KULEPAS SUAMIKU SETELAH 30 HARI (2)
Bab 2 - Kulepas Suamiku Setelah 30 Hari
“Kemana?” tanyaku pada Omar.
Saat itu aku sedang di kamar, pintunya kubiarkan terbuka.
“Masjid,” jawabnya ketus.
Kudengar azan Subuh berkumandang dari masjid.
“Biar aku yang tutup pintunya dari dalam,” kataku sambil berlari kecil mendekati Omar.
“Nggak usah,” katanya tanpa menoleh.
Tanpa mengucapkan salam ia berjalan melewatiku menuju ke pintu depan.
Kupandangi punggungnya dari belakang, bahu bidangnya yang tertutup baju koko putih terlihat gagah. Menatapnya membuat hatiku berdesir.
Aku hanya punya waktu 30 hari untuk menatapnya seperti ini. Batinku.
Aku tetap berdiri di tempat yang sama, melihatnya menghilang di balik pintu.
Tidak berapa lama, terdengar suara derit pintu pagar yang dibuka. Kualihkan pandanganku pada layar cctv di ruang tengah. Aku melihat Omar sedang mengeluarkan motor listriknya, menutup pintu pagar, lalu pergi.
Tiba-tiba mataku terasa berair.
Saat pengantin baru, Omar selalu mengawali harinya dengan salat Subuh di masjid.
Dulu semua itu kuanggap biasa saja. Sering Omar keluar rumah, tanpa ku antar sampai depan pintu. Tapi sekarang, rasanya aku ingin melihat setiap gerakannya. Sekecil apa pun itu.
Hari pertama kami di mulai, aku menghitung mundur angka 30.
Setelah menunaIkan salat Subuh, aku segera membuat sarapan sederhana untuk Omar. Nasi dengan semur ayam. Menyiapkan sarapan selalu kulakukan setiap hari, tapi setahun belakangan ini, Omar hanya melirik sekilas lauk yang kusiapkan, tanpa menyentuhnya.
Sambil menunggu Omar datang dari masjid, aku duduk di ruang tengah sambil terus memandangi cctv.
Ketika kulihat motor berhenti di depan rumah, aku berdiri dari duduk dan mendekat ke pintu masuk, menunggu Omar muncul dari balik pintu.
Ada getaran halus di dadaku. Rasaku tidak pernah berubah pada Omar. Dulu rasa itu berbalas, tetapi di tahun-tahun terakhir pernikahan kami, aku seperti merasakan cinta sendiri.
“Assalamualaikum. Sudah pulang?” Sapaku sambil tersenyum begitu Omar muncul dari balik pintu.
Matanya terlihat sedikit membelalak. Menyambutnya di depan pintu, kebiasaan yang dulu aku lakukan di awal pernikahan kami, dan sudah lama kutinggalkan.
“Waalaikumsalam,” katanya, berjalan melewati tempatku berdiri, lalu naik ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Omar turun dari tangga dengan pakaian kantor yang sudah rapi. Kemeja putih bergaris biru dan celana biru tua yang serasi.
“Berangkat,” ucapnya singkat.
“Makan dulu,” kataku mengingatkan.
Ia menoleh ke arahku sekilas, membuang nafas kasar, tapi menuruti permintaanku. “Sedikit saja!” katanya, ketus.
Kupandangi Omar yang sedang menikmati sarapannya dalam diam.
“Sudah,” kata Omar begitu nasinya habis di piring.
Aku tertawa geli dalam hati. Sikap Omar mengingatkan aku seperti anak kecil yang dipaksa sarapan ibunya.
“Pamit.” Ia beranjak dari duduknya.
“Iya,” jawabku, kaku.
Dengan cepat Omar mengambil kunci mobil BMW X1. Aku mengikuti langkahnya, mengulurkan tanganku, mengambil tangannya untuk kucium. Salim.
“Ehhh ….” Omar menarik tangannya, cepat.
Aku tersentak.
“Aku mau cium tangan …,” kataku dengan suara pelan mirip gumaman.
Dengan kikuk, Omar mengulurkan tangannya ke hadapanku. Kuraih tangannya yang terulur, lalu kucium dengan takzim.
Sudah sekaku itu hubungan pernikahan kami. Padahal saat awal menikah, aku selalu mencium tangan Omar setiap akan berpisah meskipun hanya sebentar.
Judul: Kulepas Suamiku Setelah 30 Hari
Penulis: Kandiasri
Baca selengkapnya di K B M app















































