-Masih Hidup, Ceker Masih Ada-
Pagi itu aku jaga dagangan sendirian.
Ibu sama bapak sudah ke pasar. Tinggal aku, ayam, ceker, dan pikiran yang kerja lembur tanpa izin.
Katanya hidup harus punya tujuan besar.
Aku lihat tumpukan ceker.
"Tujuan besarku pagi ini jangan sampai salah ngasih kembalian."
Lumayan realistis.
Aku duduk sambil nunggu pembeli.
Nunggu itu aneh.
Kalau ada pembeli, capek.
Kalau nggak ada pembeli, khawatir.
Jadi manusia memang hobi bikin dirinya repot.
Aku sempat mikir soal masa depan.
Lalu mikir soal masa lalu.
Lalu mikir kenapa aku mikir.
Sampai akhirnya sadar kalau dari tadi aku cuma mikir.
Belum ada yang berubah.
Ayamnya masih ayam.
Cekernya masih ceker.
Aku masih aku.
"Wah, hebat juga."
"Berhasil menyelesaikan nol masalah dalam tiga puluh menit."
Tiba-tiba ada motor berhenti.
Aku langsung tegak.
Bukan karena rajin.
Karena naluri pedagang lebih kuat daripada krisis eksistensial.
Pembelinya turun.
"Mbak, ceker ada?"
Aku lihat ke arah ceker.
Cekernya banyak.
Pembelinya lihat ke arah ceker.
Cekernya tetap banyak.
Kami berdua sama-sama tahu jawabannya.
"Ada."
Transaksi selesai.
Pembeli pergi.
Aku duduk lagi.
Hening.
Angin lewat.
Seekor ayam entah kenapa menatapku seperti sedang menghakimi seluruh pilihan hidupku.
Aku balas menatap.
"Jangan lihat aku begitu."
"Aku juga nggak tahu lagi."
Lalu aku ketawa sendiri.
Karena ternyata hidupku hari itu tidak berubah oleh pencerahan besar.
Tidak ada plot twist.
Tidak ada wahyu.
Tidak ada jawaban atas misteri kehidupan.
Yang ada cuma satu kesimpulan:
"Masih napas."
"Masih jualan."
"Masih jalan."
Dan entah kenapa, untuk pagi itu, rasanya sudah cukup.





















