... Baca selengkapnyaJujur, kalimat “kenapa harus aku?” dulu kayak jadi mantra tiap kali hidup nggak sesuai harapan. Melihat orang lain kayaknya lebih beruntung, lebih didukung, lebih dianggap penting, bikin aku sering merasa kecil dan nggak berarti. Tapi lama-lama aku sadar, terus menerus mempertanyakan nasib malah bikin aku capek sendiri.
Satu titik balik buatku adalah ketika aku menerima bahwa hidupku memang nggak seberuntung orang lain, dan itu nggak apa-apa. Bukan berarti aku gagal, cuma jalanku beda. Ada orang yang terlihat mudah dapat segalanya, tapi kita nggak pernah tahu seberapa berat beban yang mereka simpan. Orang lain juga bertanya dalam diam, bukan cuma kita.
Aku mulai berhenti fokus ke pertanyaan “kenapa aku nggak seberuntung orang lain?” dan pelan-pelan ganti jadi “apa yang bisa aku lakukan dengan hidup yang aku punya sekarang?”. Dari situ, aku belajar kalau tidak semua orang harus tahu tentang kita, tidak semua orang harus paham rasa sakit yang kita lewati. Kadang cukup kita sendiri yang mengakui bahwa kita sudah berjuang sejauh ini.
Rasa tidak dianggap penting itu nyata. Pernah nggak sih kamu ada di situasi dimana kehadiranmu kayak nggak ngaruh? Di tongkrongan, di keluarga, di hubungan, bahkan di tempat kerja. Di titik itu aku belajar, kalau validasi orang lain memang menyenangkan, tapi bukan satu-satunya sumber kekuatan. Aku harus kuat, bukan supaya terlihat hebat di mata orang, tapi supaya diri sendiri punya sandaran ketika semuanya terasa kosong.
Kalimat “jika orang lain bisa, kenapa harus saya?” juga pernah mampir di kepalaku. Rasanya pengen banget ada orang lain yang maju duluan, ambil keputusan duluan, bertanggung jawab duluan. Tapi makin dewasa, aku menyadari: kadang memang giliran kita untuk melangkah. Bukan karena kita yang paling kuat, tapi karena kalau bukan kita, mimpi itu mungkin akan mati di tengah jalan.
Ada juga momen aku berhenti memaksa semua orang mengerti kondisiku. Tidak semua orang harus tahu tentang kita. Ada hal-hal yang cukup kita simpan, kita olah, kita sembuhkan sendiri pelan-pelan. Dari luar mungkin kelihatan kita sudah berhenti, sudah menyerah, padahal sebenarnya kita lagi istirahat dan belajar berdamai.
Kalau kamu lagi di fase mempertanyakan hidup, merasa nggak beruntung, atau merasa nggak dianggap penting, kamu nggak sendirian. Pelan-pelan coba ubah pertanyaan dari “kenapa harus aku?” jadi “apa yang bisa aku pelajari dari ini?” dan “bagaimana caranya aku tetap melangkah, walau perlahan?”. Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling beruntung, tapi siapa yang tetap berjalan meski sering tersandung.
Dan kalau butuh kalimat pengingat, anggap ini sebagai quotes bucin versi sayang diri: "Aku mungkin bukan yang paling beruntung, tapi aku tetap layak diperjuangkan—oleh diriku sendiri."