PKL Part 2

"Mati aku."

Bisikan putus asa itu nyaris tak terdengar di tengah riuh tepuk tangan, tapi Aida yang duduk persis di sebelahnya menangkap dengan jelas. Wajah Zea pucat pasi, matanya lalu terpaku pada sosok Aryan di podium seolah baru saja melihat hantu di siang bolong. Bahunya yang tadi tegap kini merosot terkulai.

Aida menyenggol lengannya pelan. "Kenapa mati? Harusnya kan senang, Zea?" tanyanya, benar-benar bingung melihat reaksi sahabatnya yang aneh. "Dapat pembimbing Ustadz Aryan itu kayak menang undian umroh, tahu!"

Zea hanya menggeleng lemah, tidak sanggup merangkai kata-kata untuk menjelaskan badai di kepalanya. "Nggak apa-apa," bisiknya lirih terdengar serak.

Tentu saja ada apa-apa, pikirannya berputar seperti gasing yang lepas kendali. Pernikahan yang terjadi secepat kilat ini saja masih terasa seperti demam yang datang tiba-tiba, membuatnya mengigau. Sekarang, kenyataan menamparnya lebih keras lagi. Ia harus menjalani sebulan penuh di desa yang sama.

Berbagi udara dengan suami yang tidak pernah ia inginkan, sekaligus berada di bawah langit yang sama dengan Gus Ilham, lelaki yang diam-diam selalu ia sebut dalam doanya.

Ini bukan lagi sekadar pernikahan paksa, ini adalah sebuah panggung sandiwara paling kejam yang pernah Tuhan rancang untuknya. Dan ia adalah pemeran utama yang tidak pernah ikut audisi.

Malam itu, Zea tidak pulang ke rumah Aryan, selesai acara, ia sengaja menyelinap di antara kerumunan teman-temannya dan kabur ke asrama. Ia butuh ruang, butuh dunianya yang lama walau hanya untuk satu malam terakhir.

Lalu keesokan paginya, aroma embun dan tanah basah menyelimuti halaman pesantren. Zea berdiri gelisah di antara teman-teman kelompoknya. Ransel besar tersampir di punggung, terasa lebih ringan daripada beban di hati. Mereka semua sedang menunggu mobil elf yang akan membawa rombongan ke Desa Suka Asih.

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan hitam yang familiar berhenti tepat di depan mereka. Jantung Zea seolah berhenti berdetak, kaca jendela di sisi pengemudi turun perlahan, memperlihatkan wajah tenang Aryan.

Matanya menatap lurus ke arah Zea, mengabaikan belasan pasang mata lain yang kini serempak menoleh padanya.

"Zea, masuk."

Suaranya tidak keras. Tapi di telinga Zea, kalimat itu terdengar lebih menggelegar dari petir. Tegas, dingin, dan tidak menerima penolakan.

Dunia di sekitar Zea seolah melambat, ia bisa merasakan semua mata kini tertuju padanya. Aida yang berdiri di sampingnya melongo dengan mulut sedikit terbuka. Beberapa teman lain mulai saling berpandangan, lalu berbisik. Wajah Zea terasa panas, campuran antara malu dan marah yang membakar pipi. Ia ingin lari, ingin pura-pura tidak dengar, tapi kakinya terasa terpaku di tanah.

Dengan langkah kaki seperti robot, ia berjalan mendekati mobil, membuka pintu dan masuk. Pintu yang tertutup di belakangnya seolah menjadi pembatas antara dunianya yang dulu dan sekarang.

Begitu mobil mulai bergerak meninggalkan halaman pesantren, bendungan amarah Zea jebol.

"Kenapa Ustadz melakukan itu di depan teman-teman saya?" semburnya tanpa jeda. "Mereka pasti curiga! Ini akan jadi gosip satu pesantren! Apa Ustadz sengaja mau mempermalukan saya?"

Aryan tetap diam, tangannya memegang kemudi dengan mantap, matanya lurus menatap jalanan desa yang mulai ramai.

Zea semakin frustrasi melihat keheningan itu. "Saya kan sudah bilang, saya nggak mau ada yang tahu! Kenapa Ustadz tidak bisa mengerti juga? Saya punya kehidupan sendiri, saya punya teman-teman!" Nafasnya terengah-engah, suaranya mulai bergetar.

Ocehannya yang berapi-api hanya ditelan oleh kesunyian di dalam mobil. Tidak ada sahutan, tidak ada bantahan, dan tidak ada apa-apa, hanya suara mesin mobil yang mendengung pelan. Setelah beberapa saat, ia kehabisan kata-kata, amarahnya yang tadi membara kini padam seperti api yang disiram seember air, meninggalkan asap kekesalan yang dingin dan perasaan tak berdaya.

Ia menoleh, menatap Aryan yang menyetir dengan rahang yang terlihat sedikit mengeras, tapi ekspresinya tetap tenang. Dinding itu terlalu tebal untuk ditembus, Zea akhirnya menyerah. Ia memalingkan wajahnya ke jendela, menatap pemandangan sawah hijau yang berlari melewatinya.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha mendorong kembali air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Perjalanan itu terasa seperti selamanya, hening yang canggung dan berat.

Hingga akhirnya, mobil berhenti di halaman sebuah rumah panggung dari kayu yang cukup besar, tempat kelompok PKL putri akan tinggal. Beberapa temannya yang diantar mobil elf sudah tiba lebih dulu dan sedang menurunkan barang-barang.

Zea masih membuang muka dan enggan bergerak. Matanya sudah berkaca-kaca, hampir saja menangis. Aryan tidak langsung menyuruhnya turun. Ia mematikan mesin, lalu menarik nafas dalam.

Helaan nafas itu adalah suara pertama yang ia keluarkan sejak tadi, seolah menunjukkan bahwa semua protes Zea tidak sepenuhnya ia abaikan.

"Sudah?" tanyanya lembut, suaranya terdengar berbeda dari biasanya.

Zea terkejut mendengar nada itu, tapi ia terlalu gengsi untuk menoleh. Sebelum ia sempat menjawab, Aryan meraih sesuatu dari kursi belakang. Sebuah tas kain kecil yang akhirnya disodorkan pada Zea.

"Ini," katanya.

Zea menatap bingung, ragu-ragu menerima tas itu. Tapi Aryan memaksa, terpaksa Zea terima lalu tangannya merogoh ke dalam dan merasakan sebuah benda persegi. Ternyata itu sebuah buku, Zea menariknya keluar.

Matanya menyipit saat membaca judul yang tertera di sampulnya. Hak-Hak dan Kewajiban Suami Istri. Karya Syaikh Nawawi al-Bantani.

Nafasnya tercekat, tapi bukan karena terkejut. Zea tidak mengerti maksud Aryan memberinya buku itu, tapi entah kenapa rasa kesal yang baru saja reda kini kembali merayap di dadanya. Dadanya terasa panas, seolah-olah Aryan sedang menceramahinya tanpa suara, menyalahkannya atas semua pemberontakannya.

Dan yang paling menyebalkan adalah, Zea sadar dirinya memang salah. Bagaimanapun, lelaki di depannya ini bergelar suami. Setiap perintahnya, selama bukan untuk maksiat, wajib ia taati. Dengan sengaja mengabaikan perintah pulang semalam saja, itu sudah menjadi sebuah kesalahan besar. Buku di tangannya ini terasa seperti sebuah sindiran telak.

Ia menoleh pada Aryan, mencari jawaban di wajah lelaki itu. Tapi Aryan sudah kembali menatap lurus ke depan, seolah tindakan yang baru saja ia lakukan bukanlah hal besar. Seolah buku itu hanyalah sekadar oleh-oleh biasa.

"Sekarang turunlah," katanya dengan nada datar yang kembali seperti semula. "Atau teman-temanmu akan semakin curiga."

#PerasaanKu #ViralTerbaru #novelonline #kbm #kbmauthor

2025/11/6 Diedit ke

... Baca selengkapnyaSelain menghadapi pernikahan paksa, pengalaman Zea selama PKL memberikan gambaran nyata tentang dinamika kehidupan di pesantren dan desa yang sepi. Suasana desa yang tenang dan pemandangan sawah hijau yang berlari di jendela mobil menjadi kontras dengan gejolak batin yang tengah dialami Zea. Banyak pembaca mungkin pernah merasakan dilema antara hati dan realita, seperti apa yang dialami Zea saat harus tetap menjalani kehidupan sehari-hari bersama seseorang yang tidak ia inginkan. Keputusan Zea untuk menyelinap ke asrama dan mencari ruang sendiri menunjukkan kebutuhan manusiawi untuk berdamai dengan perasaan sendiri. Selain itu, pemberian buku "Hak-Hak dan Kewajiban Suami Istri" oleh Aryan menjadi simbolik tentang bagaimana pernikahan bukan hanya soal cinta, tapi juga tanggung jawab dan aturan yang harus dijalankan, walau terkadang terasa berat. Cerita seperti ini bisa menginspirasi pembaca untuk refleksi lebih dalam tentang arti hubungan, komitmen, dan bagaimana menghadapi situasi sulit dengan kekuatan batin. Menghubungkan cerita dengan nilai-nilai agama dan tradisi lokal juga memperkaya pengalaman membaca, memberikan konteks yang lebih luas. Jika kamu pernah mengalami situasi mirip atau ingin memahami lebih dalam tentang dampak emosional pernikahan yang tak diinginkan, kisah Zea ini sangat layak disimak dan direnungkan.

1 komentar

Gambar ERiyy Alma
ERiyy AlmaKreator

Judul : PKL (Praktek Kerja Lupa Cinta Lama) Penulis : ERiyyAlma Hanya baca di Kbm App

Posting terkait

Buat yang mau masuk LPK, harus tahu ini, part 2!
#belajar #BelajarBareng #belajarbahasa #belajarbahasajepang #bahasajepang
Saiputtech

Saiputtech

1 suka

Part 2 | APA ITU PTKP & PKP?
​Baru terjun ke dunia kerja atau bisnis? Jangan bingung denger istilah pajak yang aneh-aneh! Yuk, pahami 20 istilah perpajakan paling dasar biar kamu makin pede urus admin pajakmu sendiri. Cek di sini! ✨ ​. . #sadarpajak #renjanimengabdi #kampusberdampak
nabil | edukasi pajak

nabil | edukasi pajak

0 suka

Gambar sampul dengan judul 'Singkatan Medis DEK MAHASISWA, KUMPUL!!' di atas ilustrasi gedung rumah sakit. Terdapat logo Umbra Medical di pojok kiri atas.
Daftar singkatan medis terkait dokumen dan rekam medis, meliputi SOAP, HPI, PMH, FH, dan ROS, dengan penjelasan singkat masing-masing.
Daftar singkatan obat/resep yang sering muncul, seperti OTC, PRN, SR/XR, IVPB, dan gtt, dengan penjelasan artinya.
yang mau pkl wajib save🤩
#umbramedical #mahasiswaperawat #mahasiswabidan #keperawatan #perawat
Kaka asuh online🪁

Kaka asuh online🪁

0 suka

Seorang wanita berhijab berseragam sekolah dan seorang pria berseragam tersenyum satu sama lain. Teks di gambar menjelaskan pernikahan perjodohan dengan guru, sementara hati wanita terpaut pada keponakan guru tersebut.
PKL Part 4
"Diamlah!" Suara itu dalam dan tenang, Zea juga merasa sangat familiar, terdengar persis di samping telinganya. Tubuh Zea menegang sepenuhnya, dan selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam, tidak ada yang bergerak. Posisi mereka terkunci. Tangan Aryan masih membekap mulutnya
ERiyy Alma

ERiyy Alma

2 suka

Part 2
#seniberbicara Albert Mehrabian, psikologi sekaligus pakar komunikasi menyebutkan bahwa suara dan gerak tubuh merupakan unsur yang sangat penting dalam berbicara. Untuk berbicara dengan baik, unsur nonverbal harus diterapkan dengan baik. #penampilan Dalam berkomunikasi, penampilan atau
Asis Ruslan

Asis Ruslan

1 suka

Dua siswa, seorang gadis berhijab dan seorang pemuda, saling tersenyum di latar belakang sekolah. Teks di gambar menjelaskan pernikahan perjodohan gadis itu dengan gurunya, sementara hatinya terpaut pada keponakan gurunya, mencerminkan konflik Zea dalam cerita.
PKL Part 3
"Sekarang turunlah. Atau teman-temanmu akan semakin curiga." Zea tidak menjawab, dengan gerakan kasar, ia memasukkan buku bersampul kuning itu ke dalam tasnya, seolah sedang menjejalkan sampah. Ia tidak mau melihatnya lagi. Sedetik kemudian, ia membuka pintu mobil dengan sentakan cepat l
ERiyy Alma

ERiyy Alma

1 suka

Sesi Q&A PKn-Perancangan Percobaan Part 2
cerita Rasyid_12

cerita Rasyid_12

0 suka

Dua siswa, seorang wanita berhijab dan seorang pria, tersenyum ceria dalam seragam sekolah. Gambar ini menggambarkan dilema pernikahan perjodohan dengan guru, sementara hati terpaut pada keponakannya.
PKL Part 5
"Siapa itu? Siapa di sana?!" Gema teriakan itu menggantung di udara malam yang dingin, terasa lebih tajam dari sabetan pisau. Sebelum otak Zea sempat memerintahkan tubuhnya untuk bergerak, tangan Aryan sudah lebih dulu bertindak. Dengan satu tarikan cepat dan kuat, ia menarik Zea turun
ERiyy Alma

ERiyy Alma

0 suka

Tablet menampilkan aplikasi Kilonotes dengan folder mata kuliah seperti "Study Islam" dan "Psikologi". Teks "Prepare Kuliah In This Era #part 1" menyoroti persiapan kuliah di era digital.
Perbandingan media catatan belajar: buku tulis untuk poin materi dan Kilonotes (tablet, keyboard, headphone) untuk merecall dan membuat catatan efektif. Penulis menggunakan keduanya.
Tampilan aplikasi Kilonotes di tablet menunjukkan fitur folder untuk mengatur catatan kuliah agar rapi dan fokus sesuai kebutuhan belajar.
prepare kuliah in this era #part1
Ga nyangka nyiapin kuliah di zaman digital beda banget dengan "masa dulu" Yang kayanya cuma butuh alat tulis Binder dan Pulpen warna-warni 🤭 Era serba cepat dan digital menuntut kita lebih efektif dan efisien dalam semua aktivitas, salah satunya pencatatan saat belajar. Memilih alat
Lis Tuti | Digital Creator Mom

Lis Tuti | Digital Creator Mom

28 suka

seseru seru nya pkl tetep ada aja yg bikin males y
MALA

MALA

0 suka

Seorang anak kecil berpose di jalanan beraspal yang dikelilingi pepohonan hijau, dengan teks 'Part 3 Tips memulai Toilet Training' dan 'IRT 28+' di atasnya.
Tangan seorang dewasa di atas meja kayu, menampilkan daftar tips toilet training: persiapkan diri, gunakan produk pendukung, konsisten, jangan marah, dan sabar. Teks 'penjelasan cek caption' juga terlihat.
Seorang anak mendorong troli belanja mainan di toko, dikelilingi gambar produk pendukung toilet training: potty, buku edukasi 'Aku Belajar Pipis di Toilet', dan beberapa clodi (celana latihan).
Part 3 : Tips memulai Toilet Training
#LifeBingo merawat anak edisi toilet Training part 3 Part 1 nya disini 👈 Part 2 nya disini 👈 ‼️Tips toilet Training 🍋 persiapkan diri dulu bukan anak tapi kita sebagai ortu yg akan mengajarkan yg harus mempersiapkan diri. harus komitmen dan punya motivasi biar terus semangat 😅 🍋
𝒘𝒊𝒍𝒍𝒚𝒂𝒏𝒂•𝑨 🌿

𝒘𝒊𝒍𝒍𝒚𝒂𝒏𝒂•𝑨 🌿

22 suka

Part 2 | OWNER PT & CV, CEK MASA BERLAKU PAJAKMU!
​Berbeda dengan usaha perorangan, tarif spesial buat Badan Usaha itu ada batas waktunya lho. Jangan sampai kaget kalau tiba-tiba sistem berubah tarif karena masa berlakunya sudah habis. Yuk, mulai persiapkan administrasi bisnismu sekarang! ​. . #SadarPajak #RenjaniMengabdi #KampusBerdampak
nabil | edukasi pajak

nabil | edukasi pajak

0 suka

Seorang wanita muda menatap ke depan, dengan seorang pria berseragam militer di belakangnya, terlihat seperti pantulan cermin. Teks di gambar mengindikasikan permintaan pria agar wanita itu menggantikan istrinya di acara batalyon karena kemiripan mereka, dan ambisi wanita untuk menggantikan istri sahnya.
AKAR DENDAM PART 3
“Jadi kamu lebih milih Bapak daripada suamimu?” “Aku nggak milih siapa-siapa. Tapi kalau Mas maksa aku untuk milih sekarang, ya ... aku pilih Bapak.” Sambungan telepon ditutup. Alania belum sempat meletakkan ponselnya ke meja saat suara batuk keras terdengar dari kamar sebelah. Ia langsung te
Buku Tentara Polisi

Buku Tentara Polisi

3 suka

Lihat lainnya