Sayang sekali kalau di sini tidak mencurahkan perasaan ya hehehe,,,
Mau nangis tapi rasanya 🥺 ah sudahlah aku ketik aja hehehee,,,, terimakasih yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca curhat yang tidak seberapa penting ini.
Dulu aku kira hidup yang sunyi itu sama dengan sepi dan kesepian. Aku takut menjauh, takut dianggap mundur. Tapi ternyata, menjauh dari hiruk-pikuk justru mempertemukanku dengan diriku sendiri.
Di sini, di tengah ketenangan halaman rumah, aku belajar mendengar hatiku lagi. Luka memang tidak hilang seketika, tapi pelan-pelan sembuh bersama angin, daun, dan langkah kecil yang tidak lagi tergesa.
Justru di sanalah aku menemukan damai yang selama ini kucari tanpa tuntutan, tanpa bising, hanya aku, keluarga kecilku, dan rasa cukup yang sederhana 🤍
Kalau kamu, sedang memilih bertahan di keramaian, atau mulai belajar menikmati hidup yang lebih tenang?
... Baca selengkapnyaKalau dulu ada yang tanya ke aku, “sunyi artinya apa sih buat kamu?” mungkin aku akan jawab: sepi, sendirian, nggak punya teman. Tapi setelah beberapa tahun terakhir memilih banyak di rumah, hidup lebih sederhana sebagai IRT 34 tahun, arti sunyi di kepalaku benar‑benar berubah.
Sekarang, buatku hidup sunyi itu lebih ke suasana hati. Bukan berarti nggak ada siapa‑siapa, tapi lebih ke nggak lagi mengejar keramaian yang bikin lelah. Di halaman rumah yang cuma ada pohon pisang, pohon rambutan, dan tumpukan sampah organik yang tiap beberapa hari dibersihkan, justru di sanalah aku merasa paling “penuh”. Penuh rasa syukur, penuh kesadaran, walau mungkin dari luar kelihatan biasa saja.
Kadang saat menyapu halaman, ditemani anak yang ikut pegang sapu kecilnya, aku merasa kesunyian itu menyertai langkahku. Menyertai artinya benar‑benar hadir, bukan cuma lewat. Sunyi ada di sampingku saat aku capek, saat lagi galau soal hidup, atau ketika tiba‑tiba pengin nangis tanpa alasan yang jelas. Dalam kesunyian itu, suara-suara lain yang dulu menekan: omongan orang, ekspektasi, perbandingan hidup, jadi pelan-pelan mengecil.
Dalam kesunyian, aku jadi lebih jujur sama diri sendiri. Aku berani mengakui kalau ternyata aku lelah pura‑pura kuat. Aku berani mengakui kalau luka lama masih ada, tapi kini rasanya mulai ditimang pelan‑pelan oleh angin sore yang lewat di sela daun pisang. Di titik ini, aku sadar: hidup sunyi bukan berarti hidup gagal. Justru di fase ini aku belajar menerima diri, menerima kondisi, dan mensyukuri keluargaku yang mungkin kecil tapi hangat.
Kalau kamu lagi ada di fase serupa—lebih sering di rumah, jauh dari hiruk‑pikuk, atau merasa hidupmu “biasa saja”—coba pelan‑pelan tanyakan ke dirimu sendiri: apa betul kamu kesepian, atau sebenarnya kamu sedang diajak hidup lebih tenang? Kadang kita hanya perlu duduk sebentar di halaman, melihat daun yang gugur, mendengar suara anak tertawa, dan membiarkan hati ikut diam. Di situlah, dalam kesunyian yang tampak sederhana, damai perlahan datang menyertai tanpa kita paksa.
malah enak kak hidup tenang tak berisik damai ya kak🤩