ISTRI TAK KASAT MATA 2
Membalas
“Rim, kamu di mana?”
“Di rumah. Kenapa, Nov?”
“Aku… aku lihat Ghazi. Di Grand Hotel, yang dekat alun-alun. Ada seminar food and beverage.”
Mihrimah menelan ludah. “Oh, iya? Tapi Mas Ghazi katanya ada meeting dengan supplier di luar kota.”
“Tapi… aku melihatnya disini, Rim. Dia sama seorang wanita, Rim. Aku kira kamu, soalnya dari belakang agak mirip. Tapi pas diajakin ngobrol sama temanku yang jadi panitia, ternyata… bukan kamu. Wanitanya nggak berhijab.”
Dunia di sekitar Mihrimah seolah bergerak lambat. Suara Novi teredam, tapi setiap kata me n u s u k dengan jelas.
“Mungkin rekan bisnis, Nov. Supplier.”
“Rim, aku nggak mau ikut campur, tapi… cara mereka jalan terlalu dekat. Aku fotoin aja ya, buat jaga-jaga. Aku kirim.”
Blink. Notifikasi masuk. Sebuah foto.
Mihrimah membukanya. Layar ponsel menampilkan gambar yang cukup jelas: Ghazi, dengan kemeja biru langit yang ia kenal—kemeja yang ia setrika pagi tadi. Di sampingnya, seorang wanita dengan rambut panjang tergerai, mengenakan dress putih sederhana tapi terlihat mahal. Mereka sedang berjalan menuju pintu ballroom. Jarak antara mereka tipis. Sangat tipis.
Tapi yang membuat napas Mihrimah tercekat adalah tangan Ghazi. Tangan kanannya, yang biasanya ia pegang, sekarang berada di punggung wanita itu, m en y e n t u h lembut, memandu.
Ia mencengkram ujung meja kerja Ghazi hingga buku-bukunya memutih. D a d anya berdegup kencang, berd es i r, seperti ada sesuatu yang ingin keluar tapi tersangkut. ‘Astaghfirullah… ini benar-benar terjadi.’ Firasat yang ia usir-usir, yang ia lawan dengan istighfar, kini berdiri nyata dalam ponsel.
“Rim? Kamu masih di sana?”
“Aku… aku di sini. Makasih, Nov. Share lokasi tepatnya. Aku… aku mau ke sana.”
“Kamu yakin? Jangan-jangan…”
“Aku yakin aku harus melihat sendiri. Tolong, Nov.”
Di lobi hotel, suasana seminar terlihat ramai. Banner besar bertuliskan “Food & Beverage Business Summit: Scale Your Brand”. Orang-orang berbusana rapi lalu lalang, membawa name tag. Mihrimah merasa seperti ikan di luar akuarium.
Tapi Novi sudah menunggu di dekat pintu masuk ballroom, wajahnya cemas. Begitu melihat Mihrimah, ia segera menyambut.
“Rim, kamu beneran datang.”
“Di mana dia, Nov?”
Novi memandangnya dengan m a t a penuh kasihan. “Aku antar kamu. Tapi… siapin h a t i, ya.”
Novi membawanya melalui pintu samping, masuk ke area ballroom yang sudah dipenuhi kursi. Suara speaker menggelegar, presenter di panggung sedang memaparkan grafik. Tapi Mihrimah tidak mendengar apa-apa. M a t anya menyapu ruangan, mencari.
Dan Novi menunjuk. Ke arah pojok kanan, dekat jendela besar.
Di sana, di sebuah meja bundar kecil untuk empat orang, duduk Ghazi. Dan di sebelahnya, wanita dari foto tadi. Mereka tidak sedang mendengarkan seminar. Mereka sedang asyik berdua. Ghazi membungkuk, berkata sesuatu di dekat telinga wanita itu. Wanita itu lalu tertawa, menepuk lengan Ghazi dengan lembut. Lalu, dengan gerakan yang sangat natural, sangat akrab, Ghazi mengangkat tangannya dan mengelus rambut wanita itu, menyisir helai yang jatuh di w a ja hnya.
Sentuhan itu. Lembut. Penuh keakraban. Bukan sentuhan rekan bisnis.
Mihrimah berdiri kaku di balik tiang dekorasi, tangan menekan d a d a nya yang sesak. Dunia di sekelilingnya sepi tiba-tiba. Yang ia lihat hanya gambar itu: suaminya, yang pagi tadi berkata akan meeting supplier, yang selama ini beralasan menjaga ‘ain, yang melarangnya ikut penghargaan—kini duduk mesra dengan wanita lain, di tempat umum, tanpa sedikitpun rasa takut.
Dan saat wanita itu menoleh, tertawa lebih lebar, Mihrimah bisa melihat dengan jelas wajahnya. Cantik. Segar. Dan di lehernya, tergantung sebuah kalung emas dengan liontin mutiara yang sangat ia kenal—jenis yang sama dengan yang tertera di laporan ke u a n g a n: Toko Perhiasan “Mutiara”.
****
Baca selengkapnya di K-B-M app…
Judul : Istri tak Kasat Mata
Penulis : Tri_arba03





























































