BERSINAR USAI BERCERAI 5
Bersinar Usai Bercerai (TAMAT) – anquindienna
Tersedia di aplikasi KBM App
Part 5
“Vika, Mama pengen tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?”
“Kak Rafi talak aku, Ma, hanya karena Vika update status instagram ngucapin selamat atas kelahiran baby-nya Kak Aldo dan Kak Chika.”
Davika menangkupkan wajahnya dan mulai sesenggukan. Ia tak habis pikir rumah tangganya terancam kandas hanya karena sebuah status media sosial. Susah payah ia mengorbankan segalanya demi Rafi, tetapi lelaki itu justru membuangnya dengan alasan yang menurutnya tak masuk akal.
“Dia talak kamu hanya karena itu? Harusnya dari dulu kamu dengerin Mama. Apa Mama bilang? Rafi tuh enggak akan pernah berubah!” geram Erna, menahan amarah melihat anak gadisnya kembali tersakiti.
“Vika juga enggak ngerti, Ma. Kenapa Kak Rafi tega melontarkan kata talak pada Vika.” Air mata Davika kembali luruh, napasnya tersengal menahan sesak.
Dalam tangis itu, Davika teringat bagaimana ia selama ini berusaha berbakti pada suaminya. Sebulan setelah melahirkan Keenan, Rafi justru memaksanya menjalani diet ketat karena berat badannya dianggap tak sesuai standar.
“Vik, Kakak udah daftarin kamu gym di Sylver Gym. Mulai besok kamu harus nge-gym dan berhenti makan nasi. Kakak enggak suka lihat penampilan kamu sekarang, kayak ibu-ibu umur tiga puluh tahunan,” ujar Rafi kala itu tanpa memedulikan perasaan Davika.
Ucapan itu menghantam hati Davika yang baru sebulan melahirkan. Tubuhnya memang belum kembali ideal: wajah kusam, rambut tak teratur, tubuh berbau ASI, dan berat badan naik hampir tiga puluh kilogram. Namun baginya itu wajar setelah melahirkan.
“Kak, aku baru sebulan melahirkan. Wajar kalau berat badanku belum ideal.”
“Makanya Kakak daftarin kamu gym. Kamu enggak malu tiap orang bilang aura kecantikanmu hilang? Kakak sebagai suami aja tersinggung,” balas Rafi semakin tajam.
Davika berusaha menahan diri. Ia tak ingin pertengkaran membesar.
“Bisa enggak kita tunda sampai Keenan usia enam bulan? Aku takut ASI-nya enggak lancar kalau aku diet sekarang.”
“Alah, artis aja habis lahiran badannya bagus karena olahraga dan diet ketat!”
“Tapi aku bukan artis, Kak. Aku ibunya Keenan dan bayi itu berhak dapat ASI eksklusif.”
Rafi tetap keras kepala. Menurutnya, ASI bisa diganti susu formula terbaik karena orang tuanya mampu membeli apa pun untuk Keenan.
“Ini bukan soal harga susu formula, Kak. Aku cuma minta waktu enam bulan.”
“Udah enggak usah drama nangis. Mulai besok kamu harus nge-gym. Kalau enggak nurut, berarti kamu enggak berbakti pada suami.”
Dengan terpaksa Davika menuruti keinginan itu. Selama tiga bulan ia mengonsumsi susu diet, gym tiga kali seminggu, dan menahan makan. Berat badannya memang turun drastis, wajahnya kembali cantik, tetapi hatinya tak bahagia. Ia sempat mengalami baby blues ringan, bahkan pernah merasa Keenan penyebab semua penderitaannya karena ia tak mampu memberi ASI eksklusif seperti yang diinginkan.
Tak hanya tubuh, cara berpakaian pun diatur Rafi. Ia ingin Davika selalu tampil modis, wangi, dan seksi agar membanggakan dirinya di depan teman-teman genk mobilnya. Ironisnya, dalam urusan nafkah Rafi sangat pelit. Davika hanya diberi sepuluh ribu rupiah sehari.
Saat tinggal di rumah mertua, kebutuhan makan masih terpenuhi karena ada asisten rumah tangga yang memasak sesuai aturan diet Rafi. Namun sejak pindah ke apartemen, Davika sering menahan lapar karena uang itu tak cukup untuk dirinya dan Keenan.
Kini, sambil menyeka air mata, Davika baru benar-benar menyadari betapa selama lima tahun ia diperbudak cinta dan obsesi lelaki yang salah.
Suara ketukan pintu menghentikan tangisnya. Erna segera membuka pintu, dan Aldo masuk dengan wajah penuh amarah.
“Sini kamu!” Aldo menarik lengan Davika kasar, bara kemarahan menyala di matanya.












































