“Mantan udah nggak mikirin Ibu.
Kalau Ibu masih mikirin dia, siapa yang mikirin anak?
Move on itu bukan soal hati Ibu,
tapi soal masa depan si kecil yang lagi belajar dari setiap langkah Ibu.”
Ujar psikolog sore hari itu.
Kalo kalian kira2 kalimat apa yg bikin kalian bangkit lagi bund? 🥹 #lifeafterdivorce #podcaststrugglesinglemom #singlemom
Perceraian sering menjadi pengalaman yang sangat berat terutama bagi para ibu yang harus tetap menjadi sosok kuat demi anak-anak mereka. Pesan yang disampaikan oleh psikolog tersebut sangat mengena, yaitu bahwa ketika ibu terus terjebak dalam kesedihan karena mantan pasangan, yang paling dirugikan bukan hanya sang ibu, tapi juga anaknya yang sedang belajar dan meniru setiap langkah ibunya. Sebagai seorang ibu tunggal, bangkit setelah perceraian berarti bukan hanya tentang menyembuhkan luka hati, tapi juga mempersiapkan diri menjadi panutan terbaik untuk anak. Anak-anak selalu meniru sikap dan emosi orang tua mereka, terutama ibu yang biasanya menjadi pusat perhatian dan pelindung utama. Ketika ibu menunjukkan kekuatan dan optimisme, anak-anak mendapat pelajaran berharga tentang ketangguhan dan bagaimana menghadapi tantangan hidup. Selain itu, move on setelah perceraian juga membantu ibu menciptakan lingkungan yang lebih sehat secara emosional bagi si kecil. Lingkungan yang penuh dengan dukungan dan energi positif sangat penting untuk perkembangan mental dan emosional anak. Ketika ibu fokus pada masa depan dan kebahagiaan anak, secara tidak langsung ibu juga mempercepat proses penyembuhannya sendiri. Kalimat-kalimat penyemangat yang mengingatkan bahwa "kalau ibu nggak bangkit, siapa yang mau ngajarin anak ibu gimana caranya jadi manusia hebat?" juga dapat menjadi mantra yang terus diulang untuk meningkatkan motivasi diri. Penting bagi setiap ibu untuk mencari dukungan, baik dari keluarga, teman, atau profesional kesehatan mental seperti psikolog, supaya proses move on dan membangun kehidupan baru bisa berjalan lebih mudah. Menghadapi perceraian memang membutuhkan waktu dan proses, tapi dengan fokus pada anak dan masa depannya, ibu dapat menemukan kekuatan baru untuk melangkah maju. Ini bukan hanya soal memikirkan diri sendiri, tetapi mengutamakan masa depan generasi berikutnya yang sedang tumbuh dan belajar dari setiap tindakan dan emosi ibu.


































