POV ARGA “Kenapa, Ga? Kenapa lo setega ini?” aku berbisik pada diriku sendiri, tapi suaraku terdengar pe cah, lirih, seolah t3nggelam dalam sesak yang menekan da da. Aku masih ingat. Dulu, saat aku sibuk dengan p 4sien-p4sienku, ia selalu membawakan bekal ke kantor. Bekalnya sederhana, nasi,