... Baca selengkapnyaJujur, pertama kali lihat ulat sagu (atau yang sering disebut gendon) aku langsung mikir, “Serius ini tuh makanan?!” Warna krem kecoklatan, bentuknya gemuk, dan masih bergerak… bikin merinding. Tapi karena makin sering lihat konten orang makan ulat yang bisa dimakan, lama-lama aku jadi kepo sendiri.
Awalnya aku cari info dulu: ulat sagu apakah bisa dimakan dan aman nggak buat tubuh? Ternyata, di beberapa daerah di Indonesia, terutama Papua dan Maluku, ulat sagu itu memang sudah lama dikonsumsi sebagai makanan tradisional. Mereka biasanya hidup di batang sagu yang sudah lapuk, dan justru di situ mereka dapat nutrisi. Banyak yang bilang ulat sagu kaya protein dan lemak sehat, jadi bisa jadi sumber energi, apalagi kalau lagi di alam dan kehabisan bekal.
Kalau kamu pernah dengar ulat kelapa bisa dimakan, bentuknya mirip-mirip juga. Sama-sama putih krem, gendut, dan biasa hidup di pohon atau batang tertentu. Bedanya, ulat sagu tinggalnya di pohon sagu, dan cara masaknya pun beragam. Ada yang dimakan hidup-hidup (ini level mental baja!), ada yang ditusuk lalu dibakar seperti sate, atau ditumis pakai bumbu sederhana.
Pengalaman pribadi waktu coba, aku memilih versi matang dulu, yaitu ulat sagu dimasak dengan cara dibakar. Jadi nggak terlalu kelihatan bentuk “ulat”-nya karena permukaannya sudah agak gosong dan kering. Dari segi rasa, surprisingly nggak sehoror bayanganku. Teksturnya di luar agak renyah, dalamnya lembut dan sedikit berminyak. Banyak yang mendeskripsikan rasanya mirip kuning telur atau lemak ayam.
Kalau kamu masih bertanya-tanya apakah ulat sagu bisa dimakan dengan aman, kuncinya di kebersihan dan cara pengolahannya. Biasanya sebelum dimasak, ulat dibersihkan dulu bagian kotorannya. Lalu dimasak sampai matang, entah dibakar, ditumis, atau digoreng. Hindari makan mentah kalau kamu punya lambung sensitif atau alergi tertentu. Dan pastikan ulat berasal dari sumber yang jelas, bukan sembarang ambil di tempat yang terkontaminasi.
Dari sisi mental, tantangan terbesarnya justru ada di pikiran sendiri. Kita terbiasa melihat ulat sebagai sesuatu yang menjijikkan, padahal di beberapa budaya, ulat yang bisa di makan itu justru dianggap makanan bergizi. Kalau kamu lagi traveling ke daerah yang menyediakan ulat sagu sebagai kuliner lokal, menurutku nggak ada salahnya coba sekali seumur hidup, minimal satu gigitan, sekadar pengalaman.
Tapi wajar banget kalau kamu masih ragu. Kamu bisa mulai dari lihat-lihat review, tonton orang lain makan, dan cari tahu dulu soal manfaat serta risikonya. Jadi ketika suatu hari kamu dihadapkan pada pilihan ekstrem seperti di gambar: makan gendon atau mati kelaparan, kamu sudah punya gambaran nyata, bukan cuma ketakutan di kepala. Siapa tahu, sesuatu yang awalnya bikin jijik justru bisa jadi pengalaman kuliner paling berkesan dalam hidupmu.
dri dulu pengen nyobain ulet sagu, cmn gtw nyariny kemana😂