Sebelum nya si ade kelas ku ini sering bilang dirinya bisa liat inilah itu lah, mana kalo cerita tuh harus banget semua orang tau.
Setelah aku lulus di pondok denger kabar ade kelas ku itu keluar mondok nya, katanya mah karna udah ga betah, usut punya usut dia suka di ejek santri putra sambil meragain kesurupan , mungkin dia malu sendiri kali ya 😄
Kasian juga sih, mungkin dia depresi sebenernya, aku ga tau kenapa dia ngelakuin itu, karna ga ada info.
Semenjak itu lah aku ga lagi anggap indigo itu kebanggaan, karna yang aku sering denger di podcast kaya Teh Risa atau Mba Sara Wijayanto, kalo yang asli indigo malah dia takut buat cerita ke orang lain.
Dan mereka pun ngga pernah gamblang bilang 'bangga' dirinya punya kemampuan itu, cuma sering cerita suka duka mereka, kalo di tanya orang itu juga.
KALO MENURUT KAMU, JADI INDIGO TUH BANGGA ATAU ENGGA? ATAU MALAH MALU??
... Baca selengkapnyaJujur, dulu aku tuh sempat mikir kalau jadi anak indigo itu keren. Apalagi di sosmed banyak banget konten soal indigo, cerita horor, sampai gambar anak indigo yang kelihatan misterius tapi estetik. Di usia 20-an, rasa bangga itu malah kebawa jadi insecure sendiri, kayak di tulisan di gambar: "Penyesalan di umur 20an, bangga jadi anak indigo, malu seumur hidup, insecure". Semakin ke sini, aku makin sadar kalau nempel label "indigo" ke diri sendiri itu bukan hal seenteng itu.
Apalagi setelah kejadian sama adik kelasku di pesantren. Awalnya dia sering bilang ke semua orang kalau dia bisa lihat “macam-macam”. Tiap ada kesempatan, pasti cerita, kadang sampai lebay. Lama-lama dia suka kesurupan di depan orang banyak. Santri putra suka ejek sambil niru gaya dia kesurupan, dan akhirnya dia sendiri yang kayaknya malu. Dari cerita yang nyebar, bahkan ada yang bilang dia pernah dikunci di kamar pas lagi kesurupan.
Beberapa pengurus di pondok malah sempat bilang, itu bukan kesurupan beneran, tapi lebih ke faktor mental: depresi, tertekan, atau cuma cari perhatian. Dari situ aku mulai cari tahu bedanya ciri "kesurupan asli" sama yang bohongan atau karena depresi. Katanya, yang beneran kesurupan biasanya:
- Nggak sadar total, kayak orang pingsan tapi badan masih gerak sendiri
- Suara bisa berubah drastis, entah jadi berat atau cempreng tidak wajar
- Habis sadar biasanya lemes banget dan nggak ingat apa yang terjadi
Sedangkan yang "kesurupan bohongan" atau karena mental/tekanan:
- Masih setengah sadar, matanya kadang ngintip, masih bisa pilih-pilih momen
- Gerakannya dramatis, kayak di film: teriak-teriak, jatuh, tapi nggak sampai cedera serius
- Kalau nggak diladeni atau nggak ada penonton, kadang bisa pelan-pelan reda sendiri
Pengalaman itu bikin aku mikir, jangan-jangan ada orang di sekitar kita yang sebenarnya nggak butuh dikasih label "indigo", tapi lebih butuh diajak ngobrol baik-baik atau bahkan bantuan profesional. Kadang orang pura-pura pingsan atau pura-pura kesurupan bukan semata-mata mau bohong, tapi karena tertekan, pengin diperhatiin, atau nggak tahu cara sehat buat minta tolong.
Soal penyesalan seumur hidup, aku juga ngerasa relate. Penyesalan itu bukan cuma soal indigo, tapi juga hal-hal yang kita ucapin ke orang lain. Misalnya kata-kata ke adik kelas. Dulu mungkin kita ikut ngejek, ngomong sembarangan, tapi baru kerasa salahnya pas udah lewat. Makanya sekarang aku lebih hati-hati, apalagi kalau ada teman yang kelihatannya "aneh" atau suka ngomong ngelantur saat lagi sakit atau stres. Belum tentu itu hal gaib, bisa jadi dia lagi sakit secara mental atau fisik.
Buat kamu yang dulu bangga banget dibilang indigo terus sekarang malah malu atau nyesel, kamu nggak sendiri. Wajar kok kalau pandangan kita berubah seiring umur. Yang penting sekarang kita lebih bijak: nggak gampang nge-claim diri indigo, nggak gampang nge-judge orang pingsan atau kesurupan itu bohongan, dan lebih peka sama kondisi mental orang sekitar.
Kalau kamu punya adik kelas atau teman yang suka ngaku-ngaku indigo, menurutku lebih baik diajak ngobrol pelan-pelan daripada langsung di-bully. Kadang cukup ditanya: "Kamu beneran kuat nggak kalau terus kayak gini?" atau "Kalau lagi sendirian kamu ngerasa gimana?" daripada langsung dilabeli pembohong. Dari situ baru kelihatan, dia butuh didengarkan, butuh bantuan, atau cuma kebawa tren aja.
Itulah jg salah satu alasan aku depresi selama aku tumbuh besar, Aku sekolah tinggi, keluargaku besarku jg biasa berpikir rasional jg tapi yg kudengar kulihat dan kuajak ngobrol ga bs dinalar, ga make sense. Aku baru bs nerima kondisiku gara2 aku baca buku novel asing jdulnya Hidden Legacy authornya Ilona Andrews kaya langsung klik sm kondisiku. aku jg ga fit di salah satu spektrum. Tapi ka kalo aku menolak disebut indigo dan menolak badanku dipinjam. kesurupan itu berarti ga ada kontrol ka, org yg sering kesurupan itu kbnyakan kosong pikirannya dan banyak celah di tubuhnya. Kalo medium harus pny kontrol. krg lbh seperti sara wijayanto sama risa saraswati dkk.
Indigo tidak melulu soal kemampuan mediasi raga. Ada yang mampu melihat masa lalu, masa depan (prediksi), menemukan objek yang hilang, mengidentifikasi hal ghaib, komunikasi dengan makhluk ghaib dll
Menjadi indigo bukan suatu kondisi yang bisa dibanggakan di hadapan mereka yang tidak indigo.
Buat saya pribadi, kondisi indigo itu anugerah. Kondisi ini tentunya tak harus diumbar atau dibanggakan, semata-mata agar terhindar dari eksploitasi.
Indigo adalah privilege sekaligus privasi.
Itulah jg salah satu alasan aku depresi selama aku tumbuh besar, Aku sekolah tinggi, keluargaku besarku jg biasa berpikir rasional jg tapi yg kudengar kulihat dan kuajak ngobrol ga bs dinalar, ga make sense. Aku baru bs nerima kondisiku gara2 aku baca buku novel asing jdulnya Hidden Legacy authornya Ilona Andrews kaya langsung klik sm kondisiku. aku jg ga fit di salah satu spektrum. Tapi ka kalo aku menolak disebut indigo dan menolak badanku dipinjam. kesurupan itu berarti ga ada kontrol ka, org yg sering kesurupan itu kbnyakan kosong pikirannya dan banyak celah di tubuhnya. Kalo medium harus pny kontrol. krg lbh seperti sara wijayanto sama risa saraswati dkk.