Sedikitpun aku tidak pernah menduga, bahwa aku dan
Ragib yang wajahnya persis Song Jong Ki versi lokal itu, akan ketemu lagi. Aku telah melupakan pertemuan di ho tel itu sama sekali. Waktu itu pesta pertunangan kakakku, dan situlah aku bertemu Ragib.
Dia bukan tamu. Bukan.
Dia di situ kerja. Jaga hidangan.
Tapi kami malah bertemu lagi dua minggu kemudian. Kali ini di parkiran sebuah pasar tradisional. Ragib tukang parkirnya.
"Hei, kamu di sini?" Sapaku ramah.
"Ya. Tiap hari."
"Bukannya kamu butler?"
"Sudah tidak lagi. Kemarin itu yg terakhir.”
"Oh." Aku mengangguk-angguk. "Oke, aku duluan."
"Silakan."
Aku balas dengan senyuman kecil, lalu melenggang ke dalam pasar. Baru beberapa langkah, terdengar lagi dia memanggilku.
Aku menoleh. "Ada apa?"
"Hati-hati tas kamu." Dia berseru.
Aku melihat sling bag yg melingkari tubuhku. Rasanya sudah cukup aman.
"Oke, sip." Aku kasih jempol, lalu masuk ke dalam pasar.
Walau hidup berkecukupan dan fasilitas, aku sering ke pasar tradisional. Kadang aku menemani Mama, dan kadang juga pergi sendiri. Bisa dibilang, aku sudah seperti anak laki-lakinya Mama.
Hari ini aku ke pasar karena Mama pesan agar aku mampir ke tukang daging langganannya. Aku melewati pasar ini setiap hari, dalam perjalanan ke kampus.
Pedagang daging itu tersenyum kala melihatku. Wajahku sudah familiar, saking seringnya aku ke sini.
Setelah selesai belanja, aku bermaksud langsung pulang. Sudah tengah hari, perutku mulai lapar.
Tiba-tiba, sebuah doro-ngan keras membuatku terjatuh. Seorang pria berlari dengan tas milikku di tangannya!
“Jam bret!” Aku berteriak, lantas bangkit lalu mengejar pelaku.
Tak jauh dariku, Ragib melihat itu kemudian langsung turun tangan. Kami kejar-kejaran. Aku paling belakang, sedangkan Ragib dan penja-hat itu di depanku.
Setelah berlari beberapa puluh meter, mereka membelok pada sebuah gang kecil. Aku kehilangan jejak.
Napas ini ngos-ngosan. Aku terus menyusuri gang-gang kecil di belakang pasar. Ua-ng, ponsel, kun-ci mobil, dan semua identitas berada dalam tas itu. Bisa dikatakan, di sana nya-waku berada. Tidak mungkin aku melepaskan begitu saja.
Entah sudah berapa jauh aku berjalan menyusuri gang tikus, ketika mata ini tertuju pada dua laki-laki yang sedang mengha-jar Ragib.
“Woi, berhenti!” ben-takku.
Sontak kedua preman itu menoleh. Salah seorang dari mereka langsung kukenali sebagai pelaku.
'Kembalikan tasku!"
"Ambil sendiri kalau bisa!" Pre-man bu-suk itu menan-tang, sambil menyibukkan diri menen-dang dan memu-kul Ragib.
Di atas tanah, Ragib sang juru parkir terus meringkuk.
Dengan gagah berani, aku mener-kam penjahat-penjahat. Sebelum Ragib terlanjur ma-ti!
Sebagai pemegang ban cokelat, mudah saja bagiku menundukkan mereka. Tidak butuh lima menit untuk membuat keduanya menci-um tanah. Aku bahkan belum apa-apa.
“Jangan main-main sama jagoan!” Aku melu-dah, menatap garang dua cecu-nguk itu. “minggat sana!!"
Mereka sontak berhamburan, lari tunggang-langgang menyelamatkan diri.
Ragib bangkit dengan susah payah. Alih-alih mengeluhkan tubuhnya yg babak belur, dia malah mengkhawatirkanku.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyanya.
“Harusnya aku yang tanya. Kamu mengenaskan sekali. Namamu siapa?”
“Ragib. Ragib Erizal.”
“Aku Sheila Kamalia.”
“Ya, aku tahu.”
“Tau dari mana?”
“Taunya Sheila saja. Waktu di hotel kemarin, aku dengar seseorang menyebut namamu.”
Ucapannya, entah mengapa, bikin aku deg-degan. Di antara kesibukannya melayani para tamu, Ragib masih sempat mengingat namaku. Jarang orang ingat aku pada pertemuan pertama. Karena aku memang tidak cukup layak untuk diingat. Aku tidak cantik seperti Mama, kakak dan adikku. Mereka cantik sekali.
Aku lebih mirip Papa. Mungkin itu sebabnya, di antara tiga anak gadis Papa, aku yg paling dekat dengannya. Aku pula yg dipersiapkan untuk meneruskan bisnis keluarga.
Ya. Aku tidak cantik. Tidak ada pemuda yang menoleh dua kali padaku, terlebih sampai ingat namaku.
Kelebihanku hanya satu. Aku lahir sebagai anak orang ka-ya.
🍁
DILEMA CINTA ANAK DURHAKA
Penulis : Issa Luna
KBM App
#foryoupage #masukberanda #novelonline #airapurnamasari #anakdurhaka











































































