LARA SANG KAPTEN 3
Membalas
Suara Aisyah melengking dari seberang telepon, memecah lamunan Zidane yang sedang tenggelam dalam penyesalan di ruang kerjanya.
Namun, Zidane tidak menjawab. Pikirannya masih tersangkut di masa lalu. Di malam jaha nam delapan tahun silam, ketika ia menghancurkan harga diri seorang wanita bernama Larasati Najma.
***
_Flashback – 7 Tahun Lalu_
Malam itu hujan deras mengguyur Ibu kota. Petir menyambar, seirama dengan gem uruh di dada Lara yang berdiri gemetar di ambang pintu ruang kerja Zidane.
Ia mengenakan _lingerie_ sutra putih. Wajahnya polos tanpa riasan, namun matanya memancarkan keputusasaan yang menye dihkan. Ia baru saja memberanikan diri melakukan hal terh ina bagi seorang istri: _Menge mis sen tuhan suaminya sendiri._
“Kapten…” panggil Lara lirih.
Zidane bahkan tidak menoleh dari peta militernya. “Keluar, Lara. Aku sibuk.”
Lara tidak bergerak. Ia melangkah masuk, mengunci pintu, lalu berjalan mendekat hingga aroma tu buhnya yang segar terci um oleh Zidane.
“Saya… saya datang untuk menagih janji, Kapten.”
Zidane akhirnya mendongak. Matanya menyapu penampilan Lara dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan datar. Dingin. Tanpa hasr at sedikit pun.
“Janji apa? U ang belanja? Sudah kutransfer.”
“Bukan u ang.” Lara menelan ludah, menekan rasa malunya hingga ke dasar. “Sudah dua tahun kita menikah. Papa… Profesor Maheswara sakitnya semakin parah. Beliau ingin menimang cucu. Beliau menagih penerus Maheswara.”
Lara berlutut di samping kursi Zidane. Tangannya yang gemetar menye ntuh lutut suaminya.
“Tolong, Mas… Sekali saja. Anggap ini tugas. Anggap ini kewajiban. Penuhi hak saya sebagai istri, agar saya bisa memberikan Papa cucu sebelum beliau pergi.”
Zidane men epis tangan Lara kasar, seolah baru saja disentuh oleh pen gemis kusta. Ia berdiri, menjulang tinggi di hadapan Lara yang bersimpuh.
“Kau minta dise ntuh?” Zidane menyeringai sinis. “Kau ingin aku tidur denganmu? Asal kau tahu, Lara… bagiku, menyen tuhmu itu sama saja dengan mengkhianati kesucian cintaku pada Aisyah.”
Hati Lara hancur berkeping-keping.
“Tapi saya istrimu yang sah, Mas! Aisyah itu masa lalu!” teriak Lara dalam tangis.
“Aisyah adalah masa depanku! Kau hanya _kewajiban_ yang dipaksakan Papa!” bentak Zidane.
Zidane berjalan ke rak buku, mengambil sebuah majalah medis, lalu melem parnya ke wajah Lara. Majalah itu jatuh terbuka di lantai, menampilkan artikel tentang teknologi terbaru: _IVF (Bayi Tabung)_.
“Kau ingin an ak, kan? Kau ingin jadi pahlawan di mata Papa, kan?” Zidane menunjuk majalah itu dengan ujung sepatunya. “Pakai itu. Kita lakukan inseminasi buatan.”
Lara ternganga. Wajahnya pucat pasi. “A-apa? Ba yi tabung? Tapi kita sehat, Mas! Kenapa harus lewat tabung?”
“KARENA AKU TIDAK SUDI MENYE N TUHMU!”
Teriakan Zidane menggelegar.
“Aku tidak bisa ere k si melihatmu, Lara. Kau tidak menarik bagiku. Jadi, kalau kau mau a nak, kita pakai jar um s untik. Dokter akan mengambil sper maku, lalu memasukkannya ke rahimmu. Tanpa se ntuhan. Tanpa keringat. Tanpa dosa bagiku.”
Lara membeku. Air matanya mengering seketika.
Malam itu, Lara belajar satu hal: Di mata suaminya, ia tak lebih dari sekadar _inkubator_. Mesin pencetak an ak.
“Baik, Kapten,” bisik Lara akhirnya, suaranya mati. “Saya terima tawaran itu. Asalkan Anda berjanji… an ak itu nanti akan mendapatkan hak waris penuh sebagai Maheswara.”
Zidane tertawa meremehkan. “Ambil saja warisan itu. Aku tidak butuh. Yang penting aku tidak perlu menyentuhmu.”
_Flashback End_
Lara Sang Kapten
Ditulis oleh MrsFree
Selengkapnya baca di K-B-Mapp























































