Aku kira cuma GERD ternyata jiwaku yang sekarat
Hay...
Tahun 2015, aku sering mengalami napas pendek yang datang tiba-tiba dan migrain hebat hampir setiap hari. Namun saat itu aku memilih mengabaikannya. Kupikir hanya kelelahan biasa.
Hingga tahun 2020, aku memutuskan pergi ke poli penyakit dalam dan didiagnosis GERD. Aku tidak terlalu kaget — sebagai pecinta kopi dan makanan pedas, rasanya itu seperti konsekuensi dari gaya hidupku sendiri 🥴
Selama 4 tahun aku rutin berobat dan merasa semuanya masih bisa terkendali… sampai Juli 2024.
Hari itu menjadi kejadian terbesar dalam hidupku. Anak keduaku meninggal dunia. Rasanya seperti dunia runtuh seketika, separuh jiwaku ikut pergi.
Setelah itu, fisikku mulai “berteriak”.
Aku hampir setiap hari pingsan, sesak napas, migrain tak tertahankan, dan kehilangan tenaga. Aku mengira lambungku semakin parah.
Namun setelah diperiksa, lambung dan paru-paruku dinyatakan normal. Dari situlah aku dirujuk ke poli jiwa.
Selama hampir satu tahun menjalani pengobatan, aku didiagnosis anxiety disorder dan adjustment disorder dengan depresi.
Ternyata yang sakit bukan hanya tubuhku — tapi juga hatiku.
Aku beberapa kali harus mengganti obat karena efek sampingnya:
1️⃣ Amitriptyline — membantu menenangkan, tapi membuatku sangat mengantuk. Kakiku terasa ringan seperti tidak menapak, bahkan aku bisa tidur sangat lama. Karena harus bekerja, aku meminta pergantian obat.
2️⃣ Sertraline — tidak membuatku mengantuk, namun tubuhku tidak cocok. Aku mengalami gangguan pencernaan terus-menerus.
3️⃣ Maprotiline — inilah yang akhirnya cocok denganku. Efek kantuknya pas, tubuhku bisa beradaptasi, dan perlahan aku mulai merasa lebih stabil.
Awalnya dokter memberiku dosis satu tablet di malam hari, lalu dinaikkan menjadi satu tablet malam dan setengah tablet siang.
Alhamdulillah, setelah 4 bulan mood dan emosiku jauh lebih stabil. Dokter bahkan mulai mengobservasi kemungkinan untuk melepas obat secara bertahap.
Hari ini aku sadar —
yang dulu kukira hanya GERD, ternyata adalah luka batin yang belum sempat kupeluk.
Ini adalah perjuanganku untuk sembuh.
Dan jika hari ini kamu juga sedang berjuang entah melawan luka yang terlihat, atau yang diam-diam kamu simpan sendiri, aku ingin kamu tahu satu hal:
kamu tidak sendirian.
Tidak apa-apa jika langkahmu pelan.
Tidak apa-apa jika kamu masih sering merasa lelah.
Bertahan sampai hari ini saja sudah menjadi bentuk keberanian yang luar biasa.
Percayalah luka tidak selalu harus hilang untuk kita bisa kembali hidup. Kadang kita hanya perlu belajar memeluknya, lalu berjalan pelan-pelan bersamanya.
🤍 Aku pernah sakit.
Tapi hari ini, aku memilih untuk pulih.
#AkuPernah #mentalhealthawareness #mentalhealthjourney #anxietyawareness #depressionsupport






































































semangat ka... peluk jauh🤗 aku juga mau cerita dikit ka aku juga ada rencana mau periksa ke dokter spesialis penyakit dalam perihal sakit keluhan yang sering migrain sama telinga sakit berdenging. Tapi masih takut sama diagnosa dokter nya. Dan memang aku juga orang nya gampang stress atau kepikiran kalau ada masalah.