... Baca selengkapnyaBarongko itu sebenarnya simpel, tapi ada beberapa trik kecil yang bikin hasilnya wangi, lembut, dan tampilannya estetik pas sudah dibungkus daun pisang. Aku share versi yang biasa kubuat di rumah ya.
Pertama soal pisang. Aku pakai pisang kepok yang sudah benar-benar matang, kulitnya kuning kecoklatan dan ada sedikit bercak hitam. Teksturnya lebih lembek dan manis, jadi pas diadonkan sudah nggak perlu terlalu banyak gula. Kalau pakai pisang yang masih keras, rasa barongko bisa kurang manis dan agak sepet.
Daun pisang juga penting. Biasanya aku pakai daun pisang batu atau raja, yang lebar dan nggak gampang sobek. Sebelum dipakai, daunnya dicuci bersih lalu dilayukan sebentar di atas api kompor atau dijemur. Tujuannya supaya lentur, jadi waktu dilipat untuk bungkus barongko, daun nggak robek dan bentuknya bisa rapi. Bagian yang mengkilap diletakkan di sisi dalam agar barongko tidak lengket.
Untuk adonan, aku campur pisang kepok yang sudah dihaluskan dengan telur, gula pasir, santan, sedikit susu kental manis, dan vanili. Susu kental manis ini bikin rasa barongko lebih creamy dan legit. Aduk pakai spatula sampai semua tercampur rata, jangan dikocok terlalu kencang supaya adonan tidak terlalu banyak busa, karena bisa bikin tekstur kurang halus.
Cara bungkusnya, aku ambil satu lembar daun pisang, tuang adonan secukupnya (jangan terlalu penuh karena nanti mengembang), lalu lipat sisi kanan-kiri, kemudian atas-bawah, dan semat pakai tusuk gigi. Kalau mau tampilan lebih estetik, aku biasanya pakai dua lapis daun pisang, jadi bungkusannya terlihat lebih tebal dan rapi.
Untuk mengukus, kukusan harus sudah panas dulu dan airnya mendidih. Masukkan barongko yang sudah dibungkus daun pisang, susun jangan terlalu berhimpitan. Kukus kurang lebih 20–30 menit, tergantung ukuran bungkus. Tutup kukusan boleh dialasi kain supaya uap air tidak menetes ke barongko dan permukaannya tetap mulus.
Setelah matang, diamkan sebentar sampai nggak terlalu panas. Justru barongko enak dimakan saat sudah dingin, teksturnya lebih padat dan wangi daun pisangnya makin terasa. Kalau mau difoto biar estetik, biasanya aku buka sedikit bungkus daun pisang, biarkan barongko terlihat, lalu sajikan di piring putih dengan sendok di sampingnya. Warna hijau daun dan kuning krem barongko bikin fotonya kelihatan cantik.
Barongko dibungkus daun pisang ini menurutku cocok buat camilan sore, hidangan hajatan, atau sekadar stok kue di kulkas. Tinggal disteam sebentar kalau mau dihangatkan lagi. Cobain, deh. Kalau kamu punya cara bungkus lain atau varian topping, seru juga buat dikembangin biar barongko ala rumahan makin unik dan estetik.