Sebenarnya dalam lingkup sosial, apa sih yang membuat cara pandang pria dan wanita bisa dikatakan salah? Seringkali wanita yang selalu disalahkan karena pakaian, tingkah laku, energinya mengundang, dan lain-lain, walaupun sebenarnya ga da yang salah dari pihak wanita!
Budaya patriarki seringkali membuat orang lupa betapa pentingnya mendidik dan membesarkan anak laki-laki agar menjadi pria yang bertanggung jawab dan respect terhadap sesama.
Di konten ini, aku akan menjelaskan cara bagaimana kita (terutama perempuan) dapat mencegah diri sebelum terjadinya pelecehan seksual!
(Baca selengkapnya di Slide ya ✨)
Kalau kamu bisa membuat aturan di negara ini untuk melindungi korban pelecehan, apa aturan yang akan kamu buat? Tulis di kolom komentar yaaa! Kalau aku, hukuman m*ti dan ga pandang usia!
Suka dengan konten tentang mengingatkan diri kita mengenai kehidupan? jangan lupa follow aku supaya ga ketinggalan koten menarik lainnya! Jangan lupa juga klik hastag #OpinionbyVi untuk baca konten serupa yang menarik untuk disimak!
... Baca selengkapnyaWaktu pertama kali dengar istilah pelecehan verbal, aku juga sempat bingung: pelecehan verbal artinya apa sih? Kok banyak orang bilang “cuma bercanda”, tapi rasanya nggak enak banget di hati.
Secara sederhana, pelecehan verbal artinya tindakan merendahkan, mengganggu, atau mengobjektifikasi orang lain lewat kata-kata. Bentuknya bisa komentar, ejekan, godaan, atau ancaman yang bikin kita nggak nyaman, takut, atau merasa dilecehkan. Jadi bukan cuma soal fisik, tapi dampaknya bisa ke mental dan rasa aman kita.
Beberapa contoh pelecehan verbal yang sering kejadian:
1. **Catcalling di jalan**
Komentar seperti “Cantik, mampir dong”, siul-siulan, atau panggilan bernada seksual. Banyak yang nganggap ini pujian, padahal kita sama sekali nggak minta.
2. **Komentar tubuh dan pakaian**
Misalnya: “Bajumu kok ketat banget, pantesan digodain”, atau “Kamu gemukan ya, jadi kurang enak dilihat”. Komentar kayak gini sering dibungkus dengan alasan peduli, padahal menyakiti.
3. **Bercandaan berbau seksual di kantor/sekolah**
Contoh: jadiin tubuh seseorang bahan jokes, ngelontarin double meaning, atau sengaja ngomong kotor sambil ngeliatin kita. Kalau kita keliatan nggak nyaman dan mereka tetap lanjut, itu sudah pelecehan.
4. **Menghubungkan nilai diri dengan seksualitas**
Kalimat seperti “Kalau sayang, harus mau dong” atau “Masa segede itu belum pernah ngapa-ngapain?”. Ini termasuk pelecehan verbal yang menekan dan memanipulasi.
Pelecehan verbal artinya juga: sesuatu yang **tidak harus menyentuh fisik**, tapi cukup lewat kata-kata udah bisa bikin trauma. Sama seperti di konten utama yang bahas kalau penyebab utama pelecehan itu “kesempatan”, pelecehan verbal sering muncul karena pelaku merasa aman dan merasa hal itu dianggap biasa oleh lingkungan.
Cara aku pribadi menghadapi pelecehan verbal:
1. **Validasi perasaan sendiri**
Kalau kamu merasa nggak nyaman, berarti itu serius. Jangan gaslighting diri sendiri dengan “Ah mungkin aku baper”. Rasa tidak nyaman itu sinyal penting dari tubuh dan pikiran.
2. **Berani bilang tidak (No means no)**
Kalau masih aman, aku biasanya jawab tegas: “Saya nggak nyaman dengan cara kamu ngomong”, atau “Stop. Itu nggak lucu.” Mirip prinsip PANTS: “No means no” – penolakan kita nggak perlu dibungkus alasan panjang.
3. **Jaga jarak dan kurangi interaksi**
Kalau pelakunya teman kantor/kelas, aku usahakan untuk nggak sendirian bareng dia, dan pelan-pelan mengurangi kontak. Kadang diam + menjauh jauh lebih aman daripada debat panjang, apalagi kalau posisinya nggak seimbang (misalnya atasan vs bawahan).
4. **Speak up ke orang yang dipercaya**
Sama seperti bagian “Talk about secrets that upset you” di konsep PANTS, kalau ada perkataan yang bikin kamu takut, malu, atau sedih, cerita ke orang yang kamu percaya: teman, keluarga, atau konselor. Kadang kita cuma butuh didengar dan diyakinkan bahwa apa yang kita alami itu valid.
5. **Catat kejadian sebagai bukti**
Kalau pelecehan verbal terjadi berulang (di kantor, kampus, atau lingkungan organisasi), aku sarankan simpan bukti: screenshot chat, rekaman, atau catatan waktu & tempat. Ini bisa dipakai kalau suatu saat kamu mau lapor ke HRD, guru, atau pihak berwenang.
Intinya, pelecehan verbal artinya bukan sekadar kata-kata biasa. Dampaknya bisa ke kepercayaan diri, rasa aman, bahkan cara kita memandang tubuh sendiri. Jadi wajar banget kalau kamu merasa terganggu.
Kita nggak bisa selalu mengontrol mulut orang, tapi kita bisa:
- Menguatkan batas diri (boundaries)
- Mengedukasi orang sekitar, termasuk anak laki-laki, tentang rasa hormat
- Dan saling jadi support system buat korban, bukan menyalahkan mereka.
Kalau kamu sendiri pernah kena pelecehan verbal, kamu boleh banget share pengalaman atau cara kamu menghadapinya. Bisa jadi cerita kamu membantu orang lain yang lagi berjuang di situasi yang sama.