Pacaran Apa Hubungan Tanpa Status Akhirnya Menikah?
Tujuan berpacaran seharusnya saling mengenal karakter, nilai, dan kecocokan, bukan saling menyakiti.
Mengapa justru ada orang yang menyiksa atau melakukan kekerasan terhadap pacarnya? Ada beberapa kemungkinan.
Ingin menguasai pasangan (controlling behavior)
Ada orang yang menganggap pacarnya adalah "miliknya". Akibatnya, ia mengatur:
boleh berteman dengan siapa;
harus selalu memberi kabar;
tidak boleh menolak keinginannya;
bahkan menggunakan ancaman atau kekerasan jika tidak dituruti.
Emosi yang tidak terkendali
Sebagian orang tidak memiliki kemampuan mengelola kemarahan. Saat cemburu, kecewa, atau merasa ditolak, mereka melampiaskannya dengan kekerasan verbal, psikologis, bahkan fisik.
Pola yang dipelajari sejak kecil
Seseorang yang tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh kekerasan lebih berisiko menganggap perilaku tersebut sebagai sesuatu yang "biasa". Namun, ini bukan berarti semua orang dengan latar belakang demikian akan menjadi pelaku.
Kepribadian atau masalah psikologis tertentu
Pada sebagian kasus, perilaku menyakiti pasangan dapat berkaitan dengan gangguan kepribadian atau masalah psikologis yang memerlukan penanganan profesional. Namun, hal ini tidak bisa disimpulkan tanpa pemeriksaan oleh tenaga ahli.
Salah memahami cinta
Ada anggapan seperti:
"Kalau cemburu berarti sayang."
Padahal, cemburu yang berubah menjadi ancaman, penghinaan, atau kekerasan bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan perilaku yang tidak sehat.
Benar seperti yang Anda katakan
Pacaran idealnya menjadi masa untuk mengenal:
sifat asli pasangan;
cara menyelesaikan konflik;
kejujuran;
tanggung jawab;
cara menghargai orang lain;
kesesuaian nilai hidup.
Justru ketika seseorang sering menghina, memukul, mengancam, memaksa, atau mengendalikan, itu merupakan informasi penting bahwa hubungan tersebut tidak sehat. Dalam arti tertentu, masa pacaran memang berfungsi sebagai kesempatan untuk melihat apakah pasangan menunjukkan karakter yang layak untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Yang perlu diingat adalah, tujuan mengenal sifat pasangan bukan berarti harus bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Jika perilaku menyakiti sudah muncul, terutama berulang, itu adalah tanda yang patut dipertimbangkan dengan serius demi keselamatan dan kesejahteraan diri.
Jadi, meskipun tujuan pacaran adalah saling mengenal, proses itu kadang justru mengungkap sifat yang sebelumnya tidak terlihat. Ketika sifat yang muncul adalah kekerasan atau pengendalian, informasi tersebut membantu seseorang membuat keputusan yang lebih bijaksana tentang kelanjutan hubungan.





























































