TERPAKSA MENIKAHI PACAR SAHABAT (2)
"Kutunggu dudamu, Mas," ucap Marta sambil meme luk pria di sampingku saat kami masih berdiri di pelaminan hari ini
Gadis bo-hay itu menatapku nanar, tangannya menggenggam Mas Rio. Prai yang beberapa jam sah menjadi suamiku pun membalasnya tak kalah mes ra. Air mataku luruh menyelami kesedihan mereka
Cemburu? Tentu saja tidak. Kutahu mereka pacaran, bahkan sering kutemani ketemuan. Toh, kami sahabatan
Aku dan Mas Rio dijodohkan, ayah kami sahabatan sejak kecil. Anehnya, perjodohan itu berlangsung sejak orok katanya. Hingga di sinilah kami terjebak situasi rumit
Semua tatap mata teman-teman dan orang-orang yang tahu tentang soal ini ikut mengadili, seakan memvonis akulah sahabat tak punya nurani
"Dasar pagar makan tanaman!"
"Nggak punya malu."
"Bu-ang aja ke laut."
"Mending bestian monyet sekalian"
Berbagai huja tan netizen muncul, meski ada jg mmbela saat mengaktifkan gawaiku seusai pernikahan mewah hari ini
Ternyata ribuan komen nyi nyir muncul saat fotoku tadi siang diunggah di FB dgn caption, 'Sahabatku Mengambil Calon Suamiku'. Entah siapa pengaplodnya, sungguh bagus judul itu disinetronkan
"Kamu pu as sekarang?" Mas Rio muncul penuh amaarah, tp tak mengurangi ketampanannya sama sekali
"Untuk?" jawabku sembari menarik guling memberi ruang di sampingku yg masih dipenuhi bunga. Ada setitik harap dia berubah pikiran, meski tahu sangat mustahil
"Kupastikan pernikahan b*doh ini nggak lama, lalu kuakan kembali ke Marta," lanjutnya penuh penekanan, lantas mengambil selimut dan bantal, kemudian menggelarnya di depan TV
Kenapa juga dia bersikap lebay gitu? Bukannya kita sama-sama tak mampu menolak keputusan ini? Hellow, apa dia pikir kutak punya cita-cita? Apa dia kira kutak punya pria idaman? Apa...? Ah, sudahlah!Toh, nyatanya kutlah jadi istri dari pria yg kupastikan tak mengharapku
"Belum bisa tidur?" tanyaku saat suami tak kuharap itu bolak-balik bak roti gulung dan mengganti chanel TV berulang-ulang. Entah siaran apa dicarinya. Sekamar sekarang pun dipastikan sbgai formal pelengkap rangkaian pernikahan utuh di depan keluarga. Sungguh pembohongan sempurna
"Hmm...," jawabnya tanpa membalikkan badan
Sejak kutahu perjodohanku dengannya, tak pernah membayangkan malam pertama. Dia bereaksi begitu walau sangat datar, sudah kesyukuran. Setidak kumerasa tidak bersama patung di malam pengantin
**
Sebulan di rumah Mas Rio, mungkin ini istana perencanaannya bersama Marta setelah menikah. Terlihat penataan khas wanita. Artistik dan elegan
Kami seatap, tp berbeda kamar. Itu jugalah penyebab dia berkeras memboyongku keesokan hari setelah akad dgn alasan bulan madu. Tak apalah, itu lebih baik daripada di tempat org tua, tp harus berlagak mes ra Sungguh menyiksa jd pendrama, berakting bahagia walau hati menangis
"Pakaian Mas kusiapin di tempat biasa," ujarku menyendokkan nasi di piringnya. Walau kami tak layak disebut suami- stri, tp kuselalu mengurus makan, pakaian, dan rumahnya. Hanya Allah yg tahu di mana akhir rutinitas ini berlangsung
Mas Rio mengangguk sembari fokus ke ponselnya. Siapa lagi diajaknya chatingan klu bukan Marta. Hampir sepulang kerja bahkan berangkat lagi ke kantor mrk nonstop berkomunikasi
Kutak tahu kapan dia tertidur, yg pasti dan jelas telingaku mendengar ha ha hi hi mrk yg bersekat dinding sampai kuterlelap, bahkan suara itu kadang membangunkanku di kala Subuh
*baca lengkap kisahnya di kbm app
jdl: terpaksa menikahi pacar sahabat
pnulis: kafom ana























































