20 Tahun Tanpa Ayah (3)
Aku memejamkan mata sesaat di balik kacamata medisku yang mulai berembun. Jantungku bertalu begitu hebat, menciptakan rasa ngilu.
*Pria ini... pria tua yang sekarat di hadapanku ini adalah Harun. Laki-laki yang fotonya sudah lama dibakar oleh Ikhlas, namun wajahnya tetap terpatri sebagai monster dalam mimpi buruk masa kecilku.*
"Dokter Kasih? Infus RL-nya sudah siap. Mau langsung dipasang jalur sekunder?" suara Perawat Nisa memecah kekosongan, menarikku kembali ke realitas yang kejam.
Aku berdeham kecil, mencoba menstabilkan pita suaraku yang mendadak kaku.
"Ya, pasang jalur sekunder. Guyur satu kolf dulu, pantau *mean arterial pressure* (MAP). Dia dehidrasi berat setelah tiga hari terjebak."
Aku melangkah mendekat.
Di atas tandu, Harun mengerang lirih. Kulitnya yang dulu bersih kini tampak legam, keriput, dan dipenuhi luka baret akibat gesekan material longsoran.
Lelaki tua itu membuka matanya yang sayu dan bengkak akibat infeksi tanah. Ia menatapku kosong, mengerang kesakitan tanpa mengenali bahwa dokter berhijab yang ada di hadapannya adalah putri kecil yang dulu ia tinggalkan tanpa belas kasihan.
"Dok... ter..." suara itu keluar dari celah bibirnya yang pecah-pecah dan kering hingga berdarah. Matanya yang sayu bergetar, mencoba terbuka, menatap nanar ke arah langit-langit tenda yang remang-remang.
"Tolong... sakit... tolong saya, Dok..." rintihnya dengan suara parau yang amat lemah, menggapai-gapai udara dengan tangannya yang kotor dan penuh luka.
Aku terdiam. Tanganku yang terbungkus sarung tangan lateks steril menggantung di udara. Ada dorongan kuat dalam diriku untuk berbalik arah, keluar dari tenda ini, dan membiarkan takdir menyelesaikan tugasnya pada pria yang telah membuang kami.
*Bukankah ini balasan yang setimpal? Dia membiarkan Ibu banting tulang dan bertaruh nyawa dulu, dan sekarang dia berada di ambang maut tanpa ada Siska atau anak kesayangannya di sisinya.*
Namun, sumpah hippokrates yang kuucapkan di bawah kitab suci bertahun-tahun lalu seperti mengikat leherku. Aku adalah seorang dokter. Di tempat ini, aku bukan Kasih yang terluka; aku adalah kepanjangan tangan Tuhan untuk menyelamatkan nyawa.
"Pak, bisa dengar suara saya? Jangan banyak bergerak dulu. Anda aman sekarang," ucapku. Suaraku sengaja kubuat sedatar mungkin, menyembunyikan getaran emosi yang membuncah.
Masker N95 yang membekap wajahku serta hijab instan yang menutup rapat kepala dan leherku benar-benar menjadi perisai yang sempurna. Dia tidak akan pernah tahu.
Harun mengerang lebih keras saat aku menyentuh tulang kering kaki kanannya.
"Aakhh... s-sakit, Dok... kaki saya..."
Aku menyingkap celana kainnya yang sudah robek-robek. Sontak, Perawat Nisa yang berada di sampingku memekik kecil sambil menutup mulutnya.
"Astagfirullah, Dok... ini crush injury-nya parah sekali."
Kaki kanan Harun mengalami deformitas yang mengerikan. Jaringan ototnya tampak menghitam akibat pasokan darah yang terhenti selama tiga hari tertimbun beton dan tanah. Bau jaringan mati (nekrosis) mulai menguar. Ini adalah kondisi kritis yang bisa memicu syok sepsis atau gagal ginjal akut jika racun dari otot yang rusak menyebar ke seluruh tubuh.
"Nisa, ambilkan kit bedah minor dan sediaan ketorolac injeksi. Kita harus bersihkan debridemen awal di sini sebelum dirujuk ke RS pusat kabupaten," perintahku cepat, mencoba mengalihkan seluruh fokus otaknya ke mode medis murni.
Saat aku mulai membersihkan sisa lumpur yang mengerak di sekitar luka menganga di pahanya, air mata Harun menetes, membasahi pelipisnya yang beruban.
Tubuhnya yang kurus bergetar hebat karena menahan sakit yang luar biasa tanpa pembiusan yang adekuat.
"Dok... s-saya... saya belum mau mati..." bisik Harun, suaranya parau, terputus-putus oleh napasnya yang pendek. "Anak saya... saya harus ketemu anak saya..."
BACA DI KBM APP YA
JUDUL : 20 TAHUN TANPA AYAH
PENULIS : TRIANAR






































