Pernahkah engkau membayangkan hari ketika seluruh dunia yang begitu sibuk engkau kejar akhirnya harus engkau tinggalkan?
Jabatan yang dulu dibanggakan akan memiliki pemilik baru.
Kekayaan yang dikumpulkan dengan susah payah akan berpindah ke tangan orang lain.
Bahkan tubuh yang selama ini engkau rawat dengan penuh perhatian suatu saat akan kembali menyatu dengan alam.
Pada saat itu, apa yang sesungguhnya masih menjadi milikmu?
Bhagavad Gita mengajarkan bahwa tubuh hanyalah wadah sementara bagi Atman, jiwa yang abadi.
Selama hidup di dunia, manusia diberi kesempatan untuk menggunakan tubuh, pikiran, dan kemampuannya sebagai sarana menjalankan Dharma.
Namun, banyak orang justru lupa pada tujuan itu.
Mereka menghabiskan seluruh hidup untuk memperindah apa yang fana, tetapi sedikit sekali waktu yang digunakan untuk memurnikan batin dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Dalam pandangan Hindu, yang mengikuti perjalanan jiwa bukanlah harta, kedudukan, ataupun pujian manusia.
Yang terus menyertai Atman adalah jejak dari setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan yang telah dilakukan.
Itulah karma yang akan menjadi bagian dari perjalanan jiwa, sementara Dharma yang dijalankan dengan tulus menjadi cahaya yang menuntun langkah menuju kesadaran yang lebih tinggi.
Karena itu, ukuran kehidupan yang berhasil bukanlah seberapa banyak yang berhasil dimiliki, melainkan seberapa setia seseorang menjalankan kewajibannya dengan hati yang bersih.
Hal ini bukan berarti kita harus meninggalkan pekerjaan, menolak kekayaan, atau mengabaikan kehidupan dunia.
Semua itu dapat menjadi sarana untuk berbuat kebajikan apabila digunakan sesuai Dharma.
Yang perlu dilepaskan adalah rasa memiliki yang berlebihan, seolah-olah semua itu akan tinggal bersama kita selamanya.
Ketika hati tidak lagi terikat pada yang sementara, hidup menjadi lebih damai dan penuh makna.
Maka selama Tuhan masih menganugerahkan napas, gunakan setiap hari untuk menanam karma yang baik dan menjalankan Dharma dengan penuh ketulusan.
Sebab ketika tiba saatnya jiwa melanjutkan perjalanannya, dunia hanya akan mengenang namamu, tetapi Tuhan akan menyaksikan seluruh perbuatanmu.
Dan pada akhirnya, bukan apa yang engkau miliki yang menentukan perjalanan jiwamu, melainkan bagaimana engkau hidup di hadapan Tuhan.














































