PKL Part 5
"Siapa itu? Siapa di sana?!"
Gema teriakan itu menggantung di udara malam yang dingin, terasa lebih tajam dari sabetan pisau. Sebelum otak Zea sempat memerintahkan tubuhnya untuk bergerak, tangan Aryan sudah lebih dulu bertindak. Dengan satu tarikan cepat dan kuat, ia menarik Zea turun dari anak tangga, masuk ke dalam kolong teras yang gelap dan sempit.
Dunia Zea jungkir balik. Satu detik ia duduk di bawah cahaya bulan, detik berikutnya ia sudah berjongkok di atas tanah lembap, terkurung di antara tiang-tiang kayu yang berbau apek. Tubuh kecilnya tenggelam dalam dekapan Aryan yang terasa protektif. Jantungnya berdebar begitu kencang, menempel di dada bidang lelaki itu.
Samar-samar, ia bisa merasakan detak jantung Aryan juga, cepat dan kuat, beradu dengan detak jantungnya sendiri. Keduanya menahan nafas, seolah suara nafas pun bisa menjadi pengkhianat yang membocorkan keberadaan mereka.
Di luar, cahaya senter menyapu halaman dengan liar, menyorot rumpun pisang, lalu bergerak ke arah kamar mandi. Terdengar suara langkah kaki yang berat di atas kerikil semakin mendekat. Zea memejamkan matanya rapat-rapat. Tamat sudah, batin hatinya.
Tiba-tiba, dari arah semak-semak tak jauh dari mereka, terdengar suara kucing mengeong dengan keras dan nyaring. "Meeooongg!"
Langkah kaki itu berhenti. "Hush! Dasar kucing, bikin kaget saja," gumam suara bapak ronda itu, terdengar kesal. Setelah beberapa saat hening, suara langkah kakinya terdengar lagi, kali ini menjauh, kembali ke jalanan desa.
Setelah keheningan terasa benar-benar aman, Aryan perlahan melepaskan dekapannya. Udara dingin malam kembali menyergap tubuh Zea. "Sudah aman," bisik Aryan, suaranya serak.
Mereka bangkit perlahan, merangkak keluar dari kolong teras yang pengap. Saat keduanya sudah berdiri tegak, Aryan menatap Zea, wajahnya tak terbaca di bawah cahaya bulan. "Masuk dan istirahat," perintahnya pelan.
Tapi Zea tidak bergerak, matanya terpaku pada satu titik di wajah Aryan. Di bawah cahaya remang-remang, ia bisa melihat sebuah goresan merah tipis di dahi suaminya, tepat di dekat pelipis. Pasti tergores paku berkarat di kayu tangga saat mereka terburu-buru bersembunyi tadi.
Tanpa sadar, Zea mengangkat tangannya, jari telunjuknya menunjuk dengan ragu. "I-itu... dahi Ustadz," katanya, suaranya nyaris tak terdengar.
Aryan mengikuti arah tunjuknya, menyentuh dahinya dengan ujung jari. Ia melihat sedikit noda darah di jarinya, lalu menarik tangannya kembali seolah itu hanyalah gigitan nyamuk. Wajahnya yang tadi sedikit rileks kini kembali mengeras.
"Masuk, Zea!" bentaknya pelan tapi tegas. Nada suaranya kembali dingin dan berjarak.
Zea tersentak, rasa khawatir tulus yang baru saja tumbuh serapuh tunas muda itu seolah langsung diinjak hingga lumat. Ia merasa dongkol, kekhawatirannya dibalas dengan bentakan. Dengan perasaan kesal yang membuncah, ia berbalik badan dan masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, membanting pintu di belakangnya sedikit lebih keras dari yang seharusnya.
***
Pagi harinya, aroma kopi dan nasi liwet yang dimasak teman-temannya membangunkan Zea. Setelah membantu menyiapkan sarapan, Ustadzah Afifah memanggilnya ke teras. Wajah kakak pendamping itu terlihat serius. Ia menyerahkan selembar kertas yang sudah diketik rapi.
"Ini daftar pembagian mata pelajaran untuk kalian di SD. Tolong sampaikan ke teman-temanmu ya," kata Afifah. Ia berhenti sejenak, tatapannya menembus langsung ke mata Zea. "Ustadzah dan Ustadzah Hanum tidak bisa mengawasi kalian setiap saat di sekolah. Jaga sikap, jaga nama baik pesantren."
Afifah menepuk pundak Zea pelan, tapi tepukan itu terasa berat. "Kamu ketuanya, teman-temanmu Ustadzah titipkan padamu."
Zea hanya bisa mengangguk, menelan ludah yang terasa pahit. Beban di pundaknya terasa bertambah lagi. Bagaimana ia bisa memimpin teman-temannya dengan benar jika hidupnya sendiri penuh dengan rahasia dan kebohongan?
Rombongan santri putri berjalan kaki beriringan menuju SD, tawa dan canda mereka memecah keheningan pagi desa. Tepat di sebelah gerbang SD, berdiri gedung SMP yang lebih megah. Di halaman sekolah itu, Zea melihat Ustadz Hasan sedang memberikan arahan pada kelompok putra yang sudah berkumpul rapi.
Matanya langsung menemukan sosok Gus Ilham. Lelaki itu sedang tertawa ringan bersama Harun, sahabatnya. Seperti biasa, dengan kemeja koko berwarna abu-abu dan sarung yang terlipat rapi, ia terlihat begitu bersinar di bawah cahaya matahari pagi.
Aida dan Qanita yang berjalan di samping Zea langsung menyenggol lengannya bersamaan. "Rezeki anak salehah ya, Ze, lihat yang bening-bening pagi-pagi," goda Aida sambil menaik-turunkan alisnya.
Zea hanya bisa tersenyum kikuk, pipinya terasa sedikit hangat.bMatanya tanpa sadar menyapu seluruh anggota kelompok putra, mencari sosok lain. Tapi ia tidak menemukan Aryan di antara mereka.
Seketika, bayangan goresan di dahi lelaki itu semalam melintas di benaknya. Ada perasaan aneh yang muncul di hatinya. Seperti sengatan kecil rasa cemas. Tapi ia cepat-cepat menepis perasaan konyol itu. Untuk apa juga ia peduli.
Setelah sambutan singkat dari kepala sekolah SD dan pembagian jadwal mengajar, bel istirahat berbunyi nyaring. Pintu-pintu kelas terbuka serentak. Puluhan anak-anak berseragam merah-putih berhamburan keluar, mengerubungi kakak-kakak PKL mereka dengan sorak-sorai antusias.
"Kakak, namanya siapa?"
"Kakak nanti ngajar kelasku, kan?"
"Kakak cantik, deh!"
Tawa dan keceriaan anak-anak yang tulus itu menular. Untuk sesaat, Zea lupa pada semua kerumitan hidupnya. Ia tertawa lepas, meladeni pertanyaan-pertanyaan polos mereka, merasa ringan untuk pertama kalinya sejak tiba di desa ini.
Sepulang dari sekolah, saat matahari sudah condong ke barat, Zea dan teman-temannya dikejutkan oleh pemandangan di depan basecamp mereka. Sebuah truk besar sedang parkir di pinggir jalan. Beberapa orang pekerja bangunan sibuk menurunkan batu bata, tumpukan karung semen, dan pasir.
Para tetangga, kebanyakan ibu-ibu yang baru pulang dari sawah, berkerumun di seberang jalan. Mereka menonton sambil berbisik-bisik, sesekali melirik ke arah kelompok santri putri yang baru datang.
"Loh, ada apa ini?" tanya Dina bingung, matanya membelalak melihat tumpukan material bangunan. "Rumah kita mau direnovasi?"
Semua mata sontak menoleh pada Zea, sang ketua, menuntut jawaban. Zea menggelengkan kepalanya. "Aku juga nggak tahu," jawabnya jujur, sama bingungnya dengan yang lain.
Saat mereka berdiri terpaku di depan gerbang, telinga Zea tanpa sengaja menangkap percakapan dua orang ibu yang berdiri tak jauh darinya. Suara mereka cukup jelas terbawa angin sore.
"Katanya mau dibikinkan kamar mandi di dalam, Bu. Kasihan katanya santri-santri putri kalau harus ke belakang terus malam-malam, kan gelap."
"Oh, begitu. Baguslah kalau gitu."
"Dengar-dengar sih ini perintah langsung dari Bu Nyai di pesantren. Soalnya, katanya, di antara anak PKL yang perempuan ini... ada menantu kiai."
Zea yang mendengar kalimat terakhir itu refleks terbatuk-batuk. Dadanya terasa sesak seolah baru saja menelan segumpal debu dari truk material itu. Ia terbatuk hebat, mencoba menarik nafas di antara tatapan bingung teman-temannya.
#ViralTerbaru #KerjaDariRumah #TentangKehidupan #novelrekomendasi #kbm




















JUDUL : PKL (PRAKTEK KERJA LUPA CINTA LAMA) PENULIS : ERIYYALMA BACA SELENGKAPNYA HANYA DI KBM