Bacha Santai : Kim Ji Yeong Lahir Tahun 1982
Kalau nonton film Kim Ji Yeong Born in 1982 yang dibintangi Gong Yoo sama Jung Yu Mi, lalu kamu sebal sama sikapnya Gong Yoo selaku Jung Dae Hyun a.k.a suaminya Kim Ji Yeong di bagian awalnya. Tunggu dulu!
Berlanjut kamu sensi berat sama tingkah ayahnya Kim Ji Yeong yang malah nyalahin anaknya waktu hampir dilecehin sesecowok di bus saat pulang sekolah pada suatu malam, tapi syukurnya diselamatin sama seorang ibuk-ibuk. Tahan dulu!
Kamu bisa jadi sensi sama tingkah neneknya Kim Ji Yeong kalau baca bagian awal bukunya. Kamu bisa banget nyeletuk, "YA TUHAN NEK, SUMPAH NGGAK HABIS THINKING SAMA PIKIRANMU, NEK" waktu tau bagaimana perasaan si nenek ke suaminya -- ofkors kakeknya Kim Ji Yeong dong -- yang seumur-umur nggak pernah selengki atau jahatin perasaan istri, tapi nggak mau turun ke ladang untuk bertani padahal keluarga mereka nyari hidup dari situ. Lah, ini gimana sih?
Saking tingginya posisi kaum laki-laki? Ih, demi ... aku jadi inget potongan novel Indonesia berlatar Bali yang ngisahin seberapa istimewanya kaum laki-laki sampe posisi perempuan serasa hidup cuma jadi "pijakan" di keluarga, "mainan", dan lain-lain.
By the way, novel itu DNF di aku karena berat banget dan bikin jiwa aku dry. Tapi, soon kubaca lagi. Mana tau dulu aku DNF karena belum sedewasa sekarang pas bacanya. Apalagi kan finally aku bisa dengan lebih santai ngelarin Kim Ji Yeong Born in 1982 ini.
Bukunya Cho Nam Joo yang diterjemahin sama penerbit Gramedia ke Bahasa Indonesia ini, seolah bikin something terbersit di pikiran Ka Acha. Tentang luka-luka dari generasi tua, sangat bisa diturunkan dan diwariskan ke generasi muda.
Tapi, tergantung kekuatan individu di generasi muda itu juga sih. Lihat bagaimana nyeseknya kehidupan ibunya Kim Ji Yeong, usaha beliau menjaga kesetaraannya dalam mengasuh anak walaupun banyak goyahnya karena mentalnya juga diobok-obok pemahaman sosial di sekitarnya, dan masih banyak lagi.
Filmnya ngasih satu cermin. Bukunya ngasih lebih banyak.
So ... personally, aku merasa lebih nyaman baca buku ini setelah nonton filmnya sih. Biar nggak geregetan juga sama bagian penutup film maupun bukunya. Saling melengkapi lah ya.








































