LARA SANG KAPTEN 2
“Bunda… apa kita benar-benar tidak butuh Ayah?”
Suara kecil itu memecah keheningan kamar apartemen yang temaram. Aryan, bocah lelaki itu, menatap ibunya dengan mata hitam legam yang menyimpan kedewasaan sebelum waktunya.
Lara tersentak pelan, lalu tersenyum getir sambil membelai rambut putranya yang lembut.
“Tidak, Sayang. Kita tidak butuh siapa pun yang tidak menginginkan kita. Kau punya Bunda, dan Bunda punya Aryan. Itu lebih dari cukup untuk menaklukkan dunia.”
Lara mengecup kening Aryan, menyalurkan setiap inchi kekuatan yang tersisa di tu buhnya. Ia membaringkan tubuh mungil itu di ranjang _king size_ berbalut seprai sutra. Aryan terlelap tak lama kemudian, wajah damainya menutupi lu ka batin akibat pengabaian bertahun-tahun dari ayah kandungnya sendiri.
Apartemen mewah ini adalah benteng pertahanan Lara. Di sini sunyi. Di sini tenang. Jauh dari hiruk pikuk kemunafikan rumah tangga Maheswara.
_Drrrt… Drrrt…_
Ponsel di nakas bergetar hebat, seperti detak jantung orang yang sedang sekarat. Nama _'Kapten Zidane'_ berkedip-kedip di layar, menuntut perhatian.
Lara menatap layar itu dingin. Tanpa emosi. Dulu, satu panggilan dari Zidane bisa membuat jantungnya berdebar bahagia. Kini? Getaran itu hanya gangguan kecil yang harus disingkirkan.
Lara menekan tombol _power_ lama. Layar ma ti. Gelap.
“Nikmatilah pilihanmu, Kapten. Nikmatilah surga bersyariah yang kau bangun di atas air mataku,” desis Lara, lalu memejamkan mata, menjemput mimpi indah pertamanya dalam delapan tahun.
***
Sementara itu, di kediaman mewah Maheswara, neraka baru saja bocor.
“BUNDAAAA!! MAU BUNDAAA LARA!! HUAAAAA!!”
Teriakan Nabila melengking tinggi, memantul di dinding-dinding marmer, menciptakan gema yang menyakitkan telinga. Gadis kecil itu bukan lagi putri manis penurut. Ia telah berubah menjadi monster kecil yang terluka.
_PRANG!_
Sebuah vas bunga kristal melayang, menghan tam lantai hingga berkeping-keping.
Para asisten rumah tangga menunduk ketakutan di sudut dapur, tak berani mendekat. Kapten Zidane Maheswara berdiri kaku di tengah ruang keluarga yang kini mirip kapal pecah. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk otak militernya.
Di medan pebrang, Zidane bisa memimpin pasukan menghadapi hujan pelu ru dengan tenang. Tapi di sini? Di rumahnya sendiri? Ia lumpuh menghadapi tangisan satu an ak kecil.
Dan di mana Aisyah? Di mana sang 'Bidadari Surga' yang katanya ibu kand ung Nabila?
Aisyah duduk bersandar di sofa beludru, kakinya diselonjorkan dengan manja. Wajah cantiknya ditekuk masam, bibirnya mengerucut sebal. Bukannya menenangkan anaknya yang histeris, ia justru sibuk memijat pelipisnya sendiri, seolah dialah korban paling menderita di sini.
“Mas… tolong dong bikin dia diam! Kepalaku mau pecah!” rengek Aisyah, suaranya mendayu-dayu, manja namun penuh tuntutan egois.
Zidane menoleh, menatap wanita yang ia perjuangkan mati-matian itu dengan tatapan tak percaya. “Aisyah, dia a nakmu. Dia butuh pelukanmu. Kenapa kau malah duduk di situ?”
Aisyah mendengus. “Aku sedang tidak enak badan, Mas! Lagian dia itu kenapa sih? Cuma ditinggal Lara saja lebay banget. Mas, aku lapar. Aku ngidam _Spaghetti Carbonara_ buatanmu yang _creamy_. Cepetan bikin dong, itung-itung perayaan kecil karena benalu itu sudah pergi dari rumah kita.”
_DEG._
Dar ah Zidane mendidih.
Lara Sang Kapten
Ditulis oleh MrsFree
Selengkapnya baca di K-B-Mapp












































