POV ARGA
“Kenapa, Ga? Kenapa lo setega ini?” aku berbisik pada diriku sendiri, tapi suaraku terdengar pe cah, lirih, seolah t3nggelam dalam sesak yang menekan da da.
Aku masih ingat. Dulu, saat aku sibuk dengan p 4sien-p4sienku, ia selalu membawakan bekal ke kantor. Bekalnya sederhana, nasi, tumis kangkung, telur dadar. Tapi caranya menatapku saat menyodorkan bekal itu, caranya tersenyum sambil berkata, “Makan ya, biar nggak sa kit,”—itulah yang membuatku merasa jadi lelaki paling beruntung.
Tapi, apa yang kulakukan sekarang? Me n g k hi a n a t inya, men g h a n c u r kan ha-tinya.
Aku membuka mata, menatap ke arah Risma yang masih meringkuk di bawah selimut. Ia tak berani menatapku. Entah apa yang ada di kep4lanya, aku tak peduli. Aku bahkan mvak pada diriku sendiri.
“Pergi aja,” kataku datar.
Risma menoleh sekilas. “Mas—”
“Aku bilang pergi!” suaraku meni-nggi. Aku tak ingin ada siapa pun di sini, apalagi dia. Yang kubutuhkan hanyalah waktu untuk me r o bek semua k e b o d o han yang kulakukan.
“Semoga bvru-ngmu tak bisa berdiri lagi, Arga!”
Da d aku semakin sesak. Aku tahu, itu keluar dari lvka yang begitu dalam. Lvka yang kubuat sendiri.
Namun di balik semua ini, ada alasan yang tak pernah bisa kuceritakan dengan jujur. Sesuatu yang me3ro n g ro ngku selama ini. Sesuatu yang bahkan membuatku merasa… tidak layak jadi suami Adelia.
Adelia terlalu sempurna.
“Mas, aku udah ba y ar b i a y a sekolah Ara ya.”
Aku menoleh padanya waktu itu, agak terkejut. “Kenapa nggak bilang ke aku dulu, Del?”
Adelia tersenyum kecil. “Kan aku juga punya uwang, Mas. Nggak apa-apa, uwang Mas bisa buat yang lain. Yang penting kebutuhan Ara aman.”
Sial. Bo d o hnya aku.
Aku mengusap wajah, air mataku mengalir tanpa s4dar. “Del… aku sa l ah…” gumamku.
Aku ingat saat ma l a m-ma l a m aku pulang larut, Adelia menungguku dengan secangkir teh hangat. Aku bahkan sering tidak mengucapkan terima kasih, hanya masuk kamar dan rebah tidur. Ia tidak pernah ma rah. Ia hanya menarik selimut menutupiku, lalu berbisik lirih, “Selamat tidur, Mas.”
Kenapa aku h4ncurkan itu semua?
Teleponku berdering. Ara. An akku. J4ntungku berdetak keras. Aku ta k u t mengangkatnya. Apa yang harus kukatakan jika suara kecil itu bertanya, “Papa di mana?”
Tanganku gemetar saat akhirnya kuangkat.
“Halo, Papa…” suara Ara terdengar. Lugu, polos, sama sekali tidak tahu apa yang terjadi.
Aku menutup mulut dengan telapak tangan, menahan isak. “Iya, Nak… Papa di sini.”
“Mama barusan telpon eyang uty nangis, Pah. Aya t4kut…” suaranya pelan, serak.
Da-daku diremas. Napasku seperti terhenti. “Ara… jangan takut ya, Nak. Jaga mama. Papa janji… papa bakal pulang.”
Tangisanku pecah setelah panggilan berakhir. Tu b u hku terhuyung, jatuh terduduk ke lantai. Aku ingin memeluk an akku, ingin meminta maaf pada Adelia, tapi aku tidak tahu apakah aku masih punya kesempatan.
“Del… aku rindu saat kamu bikin aku ngerasa berguna. Aku rindu saat kamu minta aku jagain kamu, rindu saat kamu bilang kamu bvtuh aku.”
Aku terisak, menunduk dalam-dalam. Suara Adelia kembali terngiang.
“Katakan padaku Arga! Salah apa aku ke kamu?!”
Tidak ada, Del. Kau tidak salah apa pun. Semua salahku.
Aku hanya lelaki b0doh yang ingin merasa dibvtuhkan, dan aku mengh4ncurkan orang yang paling kucintai demi rasa egois itu.
KBM APP
Bersambung
Baca selengkapnya di KBM APP
Judul : SAAT DOA ISTRI SAH MENYENTUH LANGIT
Penulis : Win'z













































