Rekomendasi Baca Buku Good Novel
Bertemu Lintang, gadis kecil dengan mata kosong. Lestari ditugaskan untuk menemaninya, namun Lintang seolah hidup di dunianya sendiri. Bisakah Lestari menjadi cahaya di kegelapan Lintang, dan menemukan kembali senyumnya?
#Lemon8indonesia #promosinovel #goodnovelindonesia #dramarumahtangga #kisahlestari
✨✨✨
Bab 5
Mereka tiba di sebuah bangunan yang lebih kecil, terhubung dengan rumah utama melalui selasar beratap kaca. Sama mewahnya, hanya skalanya lebih manusiawi. Tora membuka pintu. Di dalamnya ada satu kamar tidur dengan dua ranjang, sebuah ruang duduk kecil, dan dapur mungil yang berkilauan. Semuanya bersih, steril, dan tidak berjiwa.
“Letakkan anakmu. Istirahatlah sebentar. Setengah jam lagi, temui aku di ruang keluarga. Aku akan mengenalkanmu pada Lintang.”
“Terima kasih, Pak.”
Tora pergi tanpa sepatah kata lagi, menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Suara klik kunci itu terdengar final.
Lestari akhirnya bisa bernapas. Ia membaringkan Dian di salah satu ranjang. Selimutnya tebal dan lembut, sangat berbeda dengan selimut kartun tipis mereka.
“Kita di sini dulu ya, Nak,” bisiknya pada Dian yang masih tertidur pulas. “Tempatnya bagus. Kamu pasti cepat sembuh. Ibu janji, kita tidak akan kedinginan lagi.”
Ia mengelus kening Dian, panasnya sudah jauh berkurang. Ia menatap sekeliling ruangan. Jendela besar menghadap taman pribadi kecil.
Semuanya sempurna. Terlalu sempurna. Ia merasa seperti boneka pajangan yang ditempatkan di sebuah rumah boneka raksasa.
Dua puluh lima menit kemudian, setelah berganti pakaian dengan satu-satunya daster bersih yang ia punya, Lestari berjalan kembali ke rumah utama.
Jantungnya berdebar. Ia akan bertemu dengan alasan mengapa ia ada di sini. Ia menemukan Tora berdiri di sebuah ruangan luas dengan sofa-sofa besar berwarna kelabu.
Di tengah ruangan, di atas karpet tebal, duduk seorang anak perempuan. Punggungnya lurus, tangannya diam di pangkuan. Ia sedang menatap kosong ke arah televisi yang mati.
“Lintang,” panggil Tora. Suaranya lebih lembut, tapi tetap terasa berjarak.
Anak itu tidak menoleh.
“Lintang, ini Bu Lestari. Dia akan menemanimu mulai sekarang.”
Lestari mendekat perlahan, berjongkok agar tingginya sejajar dengan anak itu. “Halo, Lintang. Nama Tante, Lestari.”
Gadis kecil itu akhirnya menoleh. Matanya besar dan hitam, tetapi kosong. Tidak ada cahaya, tidak ada rasa ingin tahu.
Hanya kekosongan yang dalam dan sunyi, seperti sumur tua tak berdasar. Ia menatap Lestari selama beberapa detik, lalu kembali memalingkan wajahnya ke layar televisi yang gelap. Tidak ada anggukan. Tidak ada senyum. Tidak ada apa-apa.
“Dia… begitu,” kata Tora, ada nada getir yang coba ia sembunyikan. “Tugasmu adalah menemaninya. Pastikan dia makan. Pastikan dia mandi. Pastikan dia tidak sendirian.”
“Apa… apa dia suka sesuatu, Pak? Mainan? Buku?” tanya Lestari, berusaha memecah keheningan yang canggung.
“Dulu dia suka menggambar.” Tora menunjuk sebuah meja kecil di sudut ruangan. “Semua peralatannya ada di sana. Tapi sudah berbulan-bulan tidak disentuhnya.”
“Saya mengerti, Pak.”
“Aku harus bekerja.” Tora melirik jam tangannya. “Makan siang jam satu. Bi Asih, juru masak, yang akan menyiapkannya. Pastikan Lintang makan.”
Lagi-lagi, ia pergi begitu saja. Meninggalkan Lestari berdua dengan keheningan dan seorang anak perempuan yang seolah terbuat dari porselen.
Lestari duduk di lantai, tidak terlalu dekat, tapi juga tidak terlalu jauh. “Hai lagi, Lintang. Tante bawa teman buat Lintang.”
Ia mengeluarkan boneka perca kecil dari saku dasternya. Boneka yang ia jahit semalam di warung Bu Sumi untuk menenangkan hatinya sendiri. “Lihat? Namanya… Kiki. Dia sedikit pemalu, sama seperti Tante.”
Lintang tidak bereaksi.
“Dian, anak Tante, juga punya boneka. Mungkin nanti kalian bisa main sama-sama kalau Dian sudah sembuh.”
Hening.
✨✨✨
📖 Baca kisah lengkapnya hanya Di Goodnovel.
Berjudul : Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati
By. Dakuromansu




















