahnya.
Dia adalah seniman kehancuran, dan Bima adalah kanvas pertamanya. Ia telah merencanakan ini selama berbulan-bulan, setiap detail, setiap langkah. Tidak ada ruang untuk kesalahan.
Di hadapan semua tamu, sebuah layar LED raksasa di panggung utama mulai memutar presentasi. Awalnya, itu adalah tayangan sponsor dan profil singkat para tokoh pengusaha yang dihormati. Para hadirin menoleh, menatap dengan senyum formal.
Bima terkekeh. "Mungkin sebentar lagi giliran saya di sana, bukan?" katanya kepada pengusaha properti di sebelahnya, sembari menunjuk layar. "Prakoso Security akan segera menjadi legenda."
Tiba-tiba, tayangan di layar berkedip, terdistorsi selama sepersekian detik, lalu berganti. Bukan profil pengusaha atau iklan produk mewah.
Sebuah video. Kamera keamanan buram dari sebuah gudang gelap. Gambar itu menunjukkan Bima Prakoso, sepuluh tahun lebih muda, bertukar koper berisi uang dengan seorang pria berwajah keras.
Pria itu adalah buronan internasional yang dicari atas kasus penyelundupan narkoba dan perdagangan senjata.
Suara Bima, muda dan arogan, terdengar jelas dari rekaman itu. "Jangan khawatir, bos. Barangmu aman. Polisi bodoh-bodoh itu tak akan pernah mencium jejaknya." Lalu, terdengar tawa renyah.
Ruangan yang tadinya ramai seketika sunyi senyap, sepi yang menyesakkan, hanya dipecahkan oleh suara rekaman yang terus berputar.
Para tamu, yang beberapa detik lalu menatap Bima dengan kagum, kini menatapnya dengan jijik dan kebingungan.
Rekaman itu adalah bukti faktual dari transaksi ilegal dan keterlibatan Bima dengan dunia kriminal, sebuah pukulan telak pada citra "pengusaha sukses" yang ia bangun dengan susah payah.
Wajah Bima memucat, darahnya seolah terkuras habis. Ia terhuyung mundur, matanya melebar tak percaya. "Apa-apaan ini?" gumamnya, suaranya tercekat.
"Tidak mungkin!" Otot-otot di rahangnya menegang, urat di pelipisnya menonjol. Panic menyeruak, mencengkeramnya.
Pengusaha properti di sebelahnya buru-buru menjauh, wajahnya mengeras dalam ekspresi muak. Gumaman mulai terdengar, berbisik seperti desisan ular berbisa.
Nama Bima Prakoso, yang tadinya disebut dengan hormat, kini menjadi bahan cemoohan. "Penjahat," "koruptor," "munafik," bisik-bisik itu melayang di udara, menusuk telinga Bima seperti jarum es.
Dari sudutnya, Liam menatap Bima. Tidak ada kegembiraan liar, hanya kepuasan dingin. Ini bukan sekadar rekaman lama.
Ini adalah ledakan yang ia rancang untuk meruntuhkan kerajaan Bima dari dalam. Liam tahu, rekaman itu hanyalah pemicu.
Jaringan bisnis Bima bergantung pada kepercayaan, pada citra bersih yang ia proyeksikan. Dengan satu video itu, seluruh jaring laba-laba korupsinya akan terbongkar, semua mitranya akan lari, dan imperiumnya akan runtuh seperti kartu domino.
Bima berusaha mengendalikan diri, mencari seseorang yang bisa dia tuduh. Matanya liar, berkeliaran mencari orang yang bertanggung jawab.
Namun, ia tidak menemukan apa pun kecuali tatapan jijik dan ketakutan. Kerumunan mulai membubarkan diri, menjauh darinya seolah ia adalah wabah.
"Ini jebakan!" teriak Bima, suaranya pecah, namun tenggelam dalam keramaian yang mulai bising kembali, kali ini dengan nada kepanikan dan kegaduhan.
Beberapa staf hotel bergegas menuju layar, berusaha mematikan tayangan memalukan itu, namun sia-sia. Liam telah memastikan bahwa pemutaran itu tidak bisa dihentikan begitu saja.
Liam meneguk air mineralnya, sensasi dinginnya menenangkan tenggorokannya. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya pada Bima.
Kerajaan Prakoso Security tidak akan bertahan hingga matahari terbit. Bank akan membekukan aset, klien akan membatalkan kontrak, dan polisi, yang selama ini dibutakan oleh uang Bima, kini akan bergerak maju, dipaksa oleh opini publik dan bukti kuat yang baru saja terpampang di depan mata semua orang.
Dengan tatapan terakhir pada Bima yang kini dikelilingi oleh tatapan sinis, Liam berbalik. Langkahnya ringan, tidak tergesa-gesa, menyatu dengan irama musik yang kini kembali mengalun, berusaha menutupi kegaduhan yang lebih dalam.
Ia melewati pintu keluar, tak seorang pun menyadari keberadaannya, seolah ia adalah hantu yang baru saja menyelesaikan misinya.
Malam baru saja dimulai, tetapi gema pertamanya telah bergaung. Di luar hotel, hawa malam Jakarta menyambutnya dengan sejuk.
Liam berhenti sejenak, menatap gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Di salah satu puncak gedung itu, Alex Syailendra, Rama Wiguna, dan Kevin Adhijaya mungkin sedang menyesap anggur mahal, merasa aman dalam benteng-benteng mereka.
Mereka tak akan tahu, atau belum tahu, bahwa gema yang baru saja ia ciptakan di Ballroom Emerald hanyalah awal dari simfoni kehancuran yang akan ia mainkan.
Mereka telah mengubahnya menjadi monster, dan kini, monster itu telah kembali untuk membalas dendam. Bukan untuk membunuh, melainkan untuk menghancurkan, perlahan, dan tanpa ampun.
Senyum tipis terukir di bibirnya. Target selanjutnya sudah ditentukan. Malam masih panjang. Ia menyalakan ponselnya. Sebuah pesan singkat ia kirimkan. "Selesai. Tunggu gema berikutnya."
















