Dulu BB ku 70 kg
Dulu angka di timbangan selalu berhenti di 70 kg. Bukan cuma soal berat badan, tapi juga rasa malas, gampang capek, dan kurang percaya diri. Sampai akhirnya satu keputusan kecil diambil: mulai berubah.
Hari pertama menjalani intermittent fasting (IF) terasa berat. Perut lapar, pikiran ingin menyerah. Tapi ada satu prinsip yang dipegang: “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?” Pelan-pelan tubuh mulai beradaptasi. Jam makan lebih teratur, pilihan makanan lebih bersih.
Di sisi lain, olahraga mulai jadi rutinitas. Awalnya cuma gerakan ringan—jalan cepat, squat, dan sedikit latihan kardio. Nafas ngos-ngosan, keringat berlebihan, tapi justru di situlah rasa puas muncul. Hari demi hari, latihan makin meningkat: dari sekadar gerak, jadi disiplin.
Tak lupa, tubuh juga “dibantu” dari dalam. Multivitamin rutin diminum—magnesium untuk pemulihan otot, vitamin D3 & K2 untuk kekuatan tubuh, minyak ikan untuk metabolisme, dan B complex untuk energi. Hasilnya? Badan tetap fit walau defisit kalori.
Minggu demi minggu berlalu.
70 kg turun jadi 65 kg… lalu 60 kg… sampai akhirnya angka itu muncul: 56 kg.
Bukan cuma angka yang berubah. Tubuh lebih ringan, gerakan lebih cepat, stamina meningkat, dan yang paling terasa—mental jadi lebih kuat.
Perjalanan itu bukan instan. Ada rasa malas, ada godaan, ada hari gagal. Tapi satu hal yang bikin berhasil: tetap lanjut, walau pelan.
Karena pada akhirnya, bukan diet atau olahraga yang paling kuat—
tapi konsistensi yang tidak pernah berhenti.
Dalam pengalaman saya sendiri, perjalanan menurunkan berat badan bukan hanya soal angka di timbangan, tetapi juga soal perubahan gaya hidup yang berkelanjutan. Awalnya saya merasakan kesulitan menjalani intermittent fasting (IF), terutama karena rasa lapar dan godaan untuk menyerah sangat kuat pada hari-hari pertama. Namun saya menyadari bahwa IF bukan sekadar metode makan, melainkan sebuah cara untuk melatih disiplin dan mengatur pola makan lebih teratur. Selain IF, memulai olahraga juga sangat berperan penting walaupun dimulai dari aktivitas ringan seperti jalan cepat dan squat. Hal yang menarik adalah, walaupun awalnya terasa sulit dan membuat nafas ngos-ngosan, perlahan kebugaran saya meningkat dan semangat untuk berolahraga semakin besar. Rutin latihan ini bukan hanya membantu pembakaran kalori, tetapi juga memperkuat otot dan meningkatkan stamina yang berdampak pada aktivitas sehari-hari. Multivitamin yang saya konsumsi juga membantu menjaga energi dan mempercepat pemulihan otot, terutama magnesium, vitamin D3 & K2, minyak ikan, dan B complex. Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tubuh yang sehat memerlukan asupan yang lengkap, bukan hanya fokus pada kalori masuk dan keluar. Satu pelajaran penting adalah bahwa progres tidak selalu linear; ada hari ketika saya malas atau gagal mengikuti rencana diet dan olahraga. Namun konsistensi adalah kuncinya—melanjutkan usaha walau perlahan tetap lebih baik daripada menyerah sama sekali. Perubahan mental ini membuat saya jauh lebih percaya diri dan termotivasi untuk menjaga kebiasaan sehat. Bagi siapa pun yang ingin memulai perubahan serupa, saya sangat menyarankan untuk memulai dari hal kecil dan realistis, jangan terlalu memaksakan diri pada awalnya agar tidak cepat frustasi. Kombinasikan pola makan yang bersih, olahraga rutin, dan dukungan nutrisi yang tepat. Ingat bahwa transformasi fisik juga membawa perubahan positif untuk kesehatan mental dan kualitas hidup secara keseluruhan.
































