Al-Baqarah 2:58-61
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Surah 2:58-61 Al-Baqarah (Sapi)
Sholawat semoga senangtiasa tercurah kepada baginda nabi besar Muhammad SAW.
Allâhumma shalli 'alâ Muhammadin wa 'alâ âlihi wa sallim. Semoga shalawat menjadi bagian dalam keseharian kita.
Quran Everyday (Ngaji setiap hari)
Belajar ngaji al qur'an
Learn to read the Quran
Doa untuk Indonesia tercinta:
رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا بَلَدًا
Ya Tuhanku jadikanlah negeri ini yang aman
Alhamdulillah,
Semoga Allah SWT membuka pintu HidayahNya, aamiin
Dengan mengharap ridho Allah SWT semata mari kita semangatkan membaca al-Quran setiap hari, jadikanlah Alquran membumi dalam diri kita.
Doa untuk saudara-saudara kita di Palestina
Allahumma najji ikhwanan al mu'mininal mustadhafina fi Falisthin wafi kulli makan.
Ya Allah jadikanlah kami, istri-istri kami, anak-anak kami dan keturunan kami selalu mencintai mu ya Allah, mencintai nabi Muhammad SAW dan nabi lainnya, mencintai Al-Qur'an dan Islam serta sesama mahlukMu.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةٌ تُحْيِي بِهَا رُوحِي، وَ تُوَفِّرَ بِهَا فُتُوحِي، وَ تَرفَعَ بِهَاحَاجَاتِ ، وَتُنَوْرَ بِهَا قَلْبِي
"Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammadin Sholatan tuhyi biha Ruhi, wa tuwafiru biha futuhi wa tarfa'u biha hajati, wa tunawwiru biha Qolbi"
Prophet Muhammad never said he was Sunni, he only gave us the Sunnah. Prophet Muhammad never said he was Shia but through his daughter Fatimah gave us Hasan and Hussein, the Prophet never said he was Hanafi, Sufi, it's all made up, so be yourself first as a Muslim who submits only to Allah Azza wa Jalla
Semoga Allah tambahkan rezekinya dan limpahkan kesehatan dengan memutar dan ikut bertilawa Al-Qur'an, selalu bershalawat kepada baginda nabi Muhammad SAW, serta membagikan video ini, juga semoga para Qari' dan pembuat aplikasi mendapat pahala disisi Allah SWT aamiin🙏"
Belakangan ini aku lagi coba konsisten baca dan tadabbur Al-Qur'an, dan salah satu yang paling bikin mikir adalah Surat Al-Baqarah ayat 58-61. Selama ini aku cuma lewat aja kalau baca, tapi begitu benar-benar dibaca terjemahannya, ayat ini ternyata sangat dekat dengan kehidupan kita sekarang. Di ayat 58, Allah menceritakan perintah agar Bani Israil masuk ke satu negeri, makan rezeki yang ada di sana dengan nikmat, sambil sujud dan mengucap kata yang menunjukkan permohonan ampun. Dari sini aku belajar dua hal: pertama, nikmat itu bukan cuma untuk dinikmati, tapi harus disyukuri dengan sikap tunduk (sujud) dan istighfar. Kedua, ucapan itu penting. Allah memerintahkan mereka mengucapkan kata tertentu, tapi orang-orang yang zalim malah menggantinya dengan ucapan lain. Kadang kita juga begitu: nikmat banyak, tapi lisan malah mengeluh, bukannya zikir. Di ayat setelahnya, diceritakan bagaimana ketika Musa memohon air untuk kaumnya, Allah perintahkan beliau memukul batu dengan tongkat, lalu memancarlah dua belas mata air. Yang menarik buatku, setiap suku punya tempat minum masing-masing. Ini mengingatkan aku kalau rezeki setiap orang sudah diatur Allah. Tugas kita bukan iri dengan "mata air" orang lain, tapi menjaga amanah di bagian kita masing-masing, sambil tetap makan dan minum dari rezeki Allah tanpa membuat kerusakan di bumi. Lalu pada ayat 61, Bani Israil mengeluh soal makanan yang itu-itu saja dan minta yang lebih beragam: sayur-mayur, mentimun, bawang, dan lainnya. Sekilas permintaannya terdengar wajar, tapi ternyata masalahnya adalah sikap: mereka menukar sesuatu yang lebih baik dengan yang lebih rendah. Di titik ini aku merasa tertampar. Berapa sering kita bosan dengan nikmat yang sudah ada, lalu merasa "rumput tetangga lebih hijau"? Pekerjaan, pasangan, keluarga, bahkan ibadah. Padahal yang perlu diubah sering kali bukan nikmatnya, tapi hati kita sendiri. Kenistaan dan kemurkaan yang disebut di akhir ayat itu bukan cuma cerita masa lalu. Itu peringatan buat kita tentang akibat kufur nikmat, mengingkari ayat-ayat Allah, dan melampaui batas. Cara paling sederhana menghindarinya menurutku adalah menjaga tiga hal: syukur, sabar, dan taat. Syukur saat diberi kelapangan, sabar saat diuji, dan taat ketika ada perintah yang mungkin tidak sepenuhnya kita pahami hikmahnya. Sebagai penutup, aku juga sering menghubungkan ayat ini dengan ayat terakhir Al-Baqarah (ayat 286) yang mengajarkan doa agar Allah tidak membebani di luar kemampuan kita dan memohon ampunan-Nya. Setelah membaca kisah Bani Israil yang banyak mengeluh, aku jadi lebih sering membaca doa di akhir surat Al-Baqarah ini, sambil berharap bisa menjadi hamba yang lebih ridha, bukan hamba yang selalu merasa kurang. Kalau kamu lagi belajar Al-Baqarah juga, coba deh baca ayat 58-61 sambil lihat terjemahan dan bayangkan ini nasihat langsung untuk hidup kita hari ini.


























