BERSINAR USAI BERCERAI 4
Bersinar Usai Bercerai (TAMAT) – anquindienna
Tersedia di aplikasi KBM App
Part 4
Davika menyeret dua koper keluar kamar sambil menggenggam tangan Keenan. Langkahnya berat, hatinya dipenuhi keraguan: pulang ke rumah ibunya atau mencari tempat lain? Namun selain rumah itu, ia tak tahu harus ke mana.
“Pa, andai Papa masih ada, mungkin Vika enggak akan segamang sekarang,” gumamnya. Air mata kembali jatuh.
Ayahnya, Diaz, telah lama meninggal, meninggalkan luka mendalam bagi Davika, Aldo, dan Irvan. Lelaki paruh baya itu mengembuskan napas terakhir di angkutan umum saat hendak menuju rumah Aldo untuk menemui cucu pertamanya. Bukan karena kecelakaan—Diaz hanya terlihat tertidur, lalu tak pernah bangun lagi meski dibangunkan sopir dan penumpang lain.
Yang lebih menyakitkan, keluarga mengetahui kabar itu dari unggahan media sosial di aplikasi berlogo F biru. Sebuah foto pria paruh baya tanpa identitas viral dengan caption belasungkawa karena meninggal di dalam bus. Salah satu teman Aldo mengenali ciri-cirinya dan segera memberi kabar. Tangis keluarga pun pecah. Saat itu Davika baru tiga bulan rujuk dengan Rafi dan menangis sejadi-jadinya.
“Pa, Vika harus bagaimana?” Tenggorokannya tercekat.
Ia melirik ke ruang tamu. Rafi duduk santai memainkan ponsel sambil sesekali tersenyum sendiri, seolah tak ada apa-apa.
“Sempat-sempatnya kamu tersenyum, Kak, setelah tega mengusirku dan Keenan,” batin Davika pahit. Tak ada penyesalan di wajah lelaki yang telah ia cintai lebih dari lima tahun itu.
“Kak, Vika pamit.” Davika menghampiri dan mencium tangan Rafi. Lelaki itu sempat mengernyit saat melihat sikapnya, namun Davika memberi kode agar Keenan tak tahu masalah mereka.
“Hati-hati ya, jagoan Papi!” ujar Rafi sambil mengacak rambut Keenan.
“Papi enggak ikut?” tanya Keenan polos.
“Papi banyak kerjaan, Sayang. Keenan perginya sama Mami aja ya,” cepat Davika menyela.
“Oke! Kalau Papi udah enggak sibuk nyusul Keenan sama Mami ya? Promise?”
Rafi hanya mengangguk.
Tak lama, Davika dan Keenan meninggalkan apartemen. Keenan terus tersenyum sepanjang perjalanan tanpa tahu hati ibunya sedang retak.
♡♡♡
Kini Davika berdiri di depan gerbang rumah ibunya. Dadanya berguncang hebat. Ia takut—apakah keluarganya masih menerima, atau justru menertawakan kebodohannya?
“Mami, kok diem aja sih? Ayo masuk! Keenan udah kangen sama Nenek!”
Tanpa menunggu, Keenan berseru, “Assalamualaikum!”
Pintu terbuka. Erna, ibunya, muncul dengan wajah yang masih cantik di usia hampir lima puluh.
“Waalaikum salam. Eh, Keenan cucu Nenek yang ganteng. Sini, Sayang, masuk!”
Davika mencium tangan ibunya.
“Tumben pulang! Kirain udah enggak inget sama Mama,” sindir Erna.
“Bisa nanti aja enggak, Ma, ngobrolnya? Tunggu Keenan tidur,” jawab Davika pelan.
Keenan langsung memeluk neneknya. “Nenek! Keenan kangen banget!”
“Nenek juga kangen banget sama Keenan,” balas Erna hangat, menciumi wajah cucunya.
“Nenek tahu enggak, Papi tumben baik ngizinin Keenan sama Mami nginep lama di sini!”
Erna mengernyit. “Kok bawa koper besar?”
“Vika boleh istirahat dulu enggak, Ma?”
Tanpa banyak bicara, Erna membantu membawa koper ke kamar Davika—kamar yang tetap ia rawat meski dua tahun tak ditempati.
Setelah Keenan diajak Irvan bermain, Erna menelepon Aldo.
“Al, lagi sibuk enggak?”
“Enggak, Ma. Ada apa?”
“Adik kamu... Vika datang bawa koper. Apa dia berantem sama Rafi lagi?”
“Mama ngapain sih nerima Vika? Dia udah lama enggak nganggap kita keluarga!” suara Aldo meledak.
“Mama enggak bisa, Al. Biar bagaimana pun Vika tetap anak Mama.”
“Terserah Mama aja! Yang jelas Aldo belum bisa bersikap baik-baik aja pada Vika.”
Telepon ditutup. Erna lalu kembali menghampiri putrinya, menatap wajah sembap itu.
“Vika, Mama pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?”









































