ISTRI TAK KASAT MATA 7
7.
“Kenapa kamu di rumah? Kenapa nggak sekolah?” suaranya keras, ditujukan ke arah Mihrimah yang baru saja muncul dari dapur.
Mihrimah membersihkan tangannya di celemek. “Dia mau lihat kamu berangkat, Bi. Mogok sekolah.”
“Mogok sekolah? Dan kamu izinkan?” Ghazi mendekat, suaranya semakin tinggi. “Kamu nggak bisa mendidik a n a k, ya? Jadi manja gini?”
“Dia bukan manja. Dia cuma kangen sama Abinya. Sudah lama kamu nggak ada waktu untuk mereka.”
“Aku kerja untuk mereka! Setiap hari! Kalau aku nggak kerja, mana ada u a ng buat sekolahnya, buat makan, buat mainan yang menumpuk di kamarnya?”
“U a ng bukan segalanya, Bi. Mereka butuh kamu. Butuh waktu. Butuh pelukan.”
“Waktuku habis untuk cari u a ng! Kalau aku habiskan waktu untuk pelukan, siapa yang cari u an g? Kamu?”
Kalimat itu seperti tamparan. Mihrimah menahan gejolak di d a d a nya. “Aku nggak minta setiap hari. Cuma… sesekali. Sudah berbulan-bulan kita nggak jalan-jalan bersama. Mereka cuma minta lihat kamu berangkat hari ini.”
Ghazi menghela nafas panjang, memutar badan, mengambil koper yang sudah ditaruh Sari di dekat pintu. “Aku nggak punya waktu untuk hal-hal kecil seperti ini. Mereka harus paham. Dan kamu harus bisa mengajari mereka.”
“Bi, tunggu…” Mihrimah mencoba menahan, tapi Ghazi sudah membuka pintu.
Qa’id, yang selama ini diam menyaksikan, tiba-tiba berlari kecil. “Abi, salim!”
Ia mengulurkan tangan kecilnya. Ghazi berhenti sejenak, melihat tangan itu, lalu dengan cepat menepuknya sekilas tanpa menunduk. “Iya. Abi pergi dulu. Jadi anak pinter, ya.”
“Abi bawain oleh-oleh!”
“Iya, nanti.”
Dan dengan itu, Ghazi melangkah keluar, masuk ke mobil, dan menghidupkan mesin. Qa’id berdiri di teras, tangan yang tadi di salim masih terangkat, matanya mengikuti mobil yang perlahan menjauh, sampai hilang dari pandangan.
Mihrimah tidak bisa diam lagi.
“Sar,” panggilnya, suaranya tiba-tiba tegas. “Tolong temani Qa’id dan Haura bermain di taman belakang. Aku ada urusan di ruang kerja.”
Sari mengangguk, mengambil tangan Qa’id yang masih diam. “Ayo, Kak, kita main gelembung sabun di belakang.”
Setelah mereka menghilang ke arah belakang rumah, Mihrimah berjalan menuju ruang kerja Ghazi. Sebuah ruangan yang selalu terkunci, tapi kuncinya disimpan di balik vas bunga di rak dekat pintu—rahasia kecil yang ia ketahui karena dulu ia yang menata ruangan itu.
Ia mengambil kunci, membuka pintu, dan masuk.
Ruangan itu berbau kopi dan kayu. Rapi. Terlalu rapi. Meja kerjanya besar, dengan dua monitor komputer, beberapa tumpukan dokumen, dan sebuah laptop tertutup. Mihrimah duduk di kursi ergonomis yang mahal itu, merasakan keasingan yang aneh. Ini adalah pusat kendali “Ghiza Gourmet”, dan ia merasa seperti penyusup.
Ia menghidupkan komputer. Password. Tentu saja. Ia mencoba beberapa kombinasi—tanggal lahir anak, tanggal pernikahan, nama brand—tapi tidak berhasil. Ia menghela nafas, beralih ke tumpukan dokumen fisik.
Ada laporan penjualan bulanan, daftar gaji karyawan, invoice dari supplier lama. Semuanya normal. Tapi saat ia membuka folder laporan keuangan yang lebih detail, sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah lembaran print out, judulnya “Rekap Pengeluaran Personal bulan April”. Ia membacanya dengan cepat. Daftar itu berisi transfer rutin untuk kebutuhan rumah, tapi ada beberapa item yang mencolok.
Mihrimah membeku. Tangannya mengepal kertas itu hingga berkerut.
Butik. Perhiasan. Salon.
Dia tidak pernah menerima paket dari butik mana pun. Tidak ada perhiasan baru di lemari perhiasannya yang sederhana. Dan ia sudah bertahun-tahun tidak pergi ke salon, ia potong rambut sendiri di rumah.
Darahnya berdesir di telinganya. Semua prasangka, semua firasat buruk, semua kejanggalan yang ia coba tepis dengan istighfar, kini berbaris rapi dalam bentuk angka-angka di atas kertas. Nyata. Terang benderang.
Ini bukan lagi tentang pesan singkat yang mencurigakan. Ini tentang uang yang mengalir keluar, besar, untuk sesuatu—atau seseorang—yang bukan dia.
****
Baca selengkapnya di K-B-M app…
Judul : Istri tak Kasat Mata
Penulis : Tri_arba03










































































