... Baca selengkapnyaPertanyaan “pilih mana, bertahan atau menyerah?” itu kelihatannya sederhana, tapi pas kita beneran ada di posisi itu rasanya campur aduk. Aku sendiri beberapa kali ada di fase galau ini: di hubungan, di pekerjaan, bahkan di mimpi yang udah lama aku kejar.
Biasanya aku mulai dari jujur sama diri sendiri dulu. Aku suka nanya ke diri sendiri: kalau aku bertahan, apa yang sebenarnya masih aku perjuangkan? Orangnya, situasinya, atau cuma kenangan dan rasa nyaman? Kadang kita pikir kita lagi berjuang, padahal kita cuma takut perubahan. Di titik ini, aku suka tulis di notes HP: sisi positif dan negatif kalau aku bertahan. Dari situ kelihatan, aku masih bertahan karena sayang atau cuma karena takut memulai dari nol.
Di sisi lain, menyerah itu bukan selalu tanda lemah. Ada situasi di mana “menyerah” sebenarnya bentuk sayang ke diri sendiri. Misalnya saat suatu hubungan bikin aku kehilangan jati diri, nggak dihargai, atau terus-menerus capek secara mental. Aku pernah memaksa bertahan, berharap semuanya berubah. Tapi lama-lama aku sadar, kalau cuma aku yang berjuang, aku bukan lagi ‘bertahan’, aku sedang menyakiti diri sendiri.
Hal yang paling sulit buatku adalah menerima bahwa nggak semua yang kita mau harus jadi milik kita. Di sini aku belajar pasang batas: kalau sudah terlalu sering nangis, sering overthinking sampai susah tidur, dan aku nggak merasa berkembang, itu jadi sinyal kuat buat mempertimbangkan “menyerah”. Bukan menyerah pada hidup, tapi menyerah pada hal yang memang nggak lagi sehat buatku.
Sebaliknya, aku memilih bertahan kalau: masih ada komunikasi yang bisa diperbaiki, kedua belah pihak sama-sama mau berubah, atau aku merasa tantangan yang ada justru bikin aku tumbuh. Misalnya di pekerjaan: capek, iya. Tapi kalau aku merasa banyak belajar dan masih melihat peluang berkembang, aku biasanya kasih waktu ke diri sendiri sebelum memutuskan pergi.
Kalau kamu lagi di fase bingung antara bertahan atau menyerah, coba tanya hal-hal sederhana ke diri sendiri: “Aku masih bahagia nggak di sini?”, “Aku masih jadi diri sendiri nggak?”, “Kalau aku mundur, apakah ini bisa jadi langkah lebih sayang ke diriku sendiri?”. Jawaban jujur dari pertanyaan-pertanyaan itu sering banget jadi kompas kecil buat hati kita.
Pada akhirnya, baik bertahan maupun menyerah sama-sama perlu keberanian. Pilih mana pun, yang penting kamu tetap pilih dirimu sendiri dulu. Karena pada akhirnya, yang akan selalu menemani kamu dari awal sampai akhir ya diri kamu juga.