Ratusan Elpiji 3 Kg Diduga Diamankan di Bone, Polisi Belum Beri Keterangan
Bone, Global Terkini- Aparat Polres Bone diduga mengamankan dua unit mobil pickup bermuatan ratusan tabung gas elpiji subsidi 3 kilogram yang disinyalir akan dikirim ke Morowali, Sulawesi Tengah.
Seorang sopir yang mengaku bernama Amal menyebut elpiji tersebut berasal dari Kabupaten Bulukumba. Berdasarkan pengakuannya, gas bersubsidi itu dibeli dari pangkalan dengan harga sekitar Rp20 ribu per tabung, lalu dijual kembali ke Morowali dengan harga Rp39 ribu hingga Rp40 ribu.
“Saya beli juga dari pangkalan Rp20 ribu, baru mau kujual ke Morowali, di sana harga Rp39 sampai Rp40 ribu,” ujar Amal, Kamis 22 Januari 2026.
Amal mengungkapkan, pengiriman elpiji tersebut bukan kali pertama dilakukan dan disebutnya sebagai upaya untuk menambah penghasilan. Ia juga mengaku telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian terkait peristiwa tersebut.
“Ini sudah disuruh pulang lagi ke Bulukumba. Barang bukti disimpan,” terangnya.
Namun hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Bone belum memberikan keterangan resmi meski telah diupayakan konfirmasi oleh wartawan terkait pengamanan ratusan tabung elpiji subsidi tersebut
... Baca selengkapnyaKasus pengamanan ratusan tabung elpiji 3 kilogram di Bone ini menggambarkan betapa kompleksnya distribusi gas bersubsidi di Indonesia. Banyak pelaku yang memanfaatkan celah harga antara daerah untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga elpiji yang cukup signifikan. Dari pengakuan sopir, elpiji yang asalnya dari Bulukumba dibeli dengan harga Rp20 ribu per tabung, kemudian ingin dijual di Morowali dengan harga dua kali lipat, yakni sekitar Rp39 ribu hingga Rp40 ribu.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru dalam rantai distribusi elpiji subsidi. Banyak pengusaha atau oknum yang menjadikan gas tersebut sebagai komoditas untuk diperjualbelikan dengan keuntungan tinggi, tetapi merugikan masyarakat yang membutuhkan harga terjangkau. Hal ini tentu bertentangan dengan tujuan pemerintah memberikan subsidi terhadap elpiji agar dapat diakses oleh masyarakat berpenghasilan rendah.
Pengamanan oleh aparat di Bone bisa jadi merupakan bagian dari upaya menekan praktik illegal pengalihan elpiji ke luar daerah yang tidak sesuai prosedur, sehingga masyarakat di daerah asal elpiji sering mengalami kelangkaan. Selain itu, penjelasan sopir bahwa pengiriman ini untuk menambah penghasilan juga memberi gambaran bahwa sistem distribusi elpiji masih memungkinkan terjadinya penyimpangan, terutama karena adanya perbedaan harga yang besar antar wilayah.
Dari pengalaman pribadi, masalah distribusi elpiji subsidi sering menjadi persoalan pelik di beberapa daerah, terutama di daerah yang jauh dari kota besar. Kenaikan harga elpiji yang tidak wajar sering terjadi akibat para pengecer menaikkan harga demi keuntungan, bahkan kadang-kadang gas elpiji subsidi sulit ditemukan karena pengalihan ke daerah lain dengan harga lebih tinggi. Hal ini membuat masyarakat yang membutuhkan subsidi merasa dirugikan.
Oleh sebab itu, selain pengamanan fisik barang bukti oleh polisi, dibutuhkan juga pengawasan ketat dari pihak terkait termasuk Pertamina dan BPH Migas, serta pemerintah daerah agar distribusi elpiji subsidi tepat sasaran. Pelaku yang memanfaatkan celah ini harus diberi sanksi tegas agar praktik serupa tidak terus berulang dan dapat menjamin kelancaran distribusi gas elpiji murah untuk masyarakat yang benar-benar berhak.
Lebih jauh, penyelesaian masalah pengalihan elpiji ini juga perlu didukung dengan edukasi masyarakat dan peningkatan transparansi distribusi. Konsumen juga perlu lebih mewaspadai apabila menemukan harga elpiji subsidi yang jauh di atas harga eceran resmi, termasuk melaporkan ke aparat jika ditemukan indikasi pelanggaran.
Semoga pihak kepolisian segera memberikan keterangan resmi untuk memberikan kejelasan sekaligus memperkuat langkah-langkah penegakan hukum dalam kasus ini. Mengamankan elpiji subsidi adalah upaya penting untuk melindungi hak masyarakat lapis bawah dari praktik buruk yang merugikan dan mengganggu kestabilan harga kebutuhan pokok.