BERSINAR USAI BERCERAI 10
Bersinar Usai Bercerai (TAMAT) – anquindienna
Part 10
“Mbak Vika, enggak kenapa-kenapa?” teriak tetangga panik saat melihat Davika ambruk. Wanita itu segera meraih tubuh Davika yang pucat.
“Bu… bisa bantu saya masuk ke rumah?” pinta Davika menahan nyeri di perutnya.
Tetangga itu langsung membopongnya, mengetuk pintu rumah Erna. Irvan segera membantu membaringkan Davika di kursi ruang tamu.
“Mami, kenapa?” tanya Keenan polos sambil menggoyang lengan ibunya.
“Perut Mami sedikit sakit, Sayang,” jawab Davika lirih sambil menggigit bibir menahan nyeri.
Keenan melihat koper di samping ibunya. “Mami habis pulang ya? Kok enggak ajak Keenan? Keenan kangen sama Papi… kapan Papi jemput kita?”
Pertanyaan itu membuat dada Davika kembali sesak. Bayangan perselingkuhan Rafi kembali menghantui. Napasnya tercekat, perutnya semakin nyeri. Irvan sigap mengajak Keenan pergi.
“Keenan, ikut Om dulu ya. Biar Mami istirahat.”
Setelah tetangga pamit, Davika masih memegangi perutnya. Ia mencoba berdiri mengambil air.
“Berhenti mikirin Rafi…” batinnya. Namun semakin ditahan, luka itu semakin menyiksa. Tangisnya pecah, hingga akhirnya ia kembali tak sadarkan diri.
Erna yang baru pulang langsung panik melihat putrinya tergeletak di dapur. Ia segera memesan taksi online dan membawa Davika ke klinik.
“Bu, saya sudah bilang, Bu Davika harus mengurangi beban pikiran. Asam lambungnya naik karena stres berlebih,” jelas dokter.
“Baik, Dok. Terima kasih,” jawab Erna.
Di bangsal, Erna mengelus tangan putrinya sambil menangis. “Apa kamu masih mencintai Rafi, Nak? Mama harap kamu bisa melupakan dia…”
Ponselnya berdering. “Assalamualaikum, kenapa Van?”
“Keenan nyariin Mami terus, boleh Irvan ke klinik?” tanya Irvan.
“Kasih ke Keenan ya.”
“Halo, Nek. Mami mana?” tanya Keenan.
“Mami lagi sakit, Sayang. Doain ya biar cepat sembuh.”
“Iya, Nek. Bilangin Mami jangan lama-lama sakitnya.”
Tak lama, Davika sadar. “Ma… maaf ya, Vika merepotkan. Mama bawa Vika ke sini sama siapa?”
“Enggak apa-apa, Sayang. Kamu istirahat saja.”
“Ma… Vika minta maaf… Vika banyak dosa…” air mata kembali menggenang.
“Hush, jangan ngomong gitu. Mama sudah maafin kamu. Masa lalu biarlah berlalu,” ucap Erna sambil memeluknya.
“Sekarang cerita sama Mama, apa yang terjadi hari ini?” tanya Erna lembut.
Davika pun menceritakan semuanya—apa yang ia lihat di apartemen, juga pengakuan petugas kebersihan. Tangisnya pecah lagi.
“Cukup, Vika. Lelaki seperti Rafi enggak pantas kamu tangisi. Bangkit, Sayang,” ujar Erna menenangkan.
Davika mengangguk, mencoba menguatkan diri. Tiba-tiba ponselnya berbunyi.
“Vik…” pesan dari Rafi.
Ia mengabaikannya.
“Davika, Kakak perlu ngomong sama kamu.”
Tetap diabaikan.
Telepon pun masuk, namun Davika hanya menatap layar tanpa menjawab.
Pesan panjang kembali muncul.
“Kakak mau ngomong… Kakak sudah nikah siri sama Natasha. Sambil nunggu akta cerai kita resmi. Jadi Keenan sudah punya mama baru. Kakak boleh kenalin Natasha ke Keenan?”
Davika terdiam. Hatinya terasa seperti dihantam berkali-kali. Luka yang belum sembuh kini kembali disayat.
Ia menggenggam ponselnya erat, menahan air mata yang kembali mengalir. Namun kali ini, ia memilih diam.
---
Baca selengkapnya di aplikasi KBM App














































