terlihat sederhana tapi setiap makanan yg akan dipilih anak ada arti tersendiri,ini namanya kething2 untuk didaerah jawa tengah bagian Wonogiri 😁.. tradisi ini seperti rasa syukur atas kehadiran anak yang tumbuh dengan sehat,biasanya tradisi ini untuk anak2 berumur 2th, berhubung cucu ibu aku ada 2 nunggu dana juga jadi di kethingin dua2nya waktu anak aku berumur hampir 6th dan anak adek aku 4th.. didesa suami aku sudah tidak ada,jadi sudah sangat langka tradisi seperti ini #Seandainya aja tradisi ini terus ada pasti bakalan seru.. ada nggk ditempat bunda2 tradisi seperti ini??
... Baca selengkapnyaBuat yang belum pernah dengar, kething-kething atau mongmongi itu semacam selamatan kecil buat anak, terutama di daerah Jawa tengah seperti Wonogiri. Di keluarga suami, tradisi ini dipakai untuk wujud rasa syukur karena anak tumbuh sehat, biasanya usia sekitar 2 tahun. Tapi di keluargaku kemarin kami adain pas anakku hampir 6 tahun dan ponakan umur 4 tahun, jadi sekalian dijadiin momen kumpul keluarga.
Isi hidangan kething-kething itu bukan sekadar makanan biasa. Di keluargaku disajikan di atas daun pisang, isinya nasi putih, urap sayuran, telur rebus, pisang, jeruk, pir, mentimun, dan ada dua adonan bulat yang ditusuk. Dari cerita orang tua, setiap makanan punya makna. Nasi putih melambangkan rezeki yang bersih dan berkah. Urap sayuran itu harapannya anak nanti suka hal-hal yang “segar” dan baik, dekat dengan alam, dan tidak susah makan sayur. Telur rebus sering dimaknai sebagai doa supaya anak punya pemikiran yang bulat, teguh, dan tidak mudah goyah.
Buah-buahan seperti pisang, jeruk, dan pir biasanya jadi simbol kelimpahan dan harapan rezeki yang manis untuk masa depan anak. Mentimun katanya biar anak sejuk hatinya, nggak gampang marah. Sementara adonan bulat yang ditusuk itu di tempatku dipercaya sebagai lambang doa agar langkah hidup anak selalu menyatu dengan kebaikan dan keluarga, nggak mudah tercerai-berai. Memang tiap desa bisa beda-beda maknanya, tapi intinya sama: doa baik untuk anak.
Proses kething-kething ini juga menarik. Biasanya anak disuruh milih atau pegang makanan tertentu dulu. Banyak yang percaya makanan pertama yang ia pilih itu bisa menggambarkan karakter atau jalan hidupnya nanti. Misalnya kalau anak cenderung ambil buku atau alat tulis (kalau disediakan), katanya cenderung suka belajar. Kalau ambil uang, dibilang akan pandai mencari rezeki. Di keluargaku versi sederhananya cuma pakai makanan, jadi kami lebih menafsirkannya sebagai tanda selera dan kebiasaan anak.
Sekarang tradisi kething-kething di desa suamiku sudah mulai hilang, jadi rasanya beruntung banget masih sempat ngalamin. Aku pribadi ngerasa tradisi adat Jawa seperti ini bikin anak punya cerita masa kecil yang khas, bukan sekadar pesta ulang tahun modern. Suasananya hangat, semua orang kumpul, masak bareng, dan ada momen khusus buat mendoakan anak. Kalau di daerah bunda-bunda masih ada kething-kething atau keting keting adat Jawa seperti ini, seru banget kalau bisa diceritain juga. Selain nguri-uri budaya, kita juga bisa saling belajar makna di balik setiap tradisi yang mungkin kelihatan sederhana, tapi sebenarnya penuh doa dan harapan.