Rekomendasi Baca Buku Good Novel
1Satu kata “terserah”… merenggut segalanya.
#lemon8indonesia #promosinovel #goodnovel #bacabuku #kisahlestari
✨✨✨
Fragmen Bab
“Kadang aku berpikir, mungkin ini salahku,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. “Mungkin aku yang membawanya ke dalam semua ini.”
“Bagaimana bisa itu salah Bapak?”
Tora menyesap kopinya, matanya menerawang jauh, seolah sedang memutar film lama di kepalanya.
“Malam itu… malam Amelia meninggal. Hujan deras sekali. Lebih deras dari malam kau datang ke warung Bu Sumi.”
Jantung Lestari berdebar. Tora akan bicara tentang Amelia. Ia ingat peringatan keras pria itu di hari pertama. Tapi sekarang, Tora sendirilah yang membuka pintu terlarang itu.
“Kami bertengkar,” lanjut Tora, suaranya serak. “Bukan pertengkaran hebat. Hanya perdebatan bodoh.
Soal pekerjaan. Soal aku yang terlalu sering lembur. Hal-hal yang sekarang terasa sangat tidak penting.”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah.
“Dia bilang dia butuh udara segar. Mau pergi ke rumah ibunya di kota bawah. Aku bilang jangan, hujannya terlalu bahaya. ‘Tunggu besok pagi saja,’ kataku. Tapi dia keras kepala. Dia bilang, ‘Aku cuma butuh waktu sendiri sebentar.’”
Tora memejamkan matanya. Lestari bisa melihat otot rahangnya menegang.
“Seharusnya aku menahannya. Seharusnya aku menyembunyikan kunci mobilnya. Seharusnya aku… aku minta maaf saja. Kata maaf yang sederhana. Mungkin dia akan tetap di sini.”
“Tapi aku tidak melakukannya. Aku biarkan egoku menang. Aku bilang, ‘Terserah.’ Lalu aku kembali ke ruang kerja. Aku bahkan tidak mengantarnya sampai ke pintu.”
Keheningan yang menyusul terasa begitu berat, dipenuhi oleh penyesalan yang tak terhingga.
“Setengah jam kemudian, telepon berdering. Dari polisi. Mobilnya tergelincir di tikungan tajam dekat jembatan. Masuk jurang.” Tora membuka matanya. Ada genangan air di sana, berkilauan di bawah cahaya lampu teras yang temaram.
“Lintang ada di kursi belakang. Dia selamat. Hanya beberapa goresan. Tapi dia melihat semuanya. Dia melihat… ibunya.”
Air mata Lestari ikut mengalir tanpa ia sadari. Ia tidak bisa membayangkan kengerian itu. Rasa sakit itu.
“Sejak hari itu, dia tidak bicara lagi. Seolah suaranya ikut terkubur bersama Amelia.” Tora menatap Lestari, tatapannya menusuk, penuh dengan rasa sakit yang telanjang.
“Jadi, ya. Ini salahku. Aku yang membiarkannya pergi malam itu. Aku yang tidak bisa melindunginya. Aku juga yang tidak bisa melindungi Lintang dari trauma itu. Aku gagal. Sebagai suami, dan sebagai ayah.”
Pengakuan itu menggantung di udara senja yang dingin. Sebuah beban yang telah dipikul Tora sendirian selama berbulan-bulan, kini diletakkan di antara mereka.
Lestari tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata penghiburan terasa murah dan tidak berarti di hadapan duka sebesar itu.
Ia hanya menatap pria itu, membiarkan tatapannya berkata: aku mengerti. Aku mengerti apa rasanya disalahkan. Aku mengerti apa rasanya gagal. Aku mengerti apa rasanya kehilangan.
Tora sepertinya menangkap pesan itu. Ia menghela napas panjang, napas pertama yang terdengar sedikit lebih ringan.
Ia menatap Lestari, benar-benar menatapnya. Bukan lagi sebagai pengasuh anaknya, bukan sebagai wanita malang yang ia tolong. Tapi sebagai sesama penyintas.
Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka sejenak. Hanya suara jangkrik dan napas Dian yang tertidur.
“Terima kasih,” kata Tora tiba-tiba.
“Untuk apa, Pak?”
“Karena sudah mendengarkan.” Ia menunduk, menatap cangkir di tangannya. Lalu ia mengangkat kepalanya lagi, matanya yang tajam kini melembut, dipenuhi oleh rasa ingin tahu yang tulus.
“Sekarang kamu tahu lukaku.”
📖 Baca kisah lengkapnya hanya Di Goodnovel.
Berjudul : Luka Hati Seorang Istri Yang Dikhianati
By. Dakuromansu




















