Hari ini aku sedar… yang hilang bukan Tuhan. Tapi aku
Kadang dalam kehidupan sehari-hari, kita merasa jauh dari Tuhan dan berpikir bahwa Tuhan yang meninggalkan kita. Namun, melalui pengalaman pribadi yang saya alami, saya mulai sadar bahwa sebenarnya yang hilang adalah diri saya sendiri—karena saya terlalu sibuk dengan dunia, lupa mengingat nama-Nya, dan jarang bersujud dalam diamnya hati. Mengutip kata-kata dari karya #imankamil, sering kali kita lupa untuk menyebut nama Tuhan dan menghitung dosa-dosa tanpa malu, padahal Dia tidak pernah pergi. Kita cenderung mencari cahaya dan tanda-tanda di luar, padahal sumber cahaya sejati ada di dalam diri kita sendiri dengan mendekatkan hati pada-Nya. Pengalaman saya menunjukkan bahwa perubahan yang paling berarti terjadi saat kita mau mengakui kekhilafan dan mulai melangkah menapaki jalan hijrah, mendekatkan diri lewat doa, dzikir, dan pembelajaran agama. Dalam perjalanan itu, rasa malu dan kesedihan sering muncul, tapi itulah proses yang memurnikan jiwa untuk kembali pulang ke pelukan-Nya. Saya juga belajar pentingnya hening dan keheningan dalam kepala, yaitu saat diam memanggil Tuhan dengan suara hati yang tulus tanpa perlu kata-kata yang fasih. Melalui keheningan tersebut, saya justru menemukan ketenangan dan rasa rindu yang menekan antar nafas—suaranya lah yang menyatukan kembali hati saya dengan Sang Pencipta. Jadi, bila suatu hari kita merasa kehilangan, mungkin saatnya kita introspeksi dan bertanya pada diri sendiri, apakah kita sudah lupa menyebut nama Tuhan? Apakah kita sudah berhitung dosa dan berani meminta maaf? Saya yakin, dengan kesadaran ini, kita bisa memulai perjalanan kembali menemukan materi hidup yang hakiki, yaitu kedekatan dengan Tuhan yang sejati. Semoga refleksi ini bermanfaat bagi semua yang membaca dan semoga kita semua diberikan kekuatan untuk terus pulang ke pelukan-Nya setiap saat.























































