... Baca selengkapnyaSebagai orang yang besar di Jawa, jenang gulo itu punya tempat spesial banget di ingatan aku. Dulu waktu kecil, tiap ada hajatan atau acara desa, pasti ada momen beberapa pria berkumpul di luar rumah untuk masak jenang gulo bareng. Biasanya mereka pakai wajan besar di atas tungku, adonan kental berwarna cokelat terus diaduk pelan tapi nonstop supaya nggak gosong.
Arti jenang gulo sendiri bisa dibilang sederhana tapi dalam. "Jenang" adalah sejenis bubur kental atau dodol tradisional, sedangkan "gulo" (gula) mengacu pada rasanya yang manis, biasanya dari gula merah. Buat sebagian orang Jawa, jenang gulo bukan cuma makanan, tapi simbol kebersamaan dan harapan manis untuk acara yang sedang dirayakan, entah itu selametan, syukuran, atau acara keluarga lain.
Proses membuat jenang gulo lumayan panjang. Pertama, biasanya disiapkan santan kental, tepung (kadang tepung beras atau ketan), dan gula merah yang sudah disisir. Semua bahan dicampur di panci besar, lalu dimasak di atas api dengan wajan lebar. Di foto yang aku lihat, tiga pria sedang membuat jenang gulo di luar ruangan: satu orang fokus mengaduk adonan cokelat kental dalam wajan besar, yang lain siap dengan panci kecil berisi bahan tambahan, dan satu lagi duduk sambil mengawasi. Suasananya santai tapi kompak.
Tekstur jenang gulo yang berhasil itu biasanya kenyal, agak lengket, dan mengkilap. Rasanya manis legit dari gula merah dengan aroma santan yang gurih. Biasanya setelah matang, adonan akan dituangkan ke loyang lalu diratakan. Setelah agak dingin dan mengeras, baru deh dipotong-potong. Di kampungku, jenang gulo sering dibungkus daun pisang atau kertas minyak dan dibagi-bagikan ke tetangga.
Kalau kamu penasaran arti jenang gulo dalam kehidupan sehari-hari, menurutku ini juga melambangkan kerja sama. Nggak mungkin masak jenang gulo sendirian, karena proses ngaduknya capek dan lama. Makanya biasanya ada beberapa orang yang gantian mengaduk sambil ngobrol, bercanda, dan itu yang bikin suasana jadi hangat. Dari situ aku belajar, makanan tradisional kayak gini bukan cuma soal rasa, tapi juga cerita di baliknya.
Sekarang, jenang gulo mungkin nggak sepopuler dulu di kota-kota besar, tapi masih bisa ditemui di pasar tradisional atau acara tertentu. Kalau ada kesempatan, cobain lihat langsung proses orang membuat jenang gulo. Wangi santan dan gula merah yang bercampur dengan asap tungku, ditambah suara adonan yang kental lagi diaduk di wajan besar, itu pengalaman yang susah diganti sama jajanan modern.
Ke depan, aku pengen coba bikin jenang gulo versi rumahan dengan porsi kecil di dapur sendiri. Walaupun nggak pakai wajan besar di luar ruangan, semoga rasanya tetap bisa mengingatkan ke masa kecil dan suasana hangat waktu lihat orang-orang masak jenang gulo bareng di kampung.