DIAMBANG PINTU (1)
Klikbait: Setelah sekian lama pergi, istriku pulang membawa bayi.
----
Bab 1
“Kenapa Bapak membiarkan Emak pergi?”
Jika ada satu pertanyaan yang tak ingin didengar oleh Tambir itu adalah pertanyaan Giri. Pertanyaan yang sesungguhnya berkali-kali ia lontarkan pada dirinya sendiri.
Dan malam ini, seperti malam-malam yang lain, Tambir masih menunggu Darsi. Dari teras rumahnya yang berdiri sendirian di ujung jalan setapak yang membelah ladang, ia hapal betul siapa saja yang lewat.
Tambir pernah menjual kambing dan mencari ke Jakarta, barangkali Darsi ada di sana seperti orang-orang desanya yang sukses bekerja. Ia naik bus, turun di terminal Pulogadung, dan lelaki itu semakin bingung, ke mana mencari Darsi di kota yang tak pernah tidur itu?
Pada akhirnya Tambir memilih menunggu. Ia memasang lampu di ujung jalan dengan harapan kalau-kalau Darsi pulang malam, perempuan itu tidak perlu meraba-raba di kegelapan.
"Hari ini Bapak sudah doa?" Satu lagi pertanyaan yang sering dilontarkan Giri.
Bocah sepuluh tahun itu duduk mengayunkan kaki di atas lincak bambu.
"Bapak selalu doa," jawab Tambir. Tentu saja dia tidak bohong. Sebab, apalagi yang mereka miliki selain doa?
Bagi Tambir, doa itu seperti menancapkan batang-batang singkong di ladangnya, sisanya biar cuaca yang bekerja. Sayangnya, belakangan, musim paceklik di dada Tambir terasa begitu panjang.
“Tidur saja dulu, biar besok tidak ngantuk di sekolah,” kata Tambir.
Giri menguap, kemudian menaruh kepalanya di pangkuan Tambir.
Tambir menghela napas panjang. Lalu suara demi suara dalam kepalanya mulai menyalahkan dirinya. Seharusnya saat itu Tambir melarang istrinya, kemudian ia yang pergi. Sayangnya Tambir selalu sangsi, merantau ke kota dengan kemampuan mencangkul siapa yang akan menerimanya?
“Aku pergi bukan untuk mencari kesenangan pribadi. Aku pergi untuk masa depan Giri,” begitu ucap Darsi saat berpamitan ada lowongan bekerja sebagai pengurus rumah.
Namun, jangankan kiriman gaji, sekadar surat yang mengabarkan Darsi telah sampai saja, Tambir tak pernah menerima. Penyesalan, harga diri yang hilang, rasa bersalah, seperti sulur-sulur liar yang membelit diri Tambir.
Sisa-sisa percakapan memudar dari kepala Tambir. Malam telah menangkup sepi. Tambir mengangkat Giri yang tertidur di pangkuannya, memindahkan bocah itu ke kamar dan menyelimutinya dengan sarung. Maka dibiarkannya pintu itu terbuka.
Menjelang subuh Tambir baru terlelap sebentar, kemudian bangun dengan kepala berat. Ia harus ke dapur, memasak sarapan dan bekal untuk Giri.
Di luar masih berkabut, ketika Tambir membuang air sisa cucian piring semalam. Tidak lupa ia memandang ke ujung jalan, berharap ada sosok yang datang.
Dan benar, ada yang bergerak dari keremangan. Makin dekat, semakin jelas. Tambir mengucek mata. Memastikan ketajaman penglihatannya. Bayangan itu tidak hilang.
Bibir Tambir kelu seketika.
Sosok itu, ia mengenalnya. Itu benar-benar Darsi istrinya, berdiri dengan rambut yang diikat asal-asalan.
"Lho, Emak pulang?" Giri berlari melewati tubuh Tambir. Anak itu menubruk Darsi. "Emak!"
Tepat saat itu, suara lain terdengar memecah pagi.
Suara tangis bayi, dari gendongan Darsi.
Napas Tambir tertahan. Matanya baru sadar kalau ada buntalan kain jarik yang didekap erat-erat di dada Darsi. Buntalan itu bergerak-gerak.
Air mata Darsi menggarisi pipi. "Sepurane, Kang...." bisiknya gemetar.
Tambir terpaku. Darsi benar-benar kembali, berdiri nyata di depannya. Perempuan itu masih istrinya. Tapi bayi yang digendongnya ... anak siapa?[]
DI AMBANG PINTU, Penulis Shabrinaws
Sudah tamat di KBM Aplikasi













